Catatan Kelam Pemilik Baru Keris Bertuah

Sumber gambar: Wikipedia

Aku kaget mendengar penuturan Mbah Mo. Sejak memiliki keris itu banyak catatan kelam kualami. Kejadian semalam nyaris merenggut nyawaku. Jika beliau tidak menyelamatkanku, mungkin aku sudah berada di alam lain.

Pagi itu, aku mendengar kabar Paklik Min meninggal. Mendadak. Katanya sih sakit jantung. Berat tubuhnya yang berlebih menjadi salah satu penyebab penyakitnya. Aku jarang melihatnya. Walau bertetangga, tapi aku jarang melihatnya karena kesibukanku di tempat kerja.

Ketika melayat, mataku tertaut pada sebilah keris yang teronggok di ruang tengah. Di dekat televisi. Sebagai pengoleksi keris, aku tahu keris yang bagus. Ornamen gandik dan wadidang keris milik paman begitu indah. Gandik merupakan ‘raut muka keris.’ Sedangkan wadidang adalah ‘punggungnya’.

Aku memberanikan diri untuk memintanya pada Bulik Min setelah 7 hari wafatnya paman. Aku memang suka mengoleksi benda-benda seperti itu. Bukan hanya keris, aku juga mengoleksi senjata tajam khas Indonesia. Ada mandau, celurit, rencong, sabit, golok, kujang, dan lainnya. Semua kuperoleh ketika aku bertugas ke suatu daerah. Dapat dipastikan aku membawa pulang senjata khas daerah tersebut.

Simbol ‘kejantanan’ dalam masyarakat Jawa itu masih di genggamannya ketika beliau meninggal. Bulik tidak pernah tahu apa yang dilakukan suaminya dengan keris itu. Yang bulik tahu, paklik selalu memandikannya setiap malam Jumat Kliwon. Dimandikan dengan kembang tujuh rupa. Konon, sejak Paklik Min memegang keris buatan Empu dari dari Blitar itu, usaha sebagai penjual sapi menjadi lancar. Bulik tidak pernah memperhatikan lebih lanjut, yang penting dapur terus mengepul dan hidup mereka berkelimpahan. Aku tidak terlalu mendengarkan cerita bulik. Aku tiada henti mengagumi keindahan keris itu.

***

Semenjak keris itu menjadi milikku aku merasa ada beberapa kejadian aneh di rumah. Awalnya aku tidak terlalu peduli. Mungkin karena aku kecapekan setelah bekerja, aku mulai berhalusinasi. Aku berusaha berpikiran positif. Berulang kali aku seperti terpeleset ketika hendak menaiki tangga. Gelas yang aku rasa kupegang dengan kuat tetiba mrucut. Jatuh begitu saja.

Tapi tidak dengan istriku. Walau aku mengalami beberapa kejadian aneh, tapi aku tidak bercerita kepadanya. Keris itu kutaruh bersama dengan benda-benda tajam koleksiku di kamar atas. Hanya sesekali aku mengeceknya. Sekali lagi, dengan alasan kesibukan aku mulai jarang menengoknya.

Aku juga mengalami kisah sedih harus berpisah dengan kucing kesayanganku. Ini kualami ketika istriku mudik ke rumah orangtuanya selama seminggu. Keti kucingku tidak terurus. Aku sibuk di kantor. Mungkin ia naik ke atas untuk mencari tikus atau cecak. Dan ketika melompat, ia jatuh tidak pada posisi yang tepat. Tubuhnya menembus bilah senjata-senjata tradisional yang baru saja kubersihkan dan kutata dalam keadaan berdiri. Aku menyesal kenapa tidak segera membereskannya setelah kubersihkan. Sialnya lagi, aku menemukan Keti setelah beberapa hari. Bau tidak sedap dari kamar ataslah yang menarik perhatianku. Aku menguburkannya dengan baik. Tapi tidak kukabarkan pada istriku jika Keti mati mengenaskan.

Malam itu, aku merasa ada yang memanggilku. Istriku sudah tidur pulas. Aku berjalan ke arah suara. Tanpa sadar tentunya. Aku keluar rumah. Menuju sumur tua di belakang rumah Mbah Mo, tetanggaku. Orang pintar yang selalu menjadi tujuan jika ada makhluk astral yang dianggap mengganggu. Air sumur itulah yang dipakai sebagai jampi.

Penerawangan Mbah Mo memang tepat. Ia menghentikanku tepat sebelum aku melompat dari bibir sumur. Aku terkaget. Dukun tua itu menimba air dan menyiramkannya ke tubuhku. Aku terhenyak. Sadar. Aku menceritakan semua kepadanya. Mbah Mo berjanji akan mengambil ‘isi’ keris Paklik Min. Aku  mengiyakan karena tidak ingin hal buruk terjadi padaku lagi. Inilah sedikit catatan anak manusia yang kurang memperhatikan benda yang ada nilainya.

 

 

#catatankelam

#kisahsedih

#catatananakmanusia