Santa Hollow

HAMPA

Jumat 25 Desember menjadi natal yang ke lima belas bagi Dendrik. Dan natal tahun ini terasa hampa, tanpa ada bahagia, seolah kosong tidak ada artinya.

Ibunya Cally sibuk dengan usaha makanan yang dijalankannya. Apalagi saat memasuki natal, orderan semakin membanjiri. Kemudian ayahnya Zura sibuk dengan urusan kantor yang tidak ada habisnya.

Dendrik mengambil hiasan natal tahun lalu di loteng dan kembali memasangnya di ruang keluarga. Renda warna-warni mulai dipasang satu-persatu. Namun, tidak ada pohon natal untuk tahun ini. Zura terlalu sibuk dan tidak sempat memesan satu pohon cemara untuk keluarganya.

Saat malam tiba Cally tertidur begitu juga Zura suaminya. Mereka terlalu lelah dengan urusannya tadi siang.

“Astaga!” Dendrik terbangun dari mimpi buruknya, lalu duduk tegak dan diam untuk sesaat. Perlahan Dendrik melihat jam menunjukkan waktu 00:20. Dendrik tetiba merasa haus dan beranjak pergi ke dapur. Lampu sensor gerak 7 LED 360 Derajat menyala secara otomatis saat Dendrik menuruni tangga. Dapur pun sama, seketika menyala saat Dendrik memasuki ruangannya.

Dinding dapur yang terbuat dari keramik dengan warna biru kegelapan berpadu dengan cat putih yang mampu membuat dapur terlihat semakin elegan. Perpaduan biru tua yang dominan dan putih juga memberikan nuansa yang terkesan bersih kepada dapur. Di sudut kiri terdapat tempat mencuci piring. Kemudian, sebuah kompor gas yang dilengkapi gas di bawahnya. Tidak jauh dari tempat memasak diletakan sebuah tempat sampah. Lalu ada langit-langit yang sengaja diberi lubang untuk keluar masuk udara. Lantai dengan warna netral, abu-abu. Rak tempat alat-alat dapur yang terbuat dari kayu berwarna coklat terletak di sebelah kulkas.

Dendrik mendekati tempat air minum yang berada tepat di dekat jendela. Perlahan menuangkan air ke gelas favoritnya. Tirai yang tersingkap membuat Dendrik melihat sosok utama dalam perayaan natal. Tidak mungkin! Dendrik menganga tidak percaya. Gelas di tangannya lepas dan hancur seketika. Sosok yang tengah berjalan di luar dengan membawa tas besar itu berhenti. Melihat ke arah Dendrik dan melambai. Dendrik tertawa bahagia. Segera dia membuka tirai sepenuhnya, lalu berusaha membuka kunci jendela.

Sosok itu semakin dekat, dan Dendrik masih kesulitan membuka jendela. Santa Claus kini tepat berada di depan Dendrik, hanya terhalang jendela yang susah di buka.

Santa Claus mengangkat tangannya dan menunjuk Dendrik. Dengan perasaan yang masih tidak percaya Dendrik hanya diam menatapnya.

Getaran hebat tanpa kendali tiba-tiba saja terjadi. Dendrik kaget dan mencoba pergi. Namun, tidak sengaja dia malah menginjak pecahan gelas yang dijatuhkannya tadi. Dendrik meraung kesakitan memanggil ibu dan ayahnya. Getaran itu hilang seketika saat Cally dan Zura tiba dengan tergesa-gesa.

Cally merengkuh Dendrik yang menangis sambil memegangi kakinya. Zura dengan sigap mengambil kotak obat yang berada di atas kulkas. Dengan tangan gemetar Zura mencoba untuk mengobati luka anaknya itu.

Tok!

Tok!

Tok!

Ketukan itu membuat Cally melirik ke arah jendela. Pelukannya pada Dendrik semakin erat saat melihat sosok yang tengah tersenyum puas dengan tatapan sinis ke arahnya.

Prank!!!

Serpihan kaca jendela berhamburan ke mana-mana. Tangan Zura pun ikut tergores karenanya. Cally berteriak diikuti Dendrik yang semakin ketakutan.

Zura menyadari ada yang tidak beres segera mengambil pisau di rak penyimpanan. Kemudian mengacungkan pisau itu ke arah jendela. Sosok itu tertawa dan menunjukan rupa aslinya. Sosok itu ternyata bukanlah Santa claus, tapis Santa hollow. Santa yang datang karena terpanggil rasa kehampaan dan kesepian saat natal tiba. Tanpa disengaja Dendrik telah memanggilnya secara tidak langsung karena merasa natal tahun ini hampa tidak ada artinya.

Santa hollow dengan santainya mengacungkan telunjuk dan Zura pun jadi lumpuh tiba-tiba. Tubuhnya ambruk begitu saja dan Cally semakin menangis sejadi-jadinya.

“Sa—Santa Hollow! Biadab!” teriak Cally membuat Santa hollow merasa dihina.

Santa hollow mengeluarkan sebuah kado kecil dari tas nya. Kado berbalut kertas ungu yang cerah itu di lempar hingga tepat di depan Dendrik. Setelah melakukan tugasnya, yaitu menghibur Dendrik dengan membuat luka dan tetesan air mata, santa hollow melambai dan berubah menjadi asap yang hilang begitu saja. Hal terakhir yang Dendrik lihat adalah jam di tangannya menunjukan pukul 00:30, sebelum akhirnya kado itu meledak menghancurkan semuanya.

“Astaga!” Dendrik terbangun dari mimpi buruknya, lalu duduk tegak dan diam untuk sesaat. Perlahan Dendrik melihat jam menunjukkan waktu 00:20. Dendrik tetiba merasa haus dan beranjak pergi ke dapur.