Rumah Sewa

Dok.kompaa

Sejak awal Jaka memang merasa ada yang agak ganjil dari rumah itu. Harga sewa yang ditawarkan terbilang murah. Apalagi ketika ia melihat langsung kondisi rumah tersebut. Harga murah diralatnya menjadi sangat murah. Sari, istrinya langsung jatuh hati. Maklum, sudah lama ia memimpikan hidup terpisah dari kedua orangtuanya yang selalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.

Sebenarnya hal itu bukan salah Bapak dan Ibu Sari. Sebagai suami, Jaka sadar jika ia bukanlah seorang menantu idaman kedua mertuanya. Pak Priyo dan Bu Roro sejak awal mengharapkan putrinya mendapat pasangan pegawai negeri, anggota polisi, TNI, atau pengusaha. Tapi pasangan pengusaha sarang walet itu mau tidak mau akhirnya harus pasrah ketika Sari mengancam bunuh diri jika dilarang menikah dengannya.

"Tidak salah harganya, Pak? Kok murah sekali?" tanya Jaka pada Pak Rudolf, orang yang menjadi perantara sewa-menyewa rumah itu.

"Pak Pri itu memiliki banyak rumah sebagai investasi. Rumah ini hanya salah satunya. Rencananya mau dijual, sambil menunggu pembeli makanya disewakan dulu. Ya, daripada dibiarkan kosong," jawab laki-laki keturunan Belanda itu.

Jaka menoleh pada Sari. "Bagaimana, Sar. Jadi kita sewa rumah ini?"

"Jadi, lah, Mas. Kapan lagi kita bisa dapat sewa rumah semurah ini."

Seminggu kemudian, Jaka dan Sari resmi menjadi penghuni rumah tersebut. Tak banyak barang yang mereka bawa. Lagipula di dalam rumah tersebut telah ada berbagai perabot seperti meja, kursi, lemari, dan lain sebagainya. Kata Pak Rudolf, barang-barang itu adalah milik penghuni rumah yang lama.

"Kok ditinggal, Pak? Bukannya masih bagus."

"Mereka pindah ke luar pulau. Mungkin agar tidak terlalu merepotkan, makanya ditinggal," ucap Pak Rudolf.

Awalnya tidak ada yang aneh. Letak rumah yang berada di kompleks perumahan membuat Jaka dan Sari tidak terlalu disibukkan dengan tetangga. Rutinitas yang dijalani Jaka pun tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, mengurus kedai kopi yang didirikannya bersama Slamet. Setiap pagi sampai isya, ia yang berjaga. Setelah itu Slamet yang akan menggantikannya.

Namun setelah dua bulan menempati rumah itu, Jaka merasakan ada sesuatu yang berubah dengan Sari. Istrinya itu menjadi lebih pendiam dan terlihat sering melamun. Tubuhnya pun tampak kurus. Awalnya Jaka mengira Sari bosan dengan suasana rumah yang sepi atau kangen pada orangtuanya. Tapi saat ia bertanya, Sari mengatakan ia baik-baik saja. Jaka pun tak bertanya lagi.

Semakin lama tingkah laku Sari semakin aneh. Pekerjaan rumah terbengkalai. Bahkan pernah saat pulang, Jaka mendapati tidak ada makanan di meja. Pertengkaran demi pertengkaran mulai menghiasi kehidupan rumah tangga mereka.

"Kok mukamu kusut banget, Ka? Ada masalah?" tanya Slamet. Kebetulan sore itu dia datang untuk mengantar stok kopi.

Jaka menggaruk-garuk kepalanya. Sebenarnya ia tak ingin menceritakan masalah rumahtangganya pada orang lain. Tapi saat ini ia benar-benar butuh teman bicara. Jaka pun akhirnya bercerita pada Slamet.

"Beberapakali aku memergoki Sari duduk termenung di depan lemari, Met. Cuma duduk dan tidak melakukan apa-apa. Aku sampai merinding sendiri."

"Lemari? Lemari apa?"

"Lemari itu sudah ada sejak aku memasuki rumah itu, Met. Lemari kayu berukir, kelihatannya sih buatan lama."

"Isinya apa, Ka?"

"Tidak tahu. Lemarinya terkunci."

"Jangan-jangan rumah itu ada hantunya, Ka."

"Jangan aneh-aneh, Met. Orang sudah mau pindah ke Mars, kok kamu masih bicara hantu."

"Ya terserah kamu, Ka. Aku kan cuma memberi pendapat."

Slamet akhirnya meminta Jaka pulang lebih awal. Jaka pun menuruti usul Slamet. Sepanjang perjalanan pulang itu, entah mengapa kata-kata Slamet soal hantu terus memenuhi pikirannya.

"Tak ada salahnya juga, sih. Baiklah, nanti malam akan kucoba untuk mencari tahu," batin Jaka.

Malam itu Jaka mencoba saran Slamet. Sambil berpura-pura tidur, ia mencoba menahan rasa kantuk yang menyerang. Saat Jaka hampir menyerah, Jaka merasakan tubuh Sari bergerak. Jantung Jaka berdebar kencang. Kantuknya pun menghilang saat itu juga. Jaka tetap bertahan pada posisinya sampai Sari keluar dari kamar. Sepuluh menit kemudian, ia menyusul keluar.

Dengan mengendap-endap Jaka mencari keberadaan Sari. Suara gemerisik yang terdengar dari ruang belakang menjadi petunjuk bagi Jaka untuk melangkah. Sesampainya di sana, dengan sangat berhati-hati ia mengintip melalui celah pintu. Apa yang disaksikannya benar-benar membuatnya terbelalak. Pintu lemari terbuka, sedang di lantai Sari terlihat bergumul dengan sesosok makhluk yang mengerikan.Tubuh makhluk itu berwarna hitam legam. Matanya merah, dan yang sangat menjijikkan adalah lidah makhluk bergerak liar menjilati seluruh tubuh Sari.

Jaka gemetar. Ia seolah lumpuh. Hasratnya untuk menolong istrinya dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Seolah tahu sedang diawasi, makhluk itu menoleh ke pintu. Mata yang merah dari si makhluk menatap tepat ke mata Jaka. Sementara itu mulutnya menyeringai lebar, memamerkan deretan gigi runcing. Mirip seperti gigi ikan piranha. Joko pun terkencing di celana.

Makhluk itu bangkit dan meninggalkan tubuh Sari. Ia merangkak ke arah pintu. Tujuannya jelas mendekati Jaka yang kini telah jatuh terduduk dan sedang berusaha menjauhkan diri dengan mengesot. Makhluk itu semakin mendekat, jaraknya dengan Jaka kira-kira tinggal satu meter lagi. Jaka pun sudah pasrah pada nasibnya. Bibirnya kini fokus berdoa sebisanya.

Namun umur manusia adalah milik Sang Kuasa. Di saat tangan makhluk itu terulur untuk meraih tubuh Jaka, tiba-tiba saja seberkas cahaya meluncur dan langsung melilit tubuh si makhluk. Semakin meronta, maka semakin erat cahaya itu mengikat. Sampai akhirnya makhluk itu benar-benar tak bisa bergerak lagi. Namun ternyata ia masih belum menyerah. Lidahnya terjulur memanjang, berusaha menyerang leher Jaka.

"Kau seharusnya tahu kapan harus menyerah, Iblis!" Bersamaan dengan suara itu, seberkas cahaya biru berkelebat dan menebas lidah si makhluk.

Jaka merasakan seseorang memegang puncaknya. Ia meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.

"Ka, tenang, Ka. Ini aku, Slamet. Aku datang bersama Pamanku. Ia yang menyelamatkanmu."

Jaka mengenali suara Slamet. Ia berhenti meronta. Pelan-pelan kesadarannya pulih. Saat sepenuhnya sadar, ia langsung bangkit dan berlari menuju Sari. Sesampainya di sana, ia pun jatuh pingsan.

Keesokan harinya, Jaka dan Sari langsung meninggalkan rumah tersebut. Untuk sementara mereka kembali ke rumah orangtua Sari. Di sanalah Pak Musa menceritakan apa yang terjadi pada Jaka dan Slamet. Lemari itu ternyata adalah alat pesugihan. Wanita yang mendiami rumah itu akan menjadi mangsa dari penghuni lemari tersebut. Karena itulah tubuh Sari semakin lama semakin kurus. Menurut Pak Musa, setiap malam energi kehidupannya dihisap oleh makhluk tersebut.

"Di hari keemoatpuluh, istrimu akan meninggal dunia, Ka."

"Lalu bagaimana dengan makhluk itu, Pak?" tanya Jaka.

"Aku mengirimnya pulang pada rajanya."

"Cuma seperti itu, Pak?" Jaka merasa sedikit kecewa. Ia mengharap Pak Musa membunuh makhluk itu.

"Makhluk itu cuma suruhan, Ka. Yang bersalah adalah orang yang menyuruhnya. Jangan khawatir, orang itu pasti akan mendapat balasan. Raja makhluk itu akan membuat perhitungan sendiri."

Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam rumah. Jaka, Slamet, dan Pak Musa segera berlari menuju sumber teriakan. Saat mereka tiba di sana, Bu Roro dan Sari sudah tergeletak di lantai. Sementara itu di kamar, sesosok makhluk terlihat menyeret tubuh Pak Priyo masuk ke dalam lemari. Lemari yang sama dengan yang ada di rumah sewa Jaka.