Rusaknya Tatanan

Dok. Sonora

"Hati-hati Ros!" Ivanka menepuk bahu adiknya, ia terihat tegang.

Rosi menjalankan mobil dengan ugal-ugalan. Amarahnya membuat ia tak berpikir waras. Mama kepergok Rosi saat tengah bercumbu dengan calon suami Rosi.
 Decit ban mobil yang beradu dengan aspal menambah takut bercampur cemas di hati Ivanka. Tapi entah dengan Rosi.
Mobil berdengung keras, memenuhi telinga Ivanka dengan kengerian. Rosi memacu kendaraannya dengan ganas.
Mobil oleng, terasa melayang di udara dan berbalik sembilan puluh derajat. Bagian depan berubah menjadi bagian bawah seketika itu. Terasa ada tekanan yang mendorong  benturan keras di sekujur tubuh kedua kakak beradik. Setelah kengerian itu keduanya tak ingat apa-apa lagi.

 Saat sadar Rosi sudah berada di ruangan serba putih, ia meraba-raba dengan mengerjapkan mata beberapa kali, yang terlihat pertama kali Mamanya. Sontak ia berteriak. "Pergi pergiiiiii! Aku tak mau melihatmu."

Dokter dan suster segera datang bareng dengan Andi, suami Ivanka yang sudah mengetahui semua yang terjadi antara Rosi dengan Mamanya.

Sementara sang Mama keluar dengan bersimbah air mata, ia tak menyangka nafsu sesaat telah membuat kehillangan putri-putrinya.

Akhirnya hanya Andi yang menengok Rosi, mbak Yuyuk pembantu keluarga Andi yang menemani, disamping luka-luka yang cukup serius, mental Rosi pun sedikit terganggu, membuat waktu perawatan cukup lama.

"Kak Ivanka bagaimana kondisinya Kak?" saat kembali sadar Rosi mempertanyakan kakak kesayangannya, pada Andi.

Lama Andi tak menjawab, ia menenangkan gemuruh di dadanya. Kehilangan istri tercinta pukulan berat baginya. Apalagi Rena putri kecilnya selalu menanyakan sang Bunda. Karena tak tega, Andi berbohong dengan mengatakan kalau Bunda sedang studi di luar negri.

Adapun Rosi histeris demi mendengar kebenaran yang diceritakan Andi. Rasa bersalah pada Kakaknya, juga amarah pada Mama yang telah merusak semuanya. 
Berbulan hingga setahun lamanya Andi masih 
Bolak-balik menengok Rosi, meski telah dipindahkan tempat perawatannya, atas saran salah satu kawannya, juga untuk menghindari agar Mamanya tak menengok. Karena itu akan membuat Rosi kembali histeris.

"Rena, mau tidak bertemu Bunda?” tanya Andi pada saat dia mengunjungi sang buah hati di rumah Neneknya.

“Bukankah Bunda sedang sekolah, Yah?” tanya Rena.

"Bunda sudah selesai sekolahnya sayang," tangan Andi membelai kepala Rena.

“Benarkah, Ayah tidak sedang berbohong, kan?” begitu antusiasnya Rena.

“Tidak, sayang, mari kita temui Bunda!" sambil berdiri Andi meraih kunci mobil.

“Horeeeee ... Aku kangen sekali sama Bunda!" teriak Rena gembira.

"Andi, apa yang kamu lakukan?" ternyata, Bapak sama Ibunya mendengarkan percakapan dia dengan putrinya.

"Jangan beri harapan kosong pada putrimu, sebaiknya perlahan-lahan kamu beritahu dia." suara bijak sang Bapak menimpali.

"Tenang saja Pak, Bu." katanya tanpa panjang lebar. Belum sempat keduanya bicara lagi, Andi sudah keluar menuntun Rena.

Sekian lama dalam perjalanan Rena berceloteh riang, kemudian mereka sampai di sebuah rumah besar di pinggir kota. Seorang wanita menyambut mereka dengan ramah.

“Selamat datang! Dengan Bapak Andi? Dokter sudah menunggu." 

“Benar, Mbak. Apakah Istri saya sudah bisa ditemui?”

“Sudah bisa Pak. Silakan bertemu Dokter dulu." sambil mengajak masuk

“Terima kasih, Mbak. Ayo sanyang kita temui Bunda!" sambil menuntun gadis kecilnya.

Setelah sedikit bercakap-cakap dengan seorang laki-laki berumur, yang dipanggil Dokter meski tak memakai pakaian kebesaran juga bukan di rummah sakit. Andi diantar wanita tadi menuju sebuah kamar.

Tepat di depan kamar  suster membuka pintunya perlahan. Andi melihat seorang wanita berambut panjang memandang ke jendela luar. Perlahan ia membalikkan badannya dan memberikan senyuman manis kepada Andi dan Rena.

“Ivanka,” Andi berkata perlahan tak percaya dengan apa yang ia lihat.

“Bundaaa!” teriak Rena menghambur ke arah wanita itu.

“Rena,” Ivanka terisak perlahan.

Embun di sudut mata tak lagi sanggup Andi tahan, jatuh juga. 

“Aku kangen Bunda, Aku pikir Bunda sudah pergi dan tak ingat aku,” rajuk Rena dengan terbata.

“Bunda memang sempat pergi, tapi kali ini Bunda akan bersama Rena terus." bisik. Ivanka terbata.

“Benar Bun? Tapi kok Bunda tidak kecup pucuk kepala aku seperti biasanya?" Rena menatap sang Bunda.

"O-ohhh ... Bunda lupa, maaf sayang," seraya memeluk Rena lebih dalam.

Sementara Rena dan Ivanka bercakap-cakap melepaskan kerinduan, Andi keluar dari kamar menemui laki-laki tadi.

"Tolong rahasiakan semua ini, semua  tidak tahu termasuk anak saya, kalau yang ia temui adalah bibinya. Rosi juga katanya mau menebus kelalaiannya dengan mengurus Rena." kata Andi sambil mengeluarkan secarik kertas yang di serahkan pada Laki-laki itu.

“Baik, Pak. Bapak puas kan dengan hasilnya?” jawab laki-laki bertubuh gempal itu sambil tersenyum.
Andi mengedipkan matanya sambil mengacungkan dua jempolnya.