Sisir Berdarah Dalam Pesawat

Dok. Pinterest

Gawai Raya berdering, tertumbuk pandangan pada panggilan dari Pimpinan Pusat tempatnya ia bekerja. Rupanya Raya disuruh mendarat sekarang ke Tanjung Pandan. Kemudian Raya beralih menatap detik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka 11.00 siang. Raya memburu waktu dan langsung memesan tiket di aplikasi Trafling. Memilih naik Pesawat Elang Airways kelas ekonomi. Mungkin akan tiba di sana pukul 12.50 WIB dari Jakarta ke Tanjung Pandan.

Sebelum take off, Raya memperhatikan Seorang Pramugari tengah berdiri, masih mempraktikkan bagaimana caranya memasang sabuk pengaman, mengenakan pelampung keselamatan dan masker oksigen. Ini dilakukan demi keselamatan para penumpang, Raya sudah terbiasa mengikuti arahannya.

Saat Pesawat sudah berada di ketinggian 30ribu kaki, lewat kaca jendela ia menikmati gumpalan awan putih yang indah di atas langit biru yang cerah di waktu siang, karya Sang Pencipta.

Raya terlalu lama memandang ke luar jendela, rasa kantuk membuatnya terlelap nyenyak. Tiba-tiba ada seorang perempuan berbisik di telinganya. Ia terbangun. Namun, suasana kembali hening. Tak ada siapapun kecuali seorang pria paruh baya di sampingnya yang masih tinggal di dunia mimpi. Lalu, Raya melangkah menuju ke toilet--di samping pintu toilet ia menemukan sebuah sisir yang bentuknya persis seperti sikat mandi. Warnanya hitam akan tetapi batang pemegangnya berwarna merah. Paduan warna serasi memberi kesan menarik untuk hasrat Raya ingin memiliki.

Ia menyentuh ujung batangnya, Raya langsung terbawa ke dimensi lain. Dilihatnya ada perempuan asing membelakangi, tengah menyisir rambut panjangnya secara tiba-tiba. Raya melihat ada kutu-kutu berjatuhan pun berserakan di atas lantai, rambut si perempuan itu rontok ke mana-mana. Ia mengenali sisir yang dipakainya sama persis dengan sisir yang tadi ia temukan. Berulang kali perempuan itu menyisir--rambutnya juga ikut terbawa, menggerombol di dalam sisir. Banyak helaian rambut berjatuhan di lantai, ditambah kutu hitam kecil bersama telur-telurnya. Raya bergidik ngeri, ketika itu kini perempuan tersebut kepalanya sudah plontos. Tetap saja disisirnya, ia menyisir terus menerus bahkan rambutnya sudah tak tersisa lagi di kepalanya. Sisirnya, mencukil kulit kepala dan berdarah. Tetesan darah mengucur ke seluruh muka, melihat itu Raya ingin berteriak.

Raya ingin kabur dari tempatnya, kakinya masih tetap tertahan. Ia melemparkan sisir yang sedari tadi ia pegang. Sontak, ia menutup mata. Matanya kembali dibuka, Raya menjadi pusat perhatian penumpang pesawat. Ia masuk ke dalam toilet. Mencuci muka, akan tetapi warna air yang tadinya bening berubah menjadi warna merah seperti darah. Di dalam kaca toilet, ada sebuah bayangan perempuan itu lagi masih membawa sisirnya.

Ada sesuatu, yang ingin perempuan itu sampaikan kepada Raya. Namun, Raya tak mau peduli. Ia ingin perempuan itu pergi dan tidak menampakkan diri. Raya akan gila, jika terus-terusan diikuti.

Pesan singkat muncul di dalam kaca, tulisan dari darahnya.

"Raya, kembalikan sisir itu ke tempat asalnya!!"

***

Pemalang, 20 Desember 2020