Abah

Ilustrasi Suku Baduy. Foto: Tribunnews. com

Alun-alun depan rumah Jaro Cikeusik berubah tegang, beberapa mendekatiku sambil berusaha menyabarkan, namun aku telah gelap mata. Kutatap satu-satu wajah Puun tepat di manik mata mereka. Murkaku meledak. Nyaris Jaro menjadi tumbal angkaraku jika saja tak diselamatkan oleh warga. Selebihnya, semua hanya catatan kelam, yang terus masih menyisa pilu setiap kali aku mengingatnya.

***

Peristiwa bermula dari abah yang digotong begitu banyak orang dari arah hutan.

Mereka bilang, abah jatuh dari pohon tempatnya mengunduh madu dengan posisi terakhir ditemukan dalam keadaan terlentang. Dan jatuh dari ketinggian lebih dari sepuluh meter serupa keajaiban ketika abah masih bisa bernafas.

Baru saja dibaringkan di bale ketika abah menjerit lemah. Ternyata punggungnya robek. Ada luka sebesar mangkuk kulihat di sana. Luka yang cukup parah sebab beberapa ruas tulang belakang abah sampai menyembul keputihan. Sementara pada bagian bawah duduk abah lebam biru menggembung besar. Meski tak ada darah yang menetes, namun sepertinya abah mengalami kerusakan pula di tulang ekor.

Para Puun silih berganti datang ke rumah bersama Jaro. Merapal bermacam jampi juga meracik pelbagai obat tradisional, namun semua belum membuahkan hasil. Padahal, lima bulan sudah abah tak berdaya dan hanya bisa tidur dalam posisi tengkurap. Tak ada perkembangan berarti dalam penyembuhan abah. Bahkan luka dipunggung abah bertambah parah serta mulai mengeluarkan bau tak sedap.

Hingga akhirnya tibalah hari itu. Hari ketika semua duka yang kutuang dalam doa menjelma keajaiban, melalui kedatangan dua orang tamu dari tempat yang jauh di luar desa.

Kau tahu apa yang mereka bawa? Sebuah tawaran pengobatan untuk abah, dengan biaya ditanggung seluruhnya oleh negara dan tanpa syarat apapun juga. Sontak bendungan di wajahku jebol. Haru bercampur harapan demi kesembuhan abah yang sedia kala.

Mereka bahkan membawa surat persetujuan presiden bahwa abah akan di bawa ke Jakarta, mendapat pengobatan terbaik serta juga dipersiapkan enam dokter spesialis saraf dan bedah karena memang kondisi abah masuk dalam kasus rumit.

Agaknya kabar penderitaan abah telah menjadi begitu meluas. Terbukti dengan semua yang ditawarkan oleh kedua tamu itu. Pinta mereka hanya satu, yaitu supaya abah dibawa sesegera mungkin karena dikhawatirkan akan terlambat sebelum ditangani.

Yang lebih mengejutkan, kedua tamu itu bahkan mengatakan sudah menyiapkan pula sebuah heli untuk menjemput abah. Semua harus lekas, gegas, sebelum malaikat maut bekerja lebih dulu terhadap abah.

Dengan langkah lebar kuantar kedua tamu menuju kediaman Jaro, lalu dalam gugup kusampaikan kabar gembira yang kuterima barusan.

Tapi ternyata untung tak dapat digantung malang tak bisa ditendang. Setelah banyak hembus nafas berat, Jaro hanya berujar sepatah. Hanya seucap kalimat.

“Nu lojor teu meunang dipotong, nu pondok teu meunang disambung.”

Buru-buru aku memohon dengan amat khidmat, agar sekali ini saja diadakan pengecualian mengingat kondisi abah yang amat membahayakan jiwa.

Tapi Jaro bersikukuh pegang teguh pikukuh, sambil mengatakan bahwa segala sesuatu telah ada ukuran dan tatanannya serta tidak diperkenankan untuk merubah yang telah ada sejak dulu. Termasuk pelarangan bagi Suku Dalam untuk keluar wilayah, dengan alasan apapun juga.

Aku terus memohon dengan penuh kesungguhan, serta memberanikan diri untuk menanggung segala resiko yang bakal tercipta dari pelanggaran adat ini. Namun semua sia-sia. Jaro tetap bergeming. Pembicaraan selanjutnya berjalan amat alot, baik bagi diriku maupun juga tamu yang kubawa melalui salah satu mereka yang ternyata seorang penerjemah bahasa.

Jaro akhirnya mengambil jalan tengah.

Sesaji segera digelar bersama ritual yang dilakukan Jaro guna memohon petunjuk kepada Sang Hyang Tunggal.

Jaro menjumput Jukut komala, mencimit lemah bodas serta menggenggam luluy untuk kemudian disatukan lalu beliau merapal jampi serta meniup tiga kali. Begitu terus berulang beberapa kali, sebelum akhirnya hening yang agak panjang. Ritual yang sebenarnya tak terlampau lama namun entah mengapa kurasa amat memakan waktu, terutama ketika setiap detik kurasa amat berharga bagi keselamatan jiwa abah.

***

Keputusan akhirnya jatuh. Jaro memberi keringanan bahwa tindakan medis untuk abah harus dilakukan di tapal batas Sungai Cibarami.
Kedua tamu yang kubawa menyanggupi. Mereka segera melakukan koordinasi jarak jauh yang kudengar menyebut-nyebut semacam rumah sakit darurat berperalatan medis canggih plus dua mobil generator dengan daya semasingnya 60.000 watt.

Tapi belum lagi semua dipersiapkan ketika kendala lain kembali menerjang.

Kedua tamu memberi tahu bahwa tempat yang disarankan Jaro terlalu beresiko untuk menggotong abah dengan tandu. Butuh waktu tak kurang dari enam jam berjalan kaki untuk abah sampai di lokasi dan segera ditangani. Yang paling membuat ragu justru kemampuan abah untuk bertahan. Sebab paruh hari itu terlalu riskan bila meminta nyawa abah sebagai taruhan.

Berkali-kali aku memohon, namun sebanyak itu pula Jaro menolak pengabulannya, hingga akhirnya kedua tamu yang kubawa menyerah dan pulang ke tempat asal mereka karena merasa semua akan hanya sia-sia belaka.

***

Jamang sangsang selesai kukenakan, lengkap dengan ikat kepala putih khas milik adat kaumku. Tak lupa kubawa pula bedog pamor kesayangan. Hanya satu yang kutuju: kediaman Jaro.

Bukan aku tak tahu beberapa warga mengendap diam-diam membayangi langkahku dari arah samping dan belakang. Namun aku tak peduli. Aku telah gelap mata.

Rombongan Puun lintang-pukang kuterjang. Meski sayangnya, Jaro selamat. Hanya kediamannya yang hancur oleh amuk penuh dendam milikku. Selebihnya hanya pilu, cuma ngilu.

Benar bahwa aku menjadi pemenang tunggal dalam amuk tersebut. Tapi pemenang yang benar-benar kalah lahir sekaligus batin. Kalah buah kehilangan abah, serta kemudian terusir dari Desa Kanekes, tanah kelahiran tercinta.

***

A tribute to: Sanadi, warga Suku Baduy Dalam, Era pemerintahan SBY.

Glossarium:
Jaro = Kepala Kampung, Kepala Adat.
Puun = Sesepuh.
Nu lojor teu meunang dipotong, nu pondok teu meunang disambung = yang panjang tak bisa dipotong, yang pendek tak bisa disambung.
Pikukuh = Adat-istiadat.
Jukut komala = sejenis rumput permata.
Lemah bodas = tanah putih.
Luluy = Makanan khas Suku Baduy dari bahan beras yang dimasak dengan bambu.

Bedog pamor = Senjata khas Baduy Dalam serupa golok yang memiliki urat-urat atau motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal hingga ujung bedog pada kedua permukaannya. Memiliki kekuatan dan ketajaman melebihi bedog polos biasa, yang juga sekaligus penambah kharisma tersendiri bagi yang menyandangnya.