Doa Terakhir

Ilustrasi/Ist

Engkau datang dengan wajah ngelangut. Digayuti bayangan hari-hari mendatang. Bahkan rambutmu terbiar masai. Tidak ingin kenangan kemarin terhapus.

“Mengapa kamu tetap pergi, Mas?” tanyamu. Getar cemas, rindu dan amarah berbaur seseguk.

“Apa yang bisa aku lakukan selain pergi?” Laki-laki dalam dekapanmu melontar tanya yang sudah berulang engkau dengar. Engkau menghafalnya bagai pidato jenderal tua yang putus asa.

“Kamu hanya mencari pembenar untuk ..”

“Untuk apa?” sergah Lelakimu.

Engkau terdiam. Tidak tega menyampaikan harap yang kini telah menjadi perih. Engkau lebih suka menelan tanpa keluh, seperti lautan. Ibu pernah bercerita tentang lautan yang tetap ceria meski setiap saat manusia menaburi dengan kotoran. Engkau ingin serupa jalan yang tak mengeluh walau setiap hari dilindas dan diinjak.

“Aku tidak tahan dengar omongan bapak,” ujar Lelakimu setelah lama hanya sesegukmu yang terdengar. Lirih.

Engkau menelan ludah. Bapak memang keras, teguh pada pendirian. Bahkan engkau pun kerap menentang. Tetapi engkau kembali menelan ludah. Kala berdua seperti ini, engkau tidak ingin bapak dicela. Namun juga tidak tega melukai lelakimu. Kembali engkau terseguk ketika anak-anak sungai menjalari kulit pipi dengan tonjolan tulang-belulang.

Engkau teringat pada cercaan bapak sore itu.

“Aku tidak akan mengizinkan Ratri melakukan,” kata Bapak, garang.

Lelakimu hanya tertunduk. Wajahnya semakin pias. Tidak ada lagi kegarangan yang tersisa seperti dulu saat menghadapi puluhan pesaing untuk mendapatkan cintamu.

“Mohon Bapak, karena ini jalan satu-satunya,” rintih Lelakimu. Antara terdengar dan tidak.

Namun bagi bapak, suara itu bak genderang. Ditabuh bertalu-talu di tengah medan peperangan. Suara bapak meninggi, lebih tinggi, mengisyaratkan dirinya tidak suka didebat. Ultimatum bapak jatuh tepat mengena ulu hati lelakimu.

“Lakukan sesukamu. Tapi jangan harap aku memberi restu!”

Senja telah lama mengingatkan agar segera beranjak. Gulungan awan hitam di atas kepala semakin tebal. Dua burung prenjak bersembunyi, meski sesekali jeritnya masih terdengar. Terbirit kaok gagak selegam mendung.

“Aku tidak akan pernah merelakan kepergianmu, Mas,” engkau kembali berucap. Gemuruh di dadamu berpacu dengan awan yang kini berganti rupa; menjadi titik-titik air.

“Kenapa Papa dikubur, Ma?” Buah hatimu menggelayut dengan wajah bingung. Dekapanmu pada lelakimu terlepas. Jatuh di atas gundukan tanah merah.

Engkau memeluk buah hati bak ingin menumpahkan segala beban. Lolongmu mulai terdengar dan semakin keras seperti suara bapak.

“Sudahlah, Ratri. Mari pulang,” Ibu mengusap masai rambutmu. “Iklaskan agar jalannya terang.”

Engkau kian melolong. Rombongan pelayat yang semalam ikut membacakan Surah Yasin agar lelakimu disegerakan keberangkatannya, telah beranjak.

“Meski aku menentang kepasrahannya, namun mungkin ini sudah garis tangannya,” seseguk Bapak. Engkau menghambur ke kaki bapak. Beruntung ibu sigap mengambil  buah hatimu.

“Maafkan Ratri, Pak,” ucapmu.

Bapak mematung, membaca doa terakhir untuk menantunya.

Tetiba engkau melihat lelakimu tersenyum, melambaikan tangan lalu hilang di balik awan.