Ketika Lengah Menonton Atraksi Kuda Lumping

Dok. Pinterest

Tengah sore usai solat asar, aku dengan Melinda membuntuti kumpulan para Penari Kuda Lumping yang akan tampil di pelataran rumah warga. Aku hanyut dalam pertunjukkan Kuda Lumping ketika mempertontonkan adegan orang kesurupan. Seperti saat mereka akan memakan beling dari pecahan lampu dan dicambuk berulang kali akan tetapi tak merasakan sakit. 

Kendati terlihat jelas saat menonton, Aku dengan Melinda memilih berdiri di barisan paling depan diantara kumpulan para penonton. Tepat di bawah pohon mangga, di halaman rumah Bu RW. 

"Mel, sebentar yah. Aku beli minuman dulu," ucapku kepada Melinda. 

Karena terlalu lama berdiri, aku merasa lelah. Aku membeli sebotol air mineral di warung terdekat. Sepuluh menit terlewati, suara tabuhan gamelan terdengar nyaring. Aku cepat-cepat berlari menuju tempat di mana Melinda berada. 

Sebentar lagi pertunjukkannya akan dimulai, sang Warok yang berpenampilan mirip dukun, bajunya hitam bergaris merah dengan kumisnya yang tebal, akan memberikan air putih untuk si Penari Kuda Lumping. Air yang sudah diberi mantra akan membuat mereka seperti orang kesurupan. Mereka akan terus menari dengan menunggang kuda buatan yang dibuat dari anyaman bambu. Anyaman itu akan dibuat sedemikian rupa, dihias dengan aneka kain serta diberi warna yang mereka suka, sehingga membentuk seekor kuda. Mereka juga akan menari sambil mengikuti suara gamelan juga mematuhi perintah si Warok. 

Aku juga melihat ketika si Warok mencambuk berulang kali di tulang punggung, serta dada kedua si Penari Kuda Lumping. Mereka tak merasa kesakitan pun diam saja. Kemudian pertunjukkan selanjutnya yang paling ditunggu-tunggu para penonton. Penari Kuda Lumping akan mengambil pecahan lampu yang berserakan di setapak jalan. Lalu, pecahan belingnya ditelan semua tanpa ada yang tersisa. Aku terperangah menyaksikannya. Melinda bertepuk tangan, dan semua penonton melakukan hal yang sama seperti Melinda. 

Serempak si Penari Kuda Lumping, mendekati Melinda. Mengajaknya menari bersama mereka. Aku tahu Melinda saat itu masih usia remaja menginjak 12 tahun. Rambutnya suka dikepang dua, seperti bentuk kepang kuda lumping mainan yang dinaiki si Penari. Mungkin saja hal itu yang membuat Melinda diajak menari bersama mereka. 

Dalam iringan gamelan yang semakin riuh dan membahana. Melinda dibuat linglung ketika itu, si Warok memberikan air putih di dalam wadah ember. Aku mencoba membantu Melinda. Menarik lengan tangannya. Tapi, sayang justru aku yang terusir oleh para Penonton. Aku membiarkan Melinda meminum air tersebut dan menari sesuai kehendak sang Warok. Bahkan Melinda ikut naik di atas punggung kuda lumping. Dimainkan layaknya boneka mati. Melinda tak menyadari hal itu. 

Aku mencoba tenang, memikirkan berbagai cara untuk membantu Melinda. Akhirnya, aku meminta tolong kepada Bu Anis yang tak sengaja lewat di setapak ini. 

Kata Bu Anis, "Kamu tunggu di sini sebentar."

Bu Anis tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya. Kemudian keluar membawa dua tutup panci. Entah, apa yang akan dilakukan Bu Anis? Aku belum tahu. 

Kami segera menuju ke tempat atraksi di lapangan dekat rumah Bu RW. Sambil Bu Anis menenteng dua tutup panci yang diambil dari rumahnya. Setelah sampai di tempat. 

Tek. tek.. preng.., tek.tek..preng. 

Astaga ternyata Bu Anis memainkan dua tutup panci bersentuhan dan mengeluarkan nada gila seperti alat musik dadakan. Bu Anis menghentikan atraksi tersebut dengan bising suara tutup panci. Lalu, semua penari terhenti bersamaan tatapan tajam para penonton mengarah ke Bu Anis. Atraksi kuda lumping dihentikan karena para penari sudah tersadar. Suara gamelan berhenti, dan Melinda kuajak ikut bersama. Aku dengan Melinda kabur meninggalkan Bu Anis di sana. 

Pemalang, 22 Desember 2020