Lemari Kakek

Dok. Carrosel

Menempati rumah peninggalan orang tua dari Mama adalah keputusan yang diambil saat Papa dipindah tugaskan ke kota ini. 
Ya rumah besar ini hanya ditempati Pak Ohid dan istrinya, itu pun di bagian belakang agak terpisah. Jadi rumah ini masih sangat terawat. 
Saat melihat-liihat gudang aku tertarik dengan sebuah lemari kayu hitam berukir, ukurannya tidak terlalu besar. Bagus untuk menyimpan koleksi buku-buku di kamarku. 

Namun hal itu menjadi awal petaka dalam hidupku. Hampir setiap malam aku bermimpi menyaksikan seorang wanita setengah baya tengah digagahi makkhluk yang entah apa. Tubuhnya tinggi besar, kulitnya merah dengan banyak bulu besar-besar.  Si wanita hanya menjerit tertahan diperlakukan seperti itu. Terkadang ia menatapku dengan penglihatan yang entah. Aku bergidik ngeri juga kasihan. Mau kuceritakan pada Mama atau Papa, aku malu, masa anak perawan mimpi seperti itu. 

Tak sedikitpun terpikir dengan lemari milik kakek sebagai penyebabnya. Hingga suatu hari dengan rasa penasaran aku kembali ke gudang, mungkin ada barang-barang antik. Saat membuka sebuah kardus besar yang ternyata isinya poto-poto lama. Repleks saat melihat sebuah poto aku melemparkannya. Itu poto wanita yang kulihat berkali-kali dalam mimpi. Ia kadang menangis, kadang hanya diam dengan menutup mata saat didatangi makhluk yang aku sendiri tidak tahu namanya. Aku seolah lumpuh, hasrat ingin menolong seakan dikhianati oleh tubuku. Namun pernah juga aku melihat ia menikmatinya. 

"Kamu ini tetap saja kebiasaan bongkar-bongkar. Itu Nenek kamu sayang." saat kuperlihatkan poto yang tadi aku ambil dari gudang. 

"Kok aku tidak pernah mengenalnya, Ma?" selidikku. 

"Ya Iyalah, beliau meninggal saat Mama masih remaja," jelas Mama. 

Pikiraku makin dipenuhi tanda tanya. Besoknya saat Bi Narsi sedang menyapu halaman belakang, iseng kutanyakan perihal nenek dan kakekku. Menurutnya Nenek meninggal di kamarnya dan ditemukan saat pagi. 

Malamnya mimpiku kiat menakutkan, makhluk itu mendatangi wanita yang mirip dengan poto Nenek. Kali ini si makhluk mengerikan itu sangat bernafsu, hingga kuliahat wanita itu mengejang lalu terkulai.  
Malam selanjutnya mimpiku kian seram, aku seakan melihat seorang laki-laki tua tengah di siksa makhluk yang sama kulihat dimimpi sebelumnya. Tubuh laki-laki itu ditendang, diangkat lalu dihempaskan. Kepalanya diangkat lalu diputar hingga berbunyi kreekkk!.
 Seakan tahu tengah diawasi makhluk itu, berbalik menataku. 

Mungkin karena seringnya dihantui mimpi seram, tidurku tidak nyenyak. Hingga berat badanku menurun dan akhirnya drop dengan hipotensi. 
Mungkin afek dari obat-obatan aku jadi berhalusinasi. Disebut mimpi rasanya aku belum tidur. Lemari kakek bergetar.

Ketika detak jantungku mulai melambat, sesosok laki-laki tampan muncul lalu mendekat. Dia tidak tersenyum, datar saja.
Berdiri menatapku. Lalu ia duduk Disamping ku yang tengah berbaring. 

"Kamu pasti jadi milikku, sayang." seraya tangannya mengelus pipiku. 

"Ka-kamu siapa?" suaraku tercekat. 

"Namaku Ki Bagus satrio," bisiknya sangat dekat, hingga embusan nafasnya terasa di kulitku. 
Anehnya aku tak bisa mengerakkan tubuhku. Selanjutnya hanya merasakan kehangatan dan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan.  

Paginya tubuhku terasa maki lemas dan pegal,  bahkan ada rasa sakit dibagian tengah tubuhku. Saat berjalan ke kamar mandipun terasa sakit. Obat dari dokter seakan tak ada reaksinya. Dan setiap malam mimpi itu terus berulang, kehangatan dan kenikmatan yang entah. Hingga suatu pagi aku benar-benar tak bisa bangun. 

Mama yang panik menangis di sampingku,  Papa diam mematung. Sementara aku hanya bisa menggerakkan bola mata saja. 
Lalu datang Mang Ohid dan Bi Narsi yang diikuti seorang sepuh yang berwibawa kurasa. Kini bingung,  sedih, khawatir dan entah apalagi. 

"Ini, Pak Haji Ghofur sudah datang, Pak," mang Ohid bicara sambil membungkuk tanda hormat. 

Papa mempersilahkan Pak Haji Ghofur masuk, lalu memdekatiku. Menatap tubuhku yang tertutup selimut. Lalu menggelengkan kepalanya. Lalu berbalik ke lemari kakek yang tiba-tiba pintunya terbuka. Buku-buku berhamburan. Beliau terus melapalkan bacaan al Qur'an yang telah lama tak kusentuh atau kubaca. Ada rasa sedih mengingat aku sudah lama meninggalkan kewajiban. Bingung,  sedih, khawatir dan entah apalagi. Sejumput penyesalan menikam hati, kenapa semua ini terjadi?

"Mang Ohid, lemari ini bawa keluar kita bakar!" kata Pak Haji. 

Saat pak haji, Papa dan Mang Ohid membakar lemari itu, aku ditemani Mama dan bi Narsi. 
Mereka kembar masuk, pak Haji memberiku minum air putih yang telah dibacakan doa. Ajaib tubuhku sedikit ada tenaga, bisa bangun. 
Menurut Pak Haji,  Kakek melakukan pesugihan dengan media lemari kuno. Dan tumbal atau syaratnya memberikan wanita yang disuka siluman.  Semakin sering siluman itu datang semakin banyak uang terkumpul di lemari.