Arwah Penasaran

Sumber:depositphotos.com

Serombongan orang berwajah murung melintas di depan rumah. Tak ada satupun dari mereka yang bicara. Hanya nyanyian burung gagak sesekali terdengar serak mengiringi langkah-langkah yang mengayun rampak, seirama.

Sekelebat aku melihat diriku. 

Diriku? Iya, benar. Diriku. Dalam bentuk yang lain. Berada di antara orang-orang berwajah murung itu, berjalan di barisan paling depan. 

"Apa yang terjadi?" suaraku terasa tercekat di tenggorokan. 

"Mati. Kamu sudah mati." Seorang laki-laki tua dengan sorban dan jubah warna putih bicara padaku.

"Sudah mati? Bagaimana mungkin?" Sederet pertanyaan menjejali ruang kepalaku. 

"Kau masih belum yakin kalau sudah mati? Coba bicaralah dengan dia. Dirimu sendiri itu." Lelaki tua itu menggamit lenganku. Mengajakku berbaur dengan rombongan aneh yang terus saja bergerak entah hendak menuju ke mana.

Sepertinya langkahku jauh lebih cepat dari langkah lelaki tua itu. Sebentar saja aku sudah berjalan berdampingan dengan yang disebut 'diriku sendiri'.

"Katakan jika ini hanya mimpi buruk!" Aku menggerutu.

"Mati bukanlah mimpi buruk. Mati adalah kepastian yang tidak bisa dihindari." Diriku yang lain menyahut dengan tenang.

Sungguh, aku tidak puas mendengar pernyataan demikian. Aku tahu semua orang bakal mati. Tapi yang ingin kutegaskan di sini adalah bagaimana caraku mati? Mengapa aku tidak diberitahu secara gamblang? 

Iring-iringan tanpa suara itu berjalan semakin menjauh. Kami sudah melintasi area padang rumput, perbukitan, lembah, ngarai, hingga berakhir di tepi pantai yang ombaknya bergulung tak kunjung henti.

"Di sinilah kita memulai prosesi kematian itu. Kau cobalah mengingat-ingat." Diriku yang lain berkata pelan---tanpa menoleh---masih dengan wajah tertunduk. Aku mengangguk meski aku tidak yakin, apakah aku bisa memunguti kembali memori penyebab kematianku.

***
Pasir putih yang hangat. Camar yang melayang-layang ringan di atas permukaan air laut. Ah, ya. Itu semua perlahan menjadi jendela pembuka ingatanku. 

Tapi ingatan tentang apa?

Pandanganku masih tertuju pada permukaan luas samudera. Dan, tiba-tiba saja sebuah kapal pesiar muncul dari kejauhan. 

Itu Kapal Lady Lovibond!

"Kau Ingat sekarang? Siapa nama kita?" Diriku yang merupa ruh itu bertanya. Aku mengangguk.

Ya. Aku ingat. Aku Anette. Istri Simon Reed. Kapten kapal pesiar Lady Livibond yang terkenal itu.

"Sekarang cari tahu bagaimana cara kita mati." Ruhku menantang. Seketika wajahku menegang.

Bukan hanya nama Simon yang muncul di kepalaku. Ada satu nama yang tak kalah penting. Yakni John Rivers.

Jhon adalah seorang perwira yang bekerja di Kapal Lady Lovibond. Dan, tampaknya laki-laki bertubuh atletis itu memegang peranan penting dalam proses kematianku.

John, ia jatuh cinta kepadaku. Jatuh cinta yang amat sangat. Jatuh cinta yang membuatnya cemburu membabi buta.

Kecemburuan itulah yang membuatnya nekat menghabisi nyawa kami. 

Lalu terjadilah peristiwa mengenaskan itu. Peristiwa yang mengakibatkan kapal pesiar Lady Lovibond tenggelam. Jhon Rivers sengaja mengarahkan kapal ke arah rute yang berbahaya.

"Kau puas sekarang?" Ruhku tersenyum ke arahku.

"Tidak!" Aku menggeleng tegas. Jhon Rivers memang telah berhasil mengandaskan kapal beserta seluruh penumpangnya. Tetapi itu tidak berlaku bagiku. Aku berhasil menyelamatkan diri. 

"Lantas bagaimana cara kamu mati?" Ruhku tampak putus asa.

Aku tertawa. Tawa yang amat lepas. Tawa yang membuat para nelayan bergegas mengayuh perahu mereka menuju pantai seraya berseru ketakutan.

"Kapal berhantu itu muncul lagi membawa arwah Anette yang masih penasaran!" 


***