Dedemit Ikan Penunggu Sawah

sawah sawah di lembah Merbabu banyak cerita bahwa banyak sawah di pinggir Jurang dan dekat sungai ada penunggunya.

Lembah Merbabu selalu menyimpan seribu satu misteri, dari munculnya prewangan atau makhluk astral sampai dedemit yang kadang masuk dalam tubuhnya ikan, atau hewan - hewan yang tampak bebas hidup di tegalan, alur sungai sungai seperti Kali Mangu, Mangir dan sungai kecil - kecil yang muncul dari aliran mata air di pinggir jurang atau perengan istilah jawanya.

Di Daerah Jawa khususnya desa – desa yang terletak di seputar lembah Merbabu dan Merapi cerita tentang dedemit tidak asing lagi. Bisa jadi ada hubungannya dengan kepercayaan jawa sebelumnya tentang animisme dinamisme. Terkadang kepercayaan itu menguntungkan dari sisi budaya dan kelestarian alam. Dengan mempercayai bahwa pohon, batu, kolam- kolam yang dijadikan situs dan peninggalan purbakala karena nilai sejarahnya maka, kepercayaan pada adanya dunia lain selain yang tampak terlihat dari mata manusia, di seputar Jawa selalu tumbuh subur adanya orang yang percaya ada alam lain yang tidak terlihat. Penghuninya bisa jadi jin, tuyul dan sebangsa manusia yang wajah ya tampak aneh. Tetapi mereka punya kegiatan yang hampir persis manusia. Yang masih menjadi misteri apakah mereka juga mengenal teknologi semacam gawai, atau mereka punya pekerjaan sampingan sebagai penulis atau menjadi penulis misteri yang membahas tentang misteri dunia manusia misalnya.

Ketika Wilwo, sangat sering blusukan atau blasakan ke tempat – tempat sepi di tepi jurang, di alur sungai mangir dan sungai cukup besar yaitu Mangu. Selalu ada perasaan penasaran dengan jalan berkelok – kelok, pematang sawah, kemudian menembus alur jalan kecil terjal dan penuh duri. Dan di dekat tebing suasana tampak sedikit gelap karena perdu pohon bambu dan pohon nangka menutup ceruk tebing yang cukup curam. Namun Wilwo dan temannya Precil Sugihwono tidak pernah takut, masuk menyisir jurang itu, sesekali terantuk batu dan kaget ketika tiba – tiba ada ular lare angon, sejenis ular sawah melintas dan berdiri. Mereka sedikit kaget namun segera menyelusup kembali masuk ke air pesawahan. Wilwo kadang – kadang harus melompati kelapa utuh yang ternyata sudah berlobang oleh gigitan bajing yang tajam. Gigitannya mampu membuat lubang kelapa. Padahal di dalam kulit kelapa ada batok kelapa yang keras, tapi giginya ternyata bisa menembus batok kelapa itu, kemudian menyesap air kelapanya dan dagingnya yang memutih. Dan sawah di dekat lembah yang penuh pepohonan itu ada sawah yang entah darimana banyak bebatuan kerasnya. Bisa jadi batu itu berasal dari lontaran Gunung Merapi. Padahal tempat itu berjarak sekitar 30 kilo dari puncak Merapi.

Tapi tampaknya batu itu sudah tua dan dipinggir jurang ada pohon Nangka tua yang usianya sudah ratusan tahun. Di Sawah yang konon airnya dari dalam tanah itu ada beberapa ikan yang bebas berenang di antara tanaman padi. Entah mengapa kata beberapa orang tua anak – anak tidak boleh menangkap ikan di situ. Malati, atau istilahnya dapat membuat sakit bagi siapa saja yang membawa ikan dari sawah itu ke rumah untuk dijadikan santap makan.

Tentu saja Wilwo dan Precil Sugihwono tidak begitu percaya, mereka bukan generasi tua yang terlalu banyak percaya gugon tuhon alias dunia gaib atau dongeng misterius khayali. Mereka generasi yang sudah bisa menonton tivi dan sekolah mengajarkan untuk berpikir dengan logika.

Tapi Wilwo dan Precil memang ndregil, nakal dan susah diberitahu. Mereka sering hilang, namun bisa ditemukan, mereka sering, hampir terseret banjir Kali Mangu namun selamat karena pertolongan cepat orang – orang. Orang tuanya sudah juweh atau bosan, malas lagi menasihati.

Suatu hari mereka… mendatangi sawah itu dan membawa satu ikan besar yang matanya melotot dan jarang berkedip… dengan riang mereka membawa ikan itu ke rumah. Sebelum dijadikan santapan makanan ikan itu diinapkan di sebuah ember dan ditaruh di dapur, dekat penampungan air yang besar terbuat dari gerabah.

Wilwo yang capek tidak sempat mandi dan ketiduran di kamarnya. Entah mengapa malam – malam seperti ada yang membangunkan dia.

“Heii, “

Wilwo agak heran suara siapa ya, kok ia merasa belum mengenal suara itu… Ia bangun dan membuka jendela kamarnya. Sepi. Tidak ada siapa- siapa. Kemudian ia meneruskan tidurnya. Baru saja menutup mata, sebuah suara menyapanya.

“Ayo, Wilwo pulangkan aku. Tempatku bukan di sini…”

Wilwo membuka mata. Lagi - lagi tidak terlihat siapa yang bersuara itu.

Wilwo tidur lagi. Saat pulas- pulasnya ia merasa ada yang menabok pantatnya keras – keras.

Sambil berteriak ia berujar

“Ah, kamu Precil, kamu jangan iseng deh.”

“Saya bukan precil, Saya Ikan yang kau bawa tadi…”

Jenggirat Wilwo kaget dan mulai ketakutan.

Ia mencoba memicingkan mata takut muncul wajah mengerikan yang terlihat dari matanya. Ketika ia membuka mata tidak ada siapapun yang ada di kamarnya. Keringat dingin mulai meleleh dari dahinya dan dari punggungnya. Tiba – tiba saja listrik yang baru saja masuk di desanya mati. Gelap gulitalah suasana. Sementara dalam gulita ia merasakan tengkuknya meremang, ia merasakan ada dengus nafas di belakangnya. Dan ketika ia hendak keluar kamar ia seperti terdorong ke belakang dan seperti ada yang menyeretnya menuju dapur.

“Kamu harus mengembalikan saya malam ini juga.”

“Ap…. Apa apaan… aku nggak mau … takut…” Jawab Wilwo ketakutan.”

“Mau kehilangan Mbokmu atau kamu mengembalikan saat ini juga.”

“Yaa…. Yaaa….Baik.”

Dengan meraba – raba dalam gelap Wilwo mengambil ember yang berisi ikan. Ia membawa Ikan itu melewati jalan seram, tanpa penerangan apapun, herannya ia tidak terperosok dan lancar mulus berjalan ke pesawahan pinggir jurang itu. Karena mengantuk Wilwo tertidur di pinggiran galengan atau pematang sawah sampai matahari muncul dari arah Merapi dan Merbabu.

Wilwo dibangunkan oleh tetangganya yang kebetulan mempunyai sawah dengan pinggir jurang itu.

“He, kenapa kamu tidur di sini”

Wilwo melihat sekelilingnya.

“saya di Mana Pak Lik”

“Kamu di sawah pinggir jurang. Kenapa sampai tertidur di situ”

“Nggak tahu kenapa tapi saya sepertinya bermimpi didatangi demit, hanya suaranya saja yang muncul. Ia mengingatkan saya untuk mengembalikan ikan tangkapan saya.”

“Oooo, begitu, makanya le sering dengan apa kata orang tua. Itu ikan dedemit penunggu sawah ini, makanya kamu di primpeni supaya mengembalikan ikan itu ke sini. Lain kali jangan coba – coba tangkap ikan di sini dan di bawa pulang ya…”

“ Ya Pak Lik…”

“Sana pulang, orang tuamu menunggu di rumah.”

“Nggih.”

Bergegas Wilwo pulang dengan dihantui macam – macam pikiran. Tapi iseng – iseng ia berpaling ke belakang….Lah Kok Pak Lik Itu tidak kelihatan ke mana ya….”

Bulu kuduk Wilwo meremang. Lah bukanlah Pak Lik itu wajahnya mirip tetangga yang meninggal 3 hari yang lalu….. Wilwopun tambah kencang larinya.

 

Tamat.