Hilangnya Gadis Kecil Dalam Pesawat

Pinterest, Ming Hae

Jari-jarinya masih sibuk dengan tuts pada keyboard, tatapannya serius terhadap layar monitor. Tak peduli perintah dalam speaker yang menyuruhnya memerhatikan pramugari yang bertugas memberi aba-aba sebelum take-off. Haninna terus saja mengetik, sebab baginya ungkapan kekesalan hati yang elegan adalah dengan menulis, tanpa orang tahu dan menertawakan kesedihannya.

Haninna tak menyadari sejak kapan gadis kecil berkuncir dua duduk di sampingnya. Seingat dia saat pertama duduk dan take-off tadi tidak ada siapa-siapa, tetapi ditepisnya pikiran macam-macam yang menyergap pikirannya. Haninna berpikir bahwa dia terlalu fokus terhadap tulisannya, berharap dapat menenangkan hatinya yang gulana, sehingga tak menyadari kedatangan teman satu bangku dengannya.

Ada sentuhan pada lengan kanan yang samar, mungkin karena pengaruh hodie peach yang digunakan Haninna. Gadis kecil tersebut menawarkan permen yang dibawanya dengan kedua katup tangan yang menggenggam-membuka-menggenggam. Haninna hanya tersenyum seraya menggeleng, dan kembali mengetik pada note laptop.

Sekitar dua puluh lima menit penerbangan, pramugari menawarkan minuman, dan Haninna memilih lemon hangat, kembali ia merasakan sentuhan. Gadis kecil berkaus hitam dengan rok tutu lucu mengisyaratkan permintaan minum dengan tangan yang menunjuk pada mulutnya. Ketika pramugari kembali dan melewati Haninna, ia request minuman untuk teman satu bangkunya.

Setelah beberapa saat, sang pramugari datang menghampiri dengan sebuah susu UHT kemasan rasa cokelat. Mata gadis tersebut berbinar seakan menunjukkan rasa senang. 

Setelah mendengar ucapan terima kasih dari Haninna, pramugari tersebut  tersenyum dan melangkah ke bangku lainnya yang belum mendapat giliran pemberian soft drink. Penerbangan Haninna kali ini ingin menghindari seseorang yang menikamnya dari belakang. Sahabat yang sudah dia anggap sebagai keluarga. Namun, semua itu hancur karena skandal yang terungkap sehari sebelum Haninna merayakan Anniversary ke-3, bersama kekasihnya, Ray. Pukulan bertubi-tubi yang Haninna rasakan membuat lajang 24 tahun tersebut bertolak ke negara kangguru, tempat omma dan oppanya tinggal. Setidaknya sampai pikirannya tenang.

Menari pada abjad-abjad absurt membuat Haninna melupakan rasa sakit yang terus teringat. Semakin terkenang semakin dalam lukanya menganga, bagai tergores pisau yang terkena cipratan jeruk limau, perih. Sejenak Haninna ingin memerhatikan lebih dalam, mengapa gadis kecil di sebelahnya tidak ada satu keluarga pun yang menemani? Sebelum Haninna bertanya, gadis kecil tersebut memberi sebuah gumpalan kertas. Lantas dengan isyarat tangannya untuk diletakkan pada saku atau tasnya, kembali Haninna tersenyum. Ia enggan bertanya, bahkan tak menyadari apakah gadis kecil tersebut dapat berbicara ataukah tidak, karena sejak pertama menyapa tak sepatah kata pun terucap.

Udara di kabin pesawat terasa begitu dingin di kulit Haninna, melebihi dingin suhu AC di kamarnya. Hingga berkali-kali ia mengenggesekkan kedua telapak tangannya sendiri. Beberapa kali tengkuknya merinding, mungkin pengaruh AC yang sangat dingin. Sampai Haninna merasakan ingin buang air kecil, dan tersenyum sebelum ia beranjak ke kamar mandi. Masih tampak gadis kecil tersebut memainkan kedua kakinya pada tempat duduk mereka, lantas Haninna berjalan lurus ke arah kamar mandi.

Ketika Haninna kembali dari kamar mandi tak ditemui gadis kecil yang duduk di sampingnya, sampai aba-aba pada speaker terdengar. Diharapkan para penumpang menyiapkan diri untuk mengencangkan sabuk pengaman, sebab pesawat sebentar lagi landing, terasa beberapa kali turbensi. Kekawatiran tiba-tiba menyergap pada diri Haninna, sebab sampai aba-aba di speaker terhenti, gadis kecil teman sebangkunya tak tampak di bangku.

Beberapa pramugari telah bersiap menuju pintu pesawat, dan beberapa penumpang tampak merapikan barang-barangnya, tidak dengan Haninna, ia sibuk menunggu gadis kecil teman sebangkunya kembali. Sampai Haninna berjalan menuju kamar mandi, mungkin di kamar mandi lebih dalam atau kamar mandi khusus pilot. Bahkan ia berusaha sampai ke arah dapur, sampai seorang pramugari yang bertugas menegurnya.

Haninna menjelaskan tentang teman kecil satu bangku dengannya. Pramugari tersebut bertanya nomor bangku yang Haninna dudukin.

“Nomer E-12 sedangkan dia E-13, tetapi aku tidak tahu namanya, dan tidak mengenalnya lebih jauh."

Sebelum pramugari yang berbincang-bincang dengan Haninna menjelaskan lebih jauh, ia memanggil teman kerjanya. Dengan isyarat lambaian tangan dan berusaha menjelaskan.

Pramugari yang baru hadir, dengan postur tubuh lebih ramping dan lebih tinggi menjawab pertanyaan teman kerjanya, bahwa tidak ada anak-anak dalam penerbangan kali ini, kecuali seorang bayi yang digendong orang tuanya.

Haninna kembali menjelaskan dan menceritakan apa yang dia lihat, rasa kekawatiran membuatnya bertanya, meski Haninna tak mengenal secara pasti. Haninna hanya ingin memastikan bahwa gadis tersebut baik-baik saja dan say hello sebelum ia keluar dari pesawat.

Seorang pramugari lain pengantar soft drink datang menghampiri teman lainnya, dan Haninna tidak menunda kesempatan untuk bertanya perihal teman kecil satu bangku dengannya. Pramugari pengantar minuman tersebut tersenyum, dan mengangguk. Syukurlah batin Haninna, setidaknya ada orang lain yang bisa ia tanyai.

“Kamu tahu, kan, gadis kecil yang meminta susu kemas rasa cokelat di sampingku?" tanya Haninna.

Namun, pramugari pengantar minuman tadi bergeleng, ia menjelaskan bahwa tak ada siapa-siapa di samping Haninna. Semakin tak mengerti maksud ini semua, dan bagaimana Haninna menyakinkan mereka bahwa jelas ia bersama gadis kecil berkuncir dua dengan rok tutu berwarna gelap. Hingga ia kembali pada bangkunya, yang sebelumnya mengucapkan terima kasih pada beberapa pramugari yang berdiri di hadapannya.

Haninna mengemas barang-barang miliknya dan berjalan penuh pertanyaan dalam benaknya. Sejenak ia dapat melupakan gulana yang menguasai hati, sebab baginya memastikan gadis kecil yang ia temui di bangku pesawat lebih penting dari urusannya sendiri. Haninna berjalan menuju lorong panjang sebelum akhirnya keluar pada belokan pertama. Lantas menuju claim baggage, dan mengantre pada belt menunggu kemunculan koper kuning miliknya.

Haninna bergumam sendiri, menenangkan dirinya, dan mengambil koper miliknya, lantas ia berjalan pada bagian informasi yang terletak di deretan check tiket. Ada seorang petugas berambut blonde yang mencoba Haninna tanyai. Atas informasi petugas loket jaga tersebut menyuruh Haninna berjalan lurus di deretan perkantoran dan datang ke kantor pusat informasi. Sebab di sana informasi apa saja bisa didapatkan, mengenai hal-hal yang perlu kita tanya lebih luas.

Beberapa pigura penghargaan terletak di dinding, juga beberapa foto lelaki berseragam terdapat enam bingkai, bertulisankan masing-masing tahun. Mungkin mereka adalah para direktur utama ketika menjabat, dan di bagian kiri terdapat informasi berbahasa Inggris, yang Haninna tangkap sebagai tata cara melaporkan sesuatu. Ia menghampiri meja panjang seukuran meja kerja, di sana disambut seorang lelaki berseragam berwarna biru muda. Mereka terlibat percakapan, Haninna sedikit bingung untuk menjelaskan maksud dan tujuan ke sana. Meski sepertinya dia paham yang ada dalam benak pikirannya sendiri.

“Jika Anda masih bingung mencari informasi, saya sarankan untuk melihat daftar orang yang dinyatakan hilang oleh keluarga dalam kurun dua tahun ini, Nona.”

Haninna mengangguk, ia duduk di hadapan petugas, lantas mulai membuka lembar demi lembar buku yang berisi informasi orang hilang, dari ciri-ciri fisik, foto dan nomor informasi keluarga yang bisa dihubungi. Begitu lembar ke-43 Haninna tampak terperangah, sebab gadis berkuncir dua dengan kaus berwarna hitam tampak tersenyum, Laura Maghdalena nama yang terdapat di deretan foto yang ia pandangi. Haninna berdiri dan memanggil petugas, lantas ia menjelaskan bahwa inilah foto gadis kecil yang dicarinya beberapa waktu. Ternyata keluarganya mencari sejak setahun lalu menghilang, dengan kronologi penyekapan oleh seorang tak dikenal.

Haninna ingat bahwa gadis kecil tadi memberinya sebuah gumpalan kertas, mungkin saja bisa menjadi informasi penting untuk keluarga, ternyata gumpalan kertas tersebut semacam tiket masuk sebuah galeri beralamat Pusat Seni Kontemporer Australia, 111 Sturt St, Southbank VIC + 61 (02) 9697 9999. Setelah menyerahkan kertas yang Haninna peroleh dari gadis kecil tadi di dalam pesawat, lantas ia pamit pergi dan memberinya secarik kertas bertuliskan nomor ponselnya.

Ada suatu kelegaan hati bagi Haninna, sebab satu permasalahan dapat terpecahkan meski belum sepenuhnya mendapat informasi detail tentang Laura Maghdalena.

Dua hari Haninna telah menikmati kebersamaan dengan omma dan oppanya, mengungkapkan keresaahan dirinya dan pengalaman yang ia dapatkan di dalam pesawat.

Tepat dua hari juga seorang wanita tak dikenal menghubungi ponselnya, mengabarkan bahwa jenazah Laura Maghdalena anaknya telah ditemukan, berkat petunjuk alamat yang diberikan oleh Haninna kepada petugas bagian informasi bandara. Seketika siluet Laura berlalu bersama kepergiaannya, tiba-tiba saja Haninna menitikkan air mata.

Kiki MD,191220