Bentuk Cincin Matahari

Dok. Pinterest

Malam minggu, satu hari sebelum tanggal 21 Juni 2020. Yanti menghubungiku lewat chat pribadi. Dia bilang akan mengajakku ke sebuah kolam di Waterpark Asri, Kota Tegal. Perjalanan ke sana dengan naik Bus Toyo, berangkat dari rumah dari pukul 06.00 pagi. 

Tampaknya, Yanti sangat antusias sekali. Ketika esok tiba, ia sudah menunggu di depan pagar kediamanku. Dengan celana jins warna hitam dipadukan dengan jaket warna biru. Menjinjing sebuah rangsel berisi pakaian ganti dan peralatan make-up yang lengkap. Ia duduk manis di jok becak, memberi ruang kosong di sebelahnya untukku. 

Kira-kira setengah jam dari rumahku, kami akan sampai di terminal. Di sana kami akan memilih naik bus yang tujuannya ke arah Tegal. 

"Kamu yakin, jam segini Bus akan jalan. Ini masih terlalu pagi, Yan. Kamu tahu kan, jadwal piket Bus cuma ada jam 8 pagi untuk berangkat, ini baru setengah 7." ujarku kepada Yanti. 

"Tenang, Tan. Kita bisa cari di luar. Nggak perlu di dalam terminal, lagian kita bisa cari bus lain di pinggir jalan yang lewat. Kan banyak," jawab Yanti. 

Lalu, kami berjalan kembali ke luar pintu masuk. Karena arahnya lebih dekat dibandingkan pintu keluar. Di mulut pintu terdapat tempat menunggu sebelah kanan. Berselang 10 menit, Bus pun muncul. Kami segera naik, duduk di dekat pintu kened berdiri. 

Sang kened bertanya tujuan kami, Yanti yang memberi jawaban bahwa kami akan menuju ke Waterpark Asri. 

Kata Kened, "Mbak cantik nggak denger berita hari ini. Kalau jam 12 akan ada Fenomena alam, gerhana cincin matahari."

"Fenomena apa itu Om?" tanyaku seketika. 

Namun, Yanti tetap sibuk memainkan gawainya. 

"Siang hari akan menjadi gelap, seperti malam. Mending Mbak Cantik liburan ke Mall dan gak usah berenang," kata Kened. 

Setelah Sang kened berhenti menjelaskan, aku ternganga. Kalaupun benar, nanti bagaimana? Bahkan Yanti tak mau tahu. Sekalipun aku memohon kembali pulang atau liburan di lain waktu. Aku yakin Yanti pasti kecewa, ia tak akan menuruti permintaanku. 

Bus berhenti tepat di gerbang Waterpark, kami pun turun bersama. Ada sebuah patung indah seperti dua malaikat yang saling memeluk. Berwarna putih, dalam lingkaran rerumputan--yang bisa untuk tempat selfi. Aku dengan Yanti mulai mengabadikan moment di tempat  itu. 

Masih pukul 08.30 pagi, kami mencari makanan untuk sarapan. Cuma ada semangkok mie instan dan dua gelas es teh yang dapat mengganjal perut. Usai makan, Kami memesan lemari penyimpanan pakaian untuk mendapatkan sebuah kunci yang digantungkan di leher Yanti. Kami buru-buru mengganti pakaian untuk bermain air lebih tepatnya Yanti mengajakku untuk berenang. Padahal dia tahu aku bahkan tak bisa berenang. Ia suka memaksa kehendaknya. 

Deretan kolam yang memanjang, yang memiliki kedalaman masing-masing. Yanti memilih berenang di kolam sedalam 150cm, sedangkan aku masih duduk di tepi kolam sedalam 120cm. Menceburkan telapak kakiku ke dalam kolam air. Kulihat Yanti meluncur dalam seluncuran yang tinggi menurun tajam, byur. Yanti mengulang kembali naik--turun, aku terus memandanginya dari sini. Lalu, ia juga melanjutkan berenangnya sampai pukul 11.30 siang. 

Hingga ia mulai mengajakku ke atas tangga saat jarum jam tepat di angka 00.00 WIB. Aku terus memperhatikan jarum jam tangan anti basahku di lengan tangan kanan. Pikiranku masih teringat pada ucapan Sang kened. Kemungkinan siang ini akan terjadi gerhana cincin matahari. 

 "Aku di belakang kamu, Tan. Ayo kita menurun sama-sama," kata Yanti. 

Jantungku berdegup kencang, Yanti terus memperlihatkan keceriaan. Aku tak sanggup menolak. Di atas sana aku memandang langit yang terang, tiba-tiba menjadi suram. 

"Yan, tapi kayaknya mau hujan. udahan aja yah," pintaku. 

"Kamu takut, Tan. Satu kali aja, habis ini kita balik. Oke."

Percuma saja aku memaksa, lagi-lagi ucapan Sang kened semakin jelas di telingaku. Saat aku akan memberi nasihat kepada Yanti. Ia sudah mendorongku dari arah belakang. Aku jatuh tergelincir. 

Wussss.... 

Tubuhku merosot ke dalam seluncuran, aku berteriak ketakutan. Terjebur ke dalam kolam sedalam 150cm yang sama seperti ukuran tinggi badanku. Aku tak dapat bernapas, bahkan aku mendengar Yanti tertawa sambil meneriakkan namaku berulang kali. Siang itu, aku benar-benar takut. Ketika matahari seolah sudah tertutup awan. Suasana yang tadinya terang benderang menjadi sangat gelap. Pengunjung kolam semua sudah pergi. Aku seperti mau mati. 

Lantas, dimana Yanti? Apa dia juga pergi meninggalkan aku. Saat aku mencoba untuk berdiri di dalam kolam air. Kakiku terus tergelincir. Mencoba untuk menggerakkan bagian kaki--tangan agar tubuhku dapat menepi. Akhirnya, aku bisa menggapai tangga kolam. Dan semua menjadi sangat buram. Napas ini terasa sesak, semua yang terjadi begitu mendebarkan, sebelum kedua mata tertutup. Aku memandang langit. Ada bentuk cincin yang melingkar di atas sana. Sangat gelap, aku yakin aku masih hidup. Bahkan masih dapat menyaksikan Fenomena alam gerhana dalam bentuk cincin yang melingkar di awan pada bulan juni tahun ini. 

Tapi, kemudian aku tidak tahu lagi. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siang ini adalah waktu terberatku, di antara hidup dan mati. Siang dan malam tak bisa dibedakan karena sama juga gelapnya. 

Pemalang, 13 Desember 2020