Pulang

Ilustrasi/pulang/doc.pri


Malam telah sempurna membungkus bumi  saat mobil yang membawaku ke bandara memasuki area keberangkatan. Suasana riuh dan gaduh beradu dengan teriakan petugas yang mengomando kami -- para tkw -- yang harus kembali ke tanah air setelah purna kontrak.

Aku pamit untuk menuntaskan hajat ke toilet setelah selesai melakukan pengecekan dokumen dan tiket. Cuaca dingin membuat perut melilit tak kenal kompromi hingga  membuatku  harus tertahan beberapa menit di tempat privat tersebut.

Namun, ketika aku kembali mataku terbelalak tak percaya, mendapati ruang tunggu yang kosong. Ratusan orang yang tadi memadati ruangan tak tampak satupun, sepuluh orang teman seperjalanan juga telah meninggalkan Negeri tirai bambu bersama burung baja yang mengudara menembus awan. 

Panik aku bertanya pada petugas, dan jawaban mereka benar-benar membuatku lemas seperti dilolosin tulang-tulangku. Pesawat Cathilax tujuan Jakarta baru saja take off lima menit lalu.

Aku meraung gusar, menyalahkan diri ... bagaimana bisa aku tidak mendengar panggilan boarding? Bukankah panggilan biasanya berulang? Aku  merasa ada yang ganjil, bukankah biasanya petugas akan mencari penumpang yang tidak ada dalam daftar manifest penerbangan. Pikiran bingung dan kacau menyulut emosi hingga  membuatku enggan bermain dengan tanya. 

"Maaf, apakah Anda yang bernama Nona Fidha Hapsari ?" Seorang pria berseragam mendatangiku, aku mendongak, memandang takjub pada wajah tampannya, kulit putih bersih dan hidungnya yang mbangir bertengger di antara sepasang matanya yang coklat kebiruan, menandakan pria ini bukan dari  ras mongol. 

"Apakah Anda Nona Fidha Hapsari?" ulangnya sekali lagi, dari seragamnya aku mengira dia adalah Pramugara atau petugas aviasi.

"Eh, iya ...." Gugup seketika menyergap.

"Kami dari pihak maskapai penerbangan Cathilax meminta maaf atas kesalahan yang membuat Anda harus tertinggal pesawat malam ini," ujar pria dengan nama dada Andrew Haringtown.

"Ehmmm, lalu saya harus bagaimana?" tanyaku bingung, 

"Pihak Maskapai akan bertanggung jawab untuk penjadwalan ulang penerbangan Anda." terangnya sambil tersenyum.  Kenapa dada ini berdegub kencang saat melihat barisan giginya yang putih dibalik senyum ramahnya. 

"Ada Jadwal penerbangan terakhir, melalui Singapore," lanjut pria itu. Aku cuma diam, tak punya pilihan.

"Kami sudah menghubungi pihak maskapai, dan mereka sudah menyetujui untuk penjadwalan ulang penerbangan Anda."
 
'Apakah saya harus melapor ke kantor?" Aku bertanya ragu.

"Pihak Maskapai sudah mengaturnya sebagai bagian dari tanggung jawab.' Pria itu memandangku, menanti keputusan, "jika anda bersedia, silakan ke konter untuk check in."

Aku menimbang sesaat, tak ada pilihan, setidaknya aku tetap bisa pulang ke tanah air hari ini. 

Proses check in dan pengecekan bagasi tak makan waktu lama. Jadwal penerbangan ke Jakarta via Singapore pukul 00.30. Sejauh ini tak ada yang aneh, panggilan boarding tepat jam 00.00 waktu Hongkong. 

Semua proses berjalan lancar, tapi aku merasa heran, kenapa  tak tampak petugas yang melakukan berbagai persiapan lepas landas seperti biasanya. Rasa kantuk dan lelah membuatku enggan berpikir, aku hanya ingin segera berada di dalam pesawat dan mengistirahatkan otak yang terasa letih.

Aku melihat Andrew berdiri di tengah kabin menunggu penumpang masuk ke dalam pesawat. Dia tersenyum dan menunjukkan tempat dudukku di deretan kedua setelah kursi penumpang eksekutif.  Penumpang lain pun mulai masuk ke dalam satu persatu. 

Akhirnya proses boarding selesai, semua penumpang telah menempati kursi masing-masing. Entah, seperti ada bisikan aku kembali berdiri merapikan bagasi.   

Saat aku melihat ke kabin bagian belakang ada kejanggalan.  Di antara penumpang lain yang tengah merapikan bagasinya, aku melihat Andrew sedang  menatapku, wajahnya tampak pucat, jauh berbeda dari yang kulihat sebelumnya. Ada perasaan aneh menyelinap, gelenyar dingin mengusap tengkuk,  dingin yang kurasakan tidak seperti suhu pendingin ruangan biasanya.

Meski tiba-tiba merinding, tapi aku berusaha untuk menepis pikiran aneh dari otakku,  berusaha meyakinkan bahwa mungkin Andrew sedang lelah, atau bahkan aku yang terlalu mengantuk 
 
Akhirnya aku kembali mengempaskan pantat di kursi, menegakkan sandarannya sebelum pesawat lepas landas. Namun, sejurus kemudian, aku menoleh lagi ... Aneh, Andrew sudah tidak ada. Aku berusaha mencari wajahnya di antara crew lain yang tengah mengecek persiapan lepas landas, membantu menegakkan sandaran dan melipat meja, tapi Andrew tetap tidak ada. 

Apakah hanya imajinasiku saja, tapi  saat mengedarkan pandangan ke arah penumpang, ada hawa aneh yang membuatku merinding, hampir seluruh penumpang tampak seperti tertidur pulas dengan wajah pucat, kalaupun ada yang terjaga, tatapan matanya kosong tanpa gurat cahaya, aku bergidik saat salah satu dari mereka menatapku.

Bunyi tombol peringatan posisi take off mengagetkanku dari lamunan, pesawat mulai berjalan dengan kecepatan tinggi, bersiap untuk lepas landas, Aku merasakan sedikit kejanggalan, lagi.  Suhu di kabin terasa lebih dingin daripada biasanya. 

Saat lampu kabin dimatikan, sekilas  aku melihat seseorang berdiri di tengah kabin, seorang pria, aku tak bisa melihat wajahnya.  Namun, aku bisa melihat dia memakai seragam, wajahnya pucat seperti saat kulihat sebelumnya, 'Itu mungkin Andrew,' batinku.

Pesawat mulai mengudara dan lampu kembali dinyalakan, aku menoleh ke arah kabin, tapi tak mendapati siapapun berdiri di sana, kosong .... Bahkan para crew pesawat telah kembali ke ruangannya. 

Setelah tanda mengenakan sabuk pengaman dipadamkan, aku langsung berdiri. Pelan-pelan berjalan di kabin, mengamati satu-persatu penumpang di tempat duduknya, Namun, apa yang kulihat sungguh aneh, saat memandang wajah penumpang, aku kembali merinding, hawa dingin menusuk tulang, perasaan tidak enak menyapa. 

Perasaanku mulai tak enak, setiap gerakku seperti ada yang mengawasi, aku segera kembali duduk,  biasanya aku tak peduli saat pengecekan kabin yang biasa dilakukan 20 menit sekali pada penerbangan malam hari, tapi kali ini aku begitu antusias mengamati satu persatu petugas yang berjalan di kabin, berharap aku menemukan Andrew di antara petugas. 1Tanpa sengaja mataku bersitatap dengan seorang pramugari berkulit kuning pucat, kembali kurasakan gelenyar aneh membelai tengkukku, disertai aroma yang tidak pernah ku temui sebelumnya, perasaan merinding kembali mengusik.

Kantukku menghilang berganti penasaran. Ini penerbangan teraneh yang kualami. Sunyi tanpa ada dengung suara percakapàn, seolah semua bisu, penumpang yang tertidur sejak awal perjalanan, pramugari dan crew yang aneh, dingin dan gerakan mereka seperti robot. Lalu hawa dingin yang menusuk tulang, meski jaket berlapis membungkus tubuhku, membuat suasana terasa mencekam.

Satu-satunya orang yang kukenal adalah Andrew, aku ingin minta kejelasan darinya, tapi pria yang sempat membuatku terpesona saat pertama jumpa itupun menghilang misterius.

Pesawat akhirnya menyentuh daratan, bandara Changi, Singapore sebagai  pelabuhan transit. Aku sedikit lega, , setidaknya bisa mengurai suasana tidak nyaman yang sejak tadi menghimpit.

Seorang pramugari menatapku tajam karena aku tidak mematuhi aturan, melepas sabuk pengaman dan berdiri sebelum pesawat landing dengn sempurna. Tatapannya yang dingin membuat tengkuk meremang. Aku  bergegas melangkah  keluar begitu pintu dibuka.

Namun, kurang dari tiga langkah mrnuju pintu keluar, kembali ekor mataku menangkap sosok pria itu, berdiri mematung di tengah kabin sambil menatapku tajam.

"Andrew," desisku ingin menyapa, lalu aku menghentikan langkah, menepi memberi ruang penumpang lain yang melewatiku  

Namun, yang kurasakan jantungku berdetak kencang tak keruan.  Aku yakin benar itu Andrew, sosok itu nyata bukan hanya imajinasiku saja.

Pria bertubuh tinggi itu  mulai berjalan ke arahku perlahan, lama kelamaan aku melihat dia seperti setengah berlari. Mendadak perasaanku tidak enak, jantungku berdetak makin kencang, kakiku gemetar,  tapi tak berani untuk melihat ke belakang, aku merasakan aura kematian  mendekat, kupaksa langkah menuruni tangga.

"Tolong!" Aku berteriak ketika merasa dia hampir mencapai tempatku. Namun, saat  menoleh ke belakang ...  kosong, tak ada siapapun di sana. Yang kudapati hanya tatapan aneh petugas inspeksi landasan pacu yang sedang melakukan pengecekan di jalur runway.

"Are you ok?" seorang petugas menyapaku cemas. Aku terkejut, sapaan petugas itu membuatku  seperti baru bangun tidur, separuh nyawaku entah melayang ke mana.

"Iam ok," ujarku sedikit bingung, "cuma penasaran saja dengan seseorang."

"Seseorang siapa? Saya tidak melihat siapapun." Petugas itu menatapku heran. 

"Seorang di belakangku, dia mengejarku," Panik aku menoleh ke belakang. 

"Apakah Anda baik-baik saja, Madam? Dan mengapa tengah malam begini Anda berada di tengah landasan runway?" Kali ini petugas berseragam biru tua itu menatapku tajam, sedikit curiga.

"Maksudnya?" Aku bertanya gusar, bagaimana bisa petugas itu bertanya seperti itu,  dan menatapku aneh seperti melihat alien.

"Saya penumpang transit darii Kowloon, tujuan Jakarta," tegasku lagi.

"Tolong jangan main-main, Madam!  Tidak ada pesawat transit di jam sekarang," bantah petugas serius.

"Justru Anda yang jangan main-main, saya baru turun dari pesawat dengan nomer penerbangn CX212 dari Kowloon Hongkong." Aku merinci rute penerbanganku dari awal keberangkatan, "tujuan akhir Jakarta, Indonesia."

Petugas itu tampak kaget, tapi setelahnya ia menghela napas panjang, lalu menatapku iba.

"Baiklah, Madam. Saya akan mengantar Anda ke kantor untuk tiket lanjutan Anda." Ia mengantar menuju kantor Maskapai Cathilax Airways.

Tiba di kantor, petugas tersebut berbicara dengan petugas lainnya, tampaknya mereka saling kenal, dan berbicara amat serius. Aku hanya mematung bingung,  sesekali petugas front liner itu mengerutkan alis, lalu manggut-manggut setelah petugas landasan menjelaskan. Akhirnya petugas front liner itu tersenyum padaku.

"Baiklah, Madam. Kami akan mengatur penerbangan pertama tujuan Indonesia dengan CX007 pukul 05.00 waktu Singapore." 

"Artinya saya berganti pesawat. Bukankah untuk transit harusnya memakai pesawat yang sama?" tanyaku bingung.

Petugas front liner itu menghela napas panjang, lalu menunjukkan sebuah gambar padaku.

"Pesawat Puing 707 dengan nomer penerbangan CX212 mengalami kecelakaan sebulan yang lalu ketika bertolak dari Bandara Kowlon Hongkong menuju Bandara Cengkareng Jakarta. 313 Korban meninggal dunia dalam kecelakaan di atas perairan Samudra Pacific." Cerita petugas yang sangat berhati-hati membuatku tertegun, mataku membulat dengan bibir bergetar.

"Jadi ...," Aku tak sanggup melanjutkan ujar.   

"Benar, apakah Anda percaya atau tidak, itu hak Anda. Tapi yang membawa Anda hingga tiba di sini adalah pesawat hantu."

"Tidak mungkin, Sir! Bagaimana bisa?" bantahku tidak percaya. 

"Itu hak Anda, tapi ini bukan yang pertama, beberapa hari lalu juga ada kejadian serupa yang Anda alami."

Lututku gemetar, tak sanggup membayangkan terbang dari Hongkong ke Singapore bersama ratusan makhluk astral, pantas saja sepanjang penerbangan begitu senyap, dan wajah-wajah penumpang yang pucat, pramugari yang seperti robot ....

Lalu bagaimana dengan Andrew? apakah ia juga makhluk astral seperti yang lain?

"Maaf, Sir? Apakah dalam berita itu juga disebutkan nama Andrew Haringtown?" Kuberanikan diri bertanya agar tidak penasaran.

Petugas menunjukkan sebuah photo padaku, yang kujawab dengan anggukan kepala.

"Dia petugas ticketing,  warga negara Australia yang bekerja di Cathilax Hongkong.  Dia terbang bersama pesawat naas itu hendak menemui kekasihnya di Singapore. Namun, hingga kini jasadnya tidak diketemukan, apakah dia masih hidup atau tidak."

Aku membelalak tak percaya, hanya bisa mematung dengan nanar, berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benak, entah harus percaya atau tidak, semuanya terlalu absurd bagiku.

CX007 yang membawaku kembali ke tanah air mulai berdesing di landasan pacu. Lampu kabin dipadamkan sebaliknya lampu tanda mengenakan sabuk pengaman dinyalakan, aku mengalihkan pandanganku ke arah pintu di sebelahku.  

Namun, dalam remang lampu kabin,  jantungku tiba-tiba berhenti oleh pemandangan yang tak kuduga. Seorang pria tengah berdiri di depan pintu darurat, menatap ke arahku.

"Andrew," desisku gemetar, seketika keringat dingin membasahi wajah.  Detik berikutnya laki-laki berseragam itu sudah berada di sampingku, matanya yang merah menatap tajam ke arahku, tersenyum memamerkan gigi-gigi taringnya, dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. Aku tak bisa bergerak, darahku serasa disedot saat kemudian dia berbisik, "Kita bertemu lagi ...."

***