Takut Kehilangan

Fotofrom:wattpad

Kamu ingat dengan jelas, sekitar tujuh tahun lalu rasa gelisah dalam hatimu mulai terbentuk. Saat itu, hatimu mulai riuh dan dadamu menyesak setiap kamu melihat perutnya yang makin membesar dan kamu mulai sering mendapatinya melakukan hal bodoh, semacam tersenyum, tertawa, dan mengobrol seru dengan perutnya sendiri. 

Beberapa waktu sebelumnya pun kamu dibuat sesak oleh suaminya yang memintamu untuk mengurangi kegiatan curhat dengannya baik lewat telpon maupun chat, apalagi jika hanya untuk menyampaikan hal-hal tak berguna seperti saat kamu demam tinggi, kamu dimarahi papa karena bangun kesiangan dan melewatkan tilawah Qur'an, sakit maghmu kambuh, atau ulanganmu jeblok. Suaminya takut beritamu yang pasti membuatnya cemas akan berakibat tidak baik pada kehamilannya yang tak tahu bakal sangat kuat atau tidak.

Kamu juga saat itu mulai ketakutan sendiri akan hal-hal yang padahal tak ia nampakkan. Padahal, ia masih rutin mengunjungimu, lumayan sering menelponmu untuk sekedar memastikan kamu baik-baik saja, masih memanggilmu dengan sebutan 'gadisku', menghujanimu dengan peluk setiap bertemu, tak melewatkan hari spesial tanpa memberimu kado berupa barang-barang yang sedang sangat kamu impikan. Untuk yang terakhir, kamu pernah sempat berpikir jangan-jangan ia dibekali kemampuan membaca pikiran.

Lalu, volume kegelisahanmu makin penuh kala pangeran kecilnya lahir dan menjelma kekasihnya yang tanpa cela. Tambah besar, puteranya tambah menggemaskan. Ya, kamu makin gelisah walau ia tetap belum berubah. 

Satu-satunya perubahan adalah hilangnya kado berupa barang-barang yang kamu impikan di hari-hari spesialmu. Tapi, kamu sedikit paham tentang ini. Ia menjadi pengangguran sejak memiliki bayi. Ia mungkin tak punya budget untuk menghadiahimu lagi. Walau, ya, tetap saja ada yang sedikit menggigit hatimu.

Bersamaan itu, kamu menemukan pangeran dalam arti sesungguhnya di masa-masa paling menggelegakkan dalam hidupmu. Namun, baginya, pangeranmu bukan pangeran, melainkan pencetus masalah yang parah. Pangeranmu kerap membawamu pergi sepulang sekolah sampai malam, menyisakan kemarahan hebat, sekaligus tentu saja, kesedihan tak terperi papa. Ia dan papa juga berkata bahwa tak seharusnya kamu melabuhkan hati secepat ini, saat rok abu-abumu masih beraroma baru. Tapi kamu bersikeras jika pangeranmu adalah pangeran sesungguhnya. Lewat sorot matamu yang menantang mata papa, kamu menjelaskan bahwa keputusanmu final. 

Sejak itulah, kegelisahanmu benar-benar menjadi sempurna. Seperti sosok hantu yang sangat kamu takuti seumur hidupmu, yang pada akhirnya datang di depan matamu. Ia hanya sibuk dengan puteranya dan papa. Ia seperti tak melihatmu lagi ada di dunia. Dan ia yang memang belum pernah marah padamu seumur hidupnya, makin tak pernah marah. Tapi, kamu paham bahwa jenis tak marahnya sekarang berarti tak peduli, bukan seperti selama ini yang ia rela menyimpan marah demi tak membuatmu marah.  

Kamu paham kalau ia sangat mencintai papa dan tentu saja ia tak mau satu orang pun membuat papa menangis. Kamu sadar memang kamu yang melukai papa. Tapi kamu selalu teringat, bukankah ia mencintai papa sebesar mencintai kamu? Dan kamu berpikir, mengapa sekarang, ia menatap papa penuh cinta dan menganggapmu tak ada? 

Kamu menangis, teringat isi sebuah surat yang pernah ia selipkan di buku harianmu bertahun-tahun lalu. 

'Gadisku, tetaplah bahagia, dan selama itu, tak mengapa jika kamu tak mengingatku. Namun, jika satu saat seluruh dunia tak berpihak padamu, datanglah padaku, karena aku satu-satunya yang akan tetap memelukmu'

Tapi, sekarang kamu mendapati ia tak menilikmu saat kamu sedang terpuruk. Dibenci papa dan siapa pun.

Kamu juga pernah tanpa sengaja membaca buku hariannya. Ia menulis bahwa kamu, suaminya, papa, dan calon anak-anaknya adalah matahari-matahari dalam hidupnya. Ia memiliki porsi cinta yang sama besar untuk orang-orang itu. Semuanya laksana matahari, yang tanpa mereka atau salah satu dari mereka ia redup, bahkan hilang arah.

Tapi sekarang, kamu tahu bahwa ia tak menganggapmu matahari lagi. Kamu tak berarti. 

Di ujung kegalauanmu, kemarin kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kamu tak pulang ke rumah sejak jam pulang sekolah. Papa mengabarinya saat malam pekat menampakkan diri namun kamu tak muncul-muncul, namun ia bergeming. 

Pagi ini, kamu diantar ke rumah, tapi tak bernyawa lagi. Laptop dan isi tasmu dirampok dan nafasmu diputus orang yang menemukanmu tengah berjalan sendirian di tempat rawan ujung kota di masa krisis ekonomi yang tengah melanda.

Sayang sekali, kamu tak melihat bagaimana bentuk pias rupanya pagi ini ketika melihatmu. Sayang sekali, kamu tak tahu jika selama ini ia hanya pura-pura melupakanmu. Pagi ini ia sadar jika kamu tak pernah lari dari hatinya. Dan seharusnya, kamu tak perlu melakukan tindakan bodoh untuk sekedar mencuri hatinya.