Dedek

Blibli

Hidupku tak pernah tenang sejak adikku lahir. Ibu tak lagi memperhatikan aku, apa-apa dedek dulu. Bahkan ibu sering suruh ambil ini ambil itu. Tapi sekalinya aku ada permintaan selalu dedek jadi alasan. Minta jajan,  nanti nunggu dedek bobo. Aku main, jangan berisik nanti dedek bangun. Hingga dedek tumbuh besar,  tetap saja prioritas ibu adalah dedek.  

Ulang tahunku yang ke sepuluh,  Ayah memberikan hadiah sebuah boneka warna pink putih dengan pita lucu. Betapa senangnya hatiku, ternyata masih diperhatikan. Buktinya Ayah masih ingat hari ulang tahunku. 
Namun,  sial! Dedek merengek ingin boneka milikku. Tentu saja tak kuberikan, sedang senang-senannya aku bermain dengan boneka baru.

  "Pinjemin dulu ya Ka, nanti juga dedek bosen, dikembalikan sama Kakak." bujuk ayah. 

Aku pun mengalah, memberikan boneka sama dedek. Ia senang sekali memeluk boneka sambil lari ke sana ke mari. 
Hampir tiap hari kami rebutan boneka. 

"Ma,  beliin boneka satu lagi yang sama, biar dedek ga rebut bonekaku," rajukku suatu hari. 

"Kamu tuh ya, harus sayang sama dedek nya. Ngalah saja, memang tidak sayang ya sama dedeknya?" jawab Mama sambil kupas bawang. 

sampai sekarang aku sudah masuk Sekolah menengah Atas, dedek selalu saja datang ke kamarku setiap malam, merengek panggil-panggil aku minta boneka. 

Awalnya aku hanya diam, tapi lama-lama tak tahan juga. Ku lempar boneka ke arah dedek yang tengah menangis. 

"Berisik, tahu!" bentakku. 

Bukannya pergi,  dedek malah mendekat. Ia terus panggil-panggil namaku. Itulah deritaku, yang kukira akan berakhir dengan membuang boneka ke kolam di samping rumah. Tapi rupanya dedek terus mengambil boneka itu, hingga Ibu histeris melihat dedek telah mengambang di kolam, lima tahun lalu.


Kisah misteri

Catatan anak manusia