Makhluk Gaib yang Memaksa Ikut Pulang

Ilustrasi tangan: pixabay

Pak Imam adalah laki-laki  berumur lima puluhan, berperawakan tinggi dan ramping, berwajah ramah dengan sorot mata lembut. Wawasannya pun termasuk luas. Sehari-hari ia membuka praktik pijat dan totok syaraf. Banyak pasien yang berhasil dibantu sembuh, dengan izin Allah tentunya. Pasien-pasien tersebut umumnya datang karena getok tular, alias pemberitahuan dari mulut ke mulut  dari orang lain, yang merasakan kemampuan Pak Imam. 


Pak Imam pernah berbagi cerita pada saya, tak jarang penyakit yang dialami pasien  tidak ada hubungannya dengan medis. Kerap kali hal tersebut berasal dari  gangguan makhluk halus, atau hal mistis, tapi akibatnya badan pasien kena imbas. Misalkan yang sering jadi penyebab: gara-gara menyimpan jimat, atau mendapat kiriman teluh dari seseorang. Untuk hal-hal demikian,  Pak Imam pun dikaruniai kemampuan untuk menanganinya. 


Buntut dari menangani perkara di luar nalar tersebut di atas, Pak Imam jadi ikut mengalami kejadian aneh-aneh  sepanjang menolong pasien. Misalnya, ia pernah dikirimi pedang gaib oleh lawannya, atau diserang oleh jin yang merasuki pasiennya. Kesemua itu dianggap sebagai resiko yang harus dihadapi. Maka dari itu Pak Imam selalu memperkuat ruhani, dengan menjalankan ibadah terutama shalat, secara tepat waktu dan berjamaah.


Pak Imam berbagi kisah  yang membekas dalam benaknya hingga kini. Suatu ketika ia melakukan ziarah ke Demak. Tiba waktu shalat, Pak Imam singgah ke masjid raya Demak. Usai beribadah, Pak Imam mendengar lantunan suara merdu seorang lelaki yang mendaras zikir.


"Bagus sekali suaranya. Coba kulihat sebentar," gumamnya sambil mencari sumber suara. Setelah melihat sosok itu, Pak Imam mengangguk paham. Ia lalu kembali duduk ke tempat semula.


Tak lama berselang, lelaki yang tadi mendaras zikir datang menghampiri Pak Imam. Rupanya ia ingin berkenalan lebih jauh. Pak Imam pun bersedia melayani mengobrol. Setelah itu ia pamit melanjutkan perjalanan. 


"Saya ingin ikut njenengan," sekonyong-konyong lelaki itu meminta ikut. "Nanti saya bisa bantu-bantu."


"Nggak usah. Kamu tetap di sini saja," tolak Pak Imam tegas, seraya beranjak dari  masjid Demak. 


Orang beda alam, kok, minta ikut, batin Pak Imam. Ya, ternyata laki-laki itu adalah dari bangsa jin.


Setelah kembali ke rumahnya di Banyumas, Pak Imam kembali beraktivitas seperti biasa. Sejumlah  pasien sudah menelepon  dan membuat janji temu. Salah satunya bernama Karso. Siang itu Pak Imam menunggu Karso, yang mengeluh vertigonya kambuh.

Sebelum tiba jam yang disepakati, Karso menelepon lagi. "Nuwun sewu, Pak. Saya nggak jadi ke rumah. Ini saya sudah sembuh!"


Meski heran, Pak Imam tetap mengucap syukur. Tak dinyana bukan hanya Karso, berturut-turut pasien lain pun membatalkan janji dengan Pak Imam. Dikarenakan mereka mendadak telah sembuh sendiri, meskipun belum  ditangani olehnya.  Merasa penasaran, Pak Imam melakukan penerawangan pada  pasien lain yang   akan bertamu dalam waktu dekat.


Melalui mata batinnya, Pak Imam melihat sosok yang mengajaknya berkenalan di Masjid Demak. Sosok itulah yang menyembuhkan pasien Pak Imam. Setelah mengetahuinya, Pak Imam  merasa geram. Ia segera melakukan kontak, lalu menegur si makhluk.


"Pergilah, jangan terus-terusan mengikutiku. Aku tak butuh bantuanmu," usir Pak Imam.

Namun makhluk itu ngeyel  tak mau pergi. Dan Pak Imam tak kuasa mengusirnya. Akhirnya ia memutuskan meminta bantuan gurunya, yang berada  di Nganjuk.


Singkat cerita setelah bertemu gurunya dan menceritakan apa yang terjadi, Pak Imam mendapat petunjuk.

"Saya ndak bisa menolong kamu, Mam. Tapi saya tahu siapa yang bisa. Coba kamu pergi ke desa sebelah, carilah Pak Ayub. Dia seorang petani." 
 

Pak Ayub yang ingin ditemuinya, kala itu tengah nyawah. Namun begitu melihat Pak Imam, petani  berusia agak sepuh itu seolah-olah sudah diberitahu akan maksud kedatangan Pak Imam.


"Walah, kamu ikut dari Demak, tho?" tegur Pak Ayub pada sesuatu di belakang Pak Imam. "Sudah, kamu turun di sini, jangan ngikutin lagi!" Lalu beliau menepuk punggung Pak Imam. 


"Wis rampung. Kamu boleh pulang," senyum Pak Ayub pada Pak Imam. 

Pak Imam merasa tubuhnya menjadi enteng. Setelah berterima kasih, ia berpamitan lalu pulang dengan hati plong. Peristiwa itu menjadi pengalaman berharga baginya. (*)