Trauma Keinara

Ilustari Galeri Ani Wijaya

Sosok itu kembali datang, lelaki yang selalu menjadi peran utama pada setiap mimpi buruk. Aku cuma menatap sinis, jangankan mengulurkan tangan untuk memberikan salam seperti perintah Papah. Mendengar namanya saja membuatku tetiba mual dan dibanjiri keringat dingin.

Kaki kecilku memilih berlari ke dalam kamar, menutup rapat-rapat lalu memeluk kedua lutut di balik pintu setelah mencari tempat bersembunyi, tapi tidak aku temukan. Di balik selimut, dia dengan mudah akan menariknya. Dalam lemari,  pasti dapat dibuka paksa hanya dengan setengah tenaga. Atau kolong ranjang? Percuma!  Semua tempat tak dapat menyembunyikan tubuh kecilku dari sosoknya yang perkasa.

Terperangkap, tanpa mampu melepaskan diri meskipun meronta sekuat tenaga dari dekapan dua lengan  kekar milik sahabat Papah itu. Lalu dia membisikan ancaman agar aku diam dan patuh. Bungkam menahan nyeri yang melesak hingga ke ulu hati. Tanpa mampu menangis apalagi pekikan kata tolong.

Semua orang mengelu-elukan lelaki itu sebagai sosok pengusaha muda sukses yang sempurna, tanpa cela sedikitpun. Terutama setelah memiliki keluarga kecil yang tampak begitu harmonis. Seandainya mereka tahu apa yang terjadi belasan tahun lalu. Akankah berbalik mengutuk seorang Rajendra Sanjaya? 

Sungguh salah besar! Setelah memutuskan untuk menuntut di pengadilan, semua media informasi berbalik menuduh orangtuaku melakukan fitnah yang memalukan demi menjatuhkan saingan bisnis. Akun media sosial kami berisi caci maki, cemoohan, hingga cibiran. Bukan hanya mereka, tetangga, sahabat, hingga keluarga dekat melakukan hal yang sama. Jangankan untuk percaya sedikit saja, bahkan mereka memilih menjauhi dan tak mau lagi berurusan dengan kami.

Segala kekisruhan yang terjadi membuat Mama menderita sakit berkepanjangan, hingga akhirnya meninggalkan aku dan Papah untuk selamanya. Usaha Papah yang tengah maju pesat turut berubah drastis. Perusahaan dinyatakan pailit, bangunan kantor, rumah dan kendaraan disita oleh bank akibat hutang yang tak terbayar.

Kenyataan yang lebih menyedihkan adalah Papah yang  menjadi  satu satunya tempat bersandar malah menyalahkan aku. Ia menyesal karena telah mempercayai kesaksian yang aku bongkar tentang Om Rajendra, bahkan Papah tak lagi mau berbicara padaku, mengurung diri dan memilih larut dalam keputusasaan. 

Oleh sebab itu, aku memilih melarikan diri, pindah ke daerah terpencil yang dikelilingi bukit bukit, di sebuah kampung bernama Halimun Giri. Udara yang masih dipenuhi oksigen murni serta hawa yang senantiasa dingin, jauh dari kebisingan dan kedengkian orang orang tak bernurani. Setidaknya di sini, aku Keinara, masih dianggap sebagai manusia.

Banyak pria baik baik, penduduk asli kampung ini melamarku untuk dijadikan istri, namun terpaksa aku tolak dengan halus. Mau tak mau menimbulkan banyak pertanyaan, mengapa di usia yang hampir mendekati kepala tiga aku tak juga mau menikah. Andai mereka tahu catatan kelam yang aku rahasiakan selama ini, masihkah ada lelaki yang berniat meminang?

Belum lagi genap satu tahun hidup dalam ketenangan, sosok perenggut masa depanku kembali menjelma di hadapan. Perusahaan bisnis properti Rajendra Sanjaya Enterprise merambah daerah perbukitan yang melingkupi kampung Halimun. Awalnya mereka membangun villa nan megah sebagai tempat bermukim, kemudian rencana selanjutnya adalah meratakan pepohonan di perbukitan untuk dijadikan real estate.

Mayoritas penduduk desa menolak rencana ini, mereka tak ingin kedamaian yang telah lama terjaga dirusak oleh sentuhan dunia modern. Tetapi percuma saja semua itu tak dapat mengusir sang pengusaha dari Halimun Giri. Hal ini menggugah dendam kesumat yang lama terpendam, aku merangkai rencana untuk membalas apa yang telah dia lakukan di masa lalu. 

Namun,  tak ingin mengulang kesalahan maka kali ini tidak lagi menggunakan cara frontal. Harus menemukan jalan paling halus, cara yang tak kasat mata.  Tetiba saja terbersit untuk mengirimkan guna guna, demi membalaskan dendam mama yang seharusnya masih ada di sisiku, untuk papah yang frustasi dengan kehancuran bisnis yang dibangun dari nol dan tentu saja atas noda yang ditinggalkan pada kehidupanku.

Tidak sulit mencari 'orang pintar' di kampung ini, masih banyak praktek klenik yang sudah menjadi rahasia umum. Dengan bekal desas desus yang aku dengar dari penduduk lokal, aku mendatangi kediaman seorang cenayang yang konon usianya  mencapai lebih dari satu abad. Orang orang memanggilnya Neh Oyot, yang berarti nenek tua, tak ada yang tahu persis siapa nama aslinya.

"Ngan omat, nyi, sing ati ati, lamun eta jalma ngabogaan ajian anu leuwih hade, jampe teluhna bakal malikan kana diri salira," Neh Oyot mewanti wanti.

Teluh ini akan berbalik padaku, bila orang itu memiliki penjaga dengan ilmu dan kekuatan yang lebih tinggi, begitu yang beliau pesan. Aku hanya berpikir selintas bahwa orang semodern Rajendra tak mungkin percaya dengan hal hal gaib semacam ini.

Asap kemenyan menguar, seiring lantunan bait bait mantra dalam bahasa sunda buhun. Bunga bunga tujuh rupa berserak di atas boneka kayu yang ditutupi kain putih. Pria itu akan meregang nyawa dalam keadaan yang paling mengenaskan. Batinku tertawa puas, malam ini aku akan tidur nyenyak sampai pagi. 

Menjelang tengah malam tetiba saja aku merasakan sesuatu mengaduk aduk lambung, disertai darah kental yang menyembur dari mulut, seluruh tubuh panas terbakar seakan disengat ribuan jarum beracun. Ucapan dari sosok renta yang kudatangi tadi terngiang berulang, aku berharap tak terjadi apa apa padanya.

Dengan mengumpulkan sisa sisa tenaga aku berlari menuju villa kediaman lelaki jahanam itu, begitu ingin menikam hati busuknya dengan belati yang diberikan Neh Oyot sebagai 'penjaga' bagiku. Beberapa bodyguard bertubuh kekar menghadang, seperti telah mengetahui akan kedatanganku dari sebelumnya.

Tanpa dapat melawan, tubuh ringkihku  diseret entah seberapa jauh. Sebelum akhirnya dilempar begitu saja ke dalam lubang menganga di bawah pohon beringin tua yang rindang dan besar.

Terhimpit di antara akar akar pohon yang kekar.

Rajendra Sanjaya terbahak puas, sambil berkata kata tentang wadal yang tak perlu susah susah dicari. Perempuan lajang yang dipenuhi angkara murka ternyata datang menyerahkan dirinya sendiri. Sudah tak ada lagi daya yang tersisa dalam raga, gelap dan pengap menyelimuti, awuran tanah perlahan sembunyikan tubuhku dengan sempurna tanpa jejak sedikitpun.

Di saat aku mencoba membuka hati dengan memupuk harap, ingin memulai lembaran baru dalam hidup. Mereka, para pria baik baik yang sempat mengajukan lamaran, malah menghindar bahkan lari terbirit saat melihat sosokku. 

Apa salahku yang hanya mencoba berbuat baik, untuk menunjukkan jalan yang benar saat para lelaki itu tersesat kala merambah hutan di tengah perbukitan ini. Aku hanya mampu menatap mereka dengan hati mencelos, di bawah rindang beringin yang memayungi setiap waktu.