Penerbangan Tiada Akhir

pesawat

“Cockpit to Ground, We’ ready to push back facing South” Kapten Tommy berbicara ke Ground Crew menandakan pesawat siap untuk berangkat.

“Brakes off Please”

“Brakes off and time, 22.50 UTC

Pesawat Airbus 320 Gagak Airlines segera bergerak mundur meninggalkan garbarata di Gate D 21. Kedua engine sudah dihidupkan dan akhirnya ketika semua siap, tow truck juga siap dilepaskan dari pesawat.

 

Pesawat kemudian taxi menuju ke runway 25 L dan berbaris  dalam antrean untuk take off menuju Kuala Namu. Ini adalah penerbangan pertama untuk pagi ini bagi Kapten Tommy dan krew dan pesawat berangkat on time pukul 05.50 WIB dari Bandara Soekarno Hatta Terminal 2. Penerbangan ke Kuala Namu alias KNO sendiri akan mengambil waktu sekitar 2 jam 10 menit saja.

 

Udara pagi itu cerah, dengan jarak pandang lebih 13 mil dan menurut ramalan, cuaca akan bersahabat di sepanjang perjalanan. Setelah lepas landas dan mencapai ketinggian jelajah 38 ribu kaki, Auto Pilot  kemudian sudah engaged, sehingga Kapten Tommy dapat sedikit santai dan mengobrol dengan Kopilot , First Officer Widodo

 

Sekitar pukul 5 pagi, Aji yang masih dalam taksi menuju ke Bandara Soekarno-Hatta yang dikebut dengan kecepatan melebih 100 Km/jam. Maklum pagi itu dia terlambat bangun karena alarm di hape lupa dihidupkan. Dia berharap masih bisa cek ini pada menit-menit terakhir.

 

Ketika sampai di cek in kaunter, Aji melihat petugas masih ada, namun sudah bersiap-siap untuk menutup cek-in kaunter. Aji melapor dan petugas hampir saja menolaknya dengan alasan terlambat. Namun karena ada info bahwa kendaraan yang membawa kapten dan kopilot ada gangguan, akhirnya, Aji masih diperbolehkan cek-in.

 

“Ayo pak cepat ke boarding gate, ternyata kapten dan kopilot sudah datang dan pesawat tidak jadi delay”.

Aji berlari menuju pemeriksaan sekuriti dan untungnya tidak banyak antrean penumpang sehingga ketika sampai di boarding gate, penumpang baru saja mulai naik pesawat. Dengan tenang dia kemudian ikut antre dan kemudian naik ke pesawat. Tempat duduknya tepat di jendela sebelah kanan dekat pintu darurat di sayap. Lumayan lega dengan leg room yang lebih lebar. Dia juga dapat melihat ke bagian atas sayap bahkan sampai ke wing tip atau ujung sayap yang dilengkapi dengan winglet. Ah ini sudah pesawat A320 NEO, pikirnya dalam hati.

Aji juga dapat melihat bahwa cockpit crew sedang melakukan flight control test ketika aileron  terlihat sedikit bergerak naik turun. Sekitar 15 menit kemudian , pintu ditutup dan pramugari mengumumkan bahwa pesawat sudah siap untuk diberangkatkan,

Setelah pesawat tinggal landas melalui runway 25 L, pesawat kemudian memutar arah dan langsung menuju barat laut ke arah Kuala Namu. Aji sempat memperhatikan Air Show di layar monitor di depan kursinya bahwa pesawat sudah mencapai ketinggian jelajah 38 ribu kaki dengan OAT alias Outside Air Temperature sekitar minus 46 Derajat Celsius.

Tak lama kemudian, pramugari mulai keliling kabin dan menyediakan makan pagi berupa roti dan minuman ringan atau teh dan kopi. Selepas itu tidak lama kemudian, Aji pun tertidur .

Aji terbangun, dia sempat melihat ke jendela. Udara di luar cerah dengan awan tipis mengiringi penerbangannya. Dia melihat ke jam tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 7.50 WIB. Tidak lama lagi pesawat tentunya akan mendarat, Namun Aji sempat sedikit kaget ketika melihat di Airshow bahwa posisi pesawat sudah jauh melewati Bandara Kuala Namu dan ketinggian pesawat masih di Flight Level 38 ribu Kaki. Apakah pesawat belum akan mendarat?

Aji juga memperhatikan bahwa suasana di dalam kabin sangat tenang. Seakan-akan penumpang lainnya sedang tertidur semua. Tidak ada pramugari yang sedang bertugas dan tidak ada juga pengumuman dari kokpit.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Waktu sudah menunjukkan pukul 8.10, Pesawat mestinya sudah mendarat atau paling tidak dalam posisi approach untuk mendarat. Seandainya mesti holding atau antre di bandara, pasti sudah ada pengumuman dari kokpit. Namun Aji memperhatikan bahwa pesawat terus terbang dalam posisi Straight & Level menuju ke barat laut. Bahkan ketika melihat di Airshow posisinya sudah jauh melewati Deli Serdang dan bahkan menuju kawasan Aceh.

Aji mulai panik, apakah pesawat ada yang membajak? Mengapa tidak mendarat di Kuala Namu dan terus ke Aceh? Bagi Aji ini bagaikan suatu penerbangan tiada akhir.

Pukul 8.20 di Kuala Namu Internasional Airport. Para penjemput sudah mulai gelisah. Di monitor tertulis pesawat Gagak Airlines no. penerbangan 108 mengalami delay. Namun tidak jelas kapan estimasi waktu kedatangan.

Pukul 6,05: Petugas ATC di Bandara Soekarno Hatta melaporkan, Pesawat Gagak Airlines no. penerbangan 108 tujuan Kuala Namu tiba-tiba hilang dari radar, padahal baru saja sekitar 15 menit lepas landas.

Pukul 6. 10 menit, hanya beberapa menit setelah pesawat lepas landas, petugas Gagak Airlines di Bandara Soekarno Hatta menerima kabar bahwa kendaraan jemputan Kapten Tommy dan First Officer ternyata benar mengalami kecelakaan di tol dalam kota pada sekitar pukul 4. Pagi,

Berita ini sempat diterima sebelumnya, namun langsung diabaikan karena kemudian kapten Tommy dan First Officer Widodo muncul di Bandara hanya 5 atau 10 menit terlambat sehingga pesawat masih bisa berangkat tepat waktu. Kondisi terakhir kedua pilot dalam keadaan koma di rumah sakit, sementara sopir masih belum sadar dan terluka parah.

ACARS yang diterima pesawat Brakes Off on time 22.50 UTC alias pukul 05.50 WIB dan take off 9 menit kemudian. dari ACARS hanya diterima sampai pesawat mencapai ketinggian jelajah 38 ribu kaki.

Setelah pesawat hilang kontak, tidak ada lagi kiriman ACARS dari pesawat dan usaha menghubungi pesawat melalu radio HF juga sia-sia.

Tidak ada tanda-tanda pesawat mengalami kecelakaan. Pesawat bagaikan hilang di telan udara.

Siapakah yang menerbangkan pesawat, dan ke mana pesawat itu pergi?

 

Cockpit to Ground, We’ ready to push back facing South: Pernyataan kokpit  kepada teknisi bahwa pesawat siap didorong dan kemudian menghadap ke selatan 

Brakes off Please: permintaan agar rem dioff sehingga pesawat bisa didorong 

ACARS: Aircraft Communications Addressing and Reporting System

 

20 Desember 2020