NIN

Ilustrasi/ist

Bapak menggendongku. Kami berlari begitu buru, coba menembus hamparan gelap yang menghadang dimana-mana dengan sekuat daya. Andai malam ini tak pernah terjadi, tentu catatan kelam yang tercipta tak memakan terlalu banyak korban.

Napas bapak sudah amat sengal, tapi makhluk itu masih juga mengejar tanpa ampun. Sesekali aku dapat melihat tangannya yang berkuku runcing merobek kulit pundak bapak. Tapi bapak enggan menyerah, masih berlari meski menabraki apapun di depan kami. 

"Bapak, Nin takut," bisikku saat langkah bapak menyusut perlahan karena beberapa waktu terakhir makhluk itu berhenti mengejar setelah bapak meludah ke arahnya. 

"Nin pegangan yang kuat-Jangan dilepas sedikitpun... Pegang leher bapak sekencang mungkin," jawab bapak patah-patah sembari mengatur napas. 

Aku lega karena tampaknya suasana sudah lebih tenang sebelum sebuah tawa baru malah menggenapkan ketakutan kami. Tawa yang besar dan bergema, datang dari segala penjuru mata angin dan mengepung kami telak. 

"Ingat janjimu, Darma! Anak itu adalah yang terbaik yang kau janjikan. Anak itu sudah kau tukar. Dia bukan milikmu lagi!" Tawa itu kembali membahak setelah berhasil membuat pelukan kami kian rapat. 

"Tidak. Aku tidak akan memberikan Nin pada kalian. Dia anakku. Anak perempuanku." 

Tawa itu masih menggantung di ufuk langit. 

"Tidak pernah ada yang bisa berkelit dari janjinya sendiri, Darma! Setelah semua yang kau minta kuberi, lalu kau akan mangkir? Kau tahu bahwa janjimu bukan main-main!" 

Bapak meludah lagi, berkali-kali, sebelum ia membawaku kembali berlari. Suara itupun lenyap sesaat, lalu datang lagi dalam rupa geraman yang menakutkan, seperti kemarahan yang tengah bersiap meledak. 

"Bapak, telinga Nin sakit," keluhku saat geraman itu membuatku perlahan kehilangan pendengaran. 

"Nin, pegang leher bapak, Nin, jangan tutup telinganya! Pegang leher bapak, Nin!" bapak seperti berteriak padaku sembari terus berlari, tapi aku tak kuasa untuk menahan tangan agar tak menutup telinga. 

"Niiinn!!!" bapak berteriak sambil mengejarku yang tiba-tiba merosot dari gendongannya. Sesuatu menarik kakiku begitu kuat hingga tubuhku terseret menjauhi bapak. 

"Bapak, Nin takut. Kaki Nin sakit. Bapak, sakiitt..." ratapku saat tubuh entah kenapa tiba-tiba berhenti. 

"Tuhan... Tuhan...." Bapak menggendongku, menyingkirkan rambut yang menutup muka, juga membersihkan tangan, kaki, dan wajahku yang kini dipenuhi luka gores. 

Tahu-tahu tawa itu meledak lagi, lebih keras dan mencekam. 

"Untuk apa kau sebut Tuhanmu sekarang, Darma? Hahahahaha. Berikan anak itu, atau kau akan pulang ke neraka." 

Bapak menggeleng keras, "Hentikan, Ki. Jangan ambil anak ini. Biarkan dia hidup, biarkan kami hidup." 


Sebuah sentakan sakit dan panas menghantam kami membuat jeritku melangit. Aku dan bapak terpisah, entah untuk berapa lama. Yang kutahu, ketika aku sanggup duduk, aku melihat di kejauhan bapak seperti tengah berdiri di atas kedua tangannya. 

Aku tidak tahu apa yang bapak lakukan. Tapi kemudian aku sadar, bapak bukan sedang berdiri terbalik, tapi melayang. Ya, bapak melayang, tangannya bukan menopang tubuh, tapi terkulai lemas. 

"Bapak..." aku membisikkan nama bapak dalam gemetar takut melihatnya demikian. Entah apa yang terjadi malam ini. Entah siapa yang sejak tadi mengungkung kami di sini. Aku ingin pulang, tapi bahkan bergerakpun aku tidak berani. 

"NAWAAANGGGG...!!!" aku terkejut, bapak memanggil nama ibu dengan teriak yang begitu sayat. Setelah itu hening, amat sangat hening. Dan aku merasa sangat mengantuk.

"Kak, Nin bangun, Kak! Nin Bangun!" Aku mendengar suara memanggil namaku, namun berbicara pada sosok yang jauh.

"Ya Allah, Nin, anakku!" Kemudian ciuman bertubi-tubi menghujani wajahku. 

Butuh beberapa waktu hingga aku dapat membuka mata sepenuhnya dan memahami bahwa orang-orang tengah mengerubungiku. Di tangan mereka ada sebuah buku kecil, salah satunya buku yang digunakan saat tahlilan kakek dulu.

"Bapak, Nin takut," hanya itu yang lirih kuucap sebagaimana kejadian terakhir yang kuingat. 

Ibu memelukku, bahunya terguncang oleh tangis, "Nin di sini sama ibu, Nak. Jangan takut. Di sini banyak orang. Semua paman dan bibi juga di sini. Nin jangan takut lagi, ya." 

"Bapak dimana? Tadi bapak panggil ibu," ingatanku masih tertinggal pada kejadian terakhir.

Ibu mengangguk, suaranya berganti air mata. 

"Kak, Kak Darma meninggal!" seru seseorang dari balik pintu. Aku ingat, itu suara yang tadi, mirip suara paman. Apa dia bilang? Bapak meninggal? Aku makin merasa jadi linglung.

Aku mendengar seluruh ruang mengucap istirja, tapi tidak dengan ibu. Ibu hanya menatapku, lalu mengernyit meraba tengkuknya sendiri, seperti tengah menahan rasa sakit yang amat. Tak lama kemudian ibu meraung, meraung kencang sekali. 

Seisi ruang panik. Ibu tak henti meraung bahkan setelah dibacakan ayat-ayat oleh tetua di kampung kami. Ibu terus meraung hingga malam menjelang, hingga orang di seluruh kampung datang hendak menyaksikan tragedi di rumah Anggota Dewan Yang Terhormat ini. Ibu meraung, sementara aku masih lirih menangis di pelukan bibi. 

Hari ini, setelah umurku genap tujuh belas dan sudah mendapatkan menstruasi pertamaku yang jauh amat lambat ketimbang teman lain, paman membawaku ke suatu tempat. 

Melintasi hamparan sawah yang luas sekali. Di musim padi baru saja berisi seperti ini semua serempak hijau, mengangguk angguk diterpa angin seolah memberi penghormatan padaku dan paman saat berjalan di antara celah mereka. 

Kami tiba di sebuah rumah yang keberadaannya tersembunyi di balik naungan beringin lebat dan besar, di tepi hutan beberapa ratus meter jauhnya dari penghabisan kawasan sawah. Mungkin lebih tepatnya gubuk, karena meski strukturnya sama dengan rumah tapi ukurannya terlalu kecil, nyaris sama seperti kamar mandi di rumah. Paman lalu mengambil sebuah sendok dari saku celananya, dan dalam sekali congkel ia berhasil membuka pintu reyot itu. 

Hawa busuk dan anyir menyerbu seiring terkuaknya pintu, membuatku refleks menutup mulut melawan kehendak lambung yang memaksa ingin menguras seluruh isi di dalamnya. Paman sepertinya mengalami hal yang sama, menutup hidung menggunakan lengan kemeja sebulum akhirnya mendahului masuk. Dan pemandangan di dalam, entah apa sebenarnya yang terjadi. 

Ada ranting- ranting kering berserakan. Ada tulang belulang. Entah. Mungkin tulang hewan. Ada semacam biji-biji tasbih yang burai. Ada boneka sebesar telapak tangan, beberapa mainan anak kecil, dan... ada fotoku! Mungkin saat berusia empat atau lima tahun. Tergeletak kusam dan mulai dipenuhi bercak serupa karat.
Persis di sebelah foto masa kecilku itu tergeletak sebuah cawan yang awalnya mungkin berwarna putih meski kini warna itu menghitam, berkerak dan bau. Dari cawan itu paman menjumput sebuah lempeng seperti kayu yang dilapisi plastik bening.


"Nin" bisikku meraba makna gambar bulan dan bintang berwarna merah menengadah ke atas dengan dua garis horizontal bertumpuk sejajar persis di bawahnya. Aku ingat kini, gambar seperti itu pula tertera pada kalung masa kecilku dulu. Aku bahkan tidak sadar kemana kalung itu sekarang, juga lupa kapan terakhir kali memakainya.

"Waktu itu sudah tiba saat bagi bapak menyerahkanmu sebagai mahar kepada dukun di Gunung Kalingga sana untuk semua kekayaan dan kedudukan di pemerintahan yang dimilikinya. Tapi bapakmu menolak.”


Penjelasan paman membuat api kenangan buruk yang telah redup perlahan mulai benderang kejadiannya, meski entah mengapa semuanya masih terlalu samar untuk bisa kucerna sempurna.


“Setelah kejadian itu, kalian berdua koma dalam waktu yang lumayan lama,” lanjut paman. “Kamu berhasil bangun, tapi bapak meninggal. Dan sebagai ganti penolakannya demi menyelamatkanmu, ibu menjadi seperti sekarang.”


Kalimat lanjutan paman seperti memancing suatu ingatan tersembunyi dalam kepalaku, namun entah mengapa ingatan itu masih juga serupa penggal-penggal fragmen yang tak bisa utuh. Berloncatan dari satu kejadian seram lalu diganti paksa dengan ingatan lain berisi peristiwa yang sama menakutkannya. Tapi bukan serupa alur kejadian yang bersambungan satu sama lain.

“Tidak ada yang tahu mengenai hal ini, Nin, tidak juga ibumu. Hanya paman, karena ketika niat kotor itu muncul di kepala bapakmu, ia membaginya pada paman. Mungkin karena menurutnya hidup paman ini miskin dan susah. Paman menolak mentah-mentah saat itu, tapi tak menyangka bapakmu bergerak sendiri, berjalan hingga begitu jauh." 

Aku tertegun mendengar cerita paman. Meski masih meraba, aku merasa ada kepahaman aneh yang membuatku bisa menyelami penjelasan paman. Meski agaknya kenangan itu terjadi terlalu lama, dengan aku yang masih amat kecil hingga tak banyak ingatan yang bisa kupanggil kembali ke masa kini.

"Lalu buat apa kita ke sini, Man?" 

"Untuk membebaskan ibumu. Bukankah kamu merasa kasihan dengannya? Sudah lebih dari sepuluh tahun, Nin." 

Benar, sudah lebih dari sepuluh tahun ibu menjalani hidupnya dalam keadaan sinting. Aku bahkan sudah pasrah saat ibu menjadi langganan banyak rumah sakit jiwa tapi tak kunjung sembuh. Belum terhitung entah berapa tabib bahkan paranormal yang didatangkan ke rumah. Semua bilang sama, berusaha tapi tak membuahkan hasil.

"Kenapa baru sekarang paman ajak Nin untuk menyembuhkan ibu?"

Paman menggeleng, "Belum bisa jika belum tiba masamu anggarapsari, Nin, itu yang paman tahu hasil mengobrak-abrik catatan bapakmu. Kemarin begitu bibimu bercerita kamu sudah dapat, paman segera menyiapkan diri untuk datang kemari. Tak ada yang tahu tempat ini. Hanya bapakmu, paman, dan sekarang kamu." 

Bau busuk di dalam sini semakin menusuk hidung, padahal aku tidak melihat satu pun ada bangkai tergeletak. Paman lalu menyerahkan satu botol bensin kepadaku yang dibawanya dalam kantong hitam sejak tadi, juga sebuah korek api. 

"Bakar sekarang juga, Nin, kasihan ibumu." 

"Setelah ini ibu akan benar-benar sembuh, Man?" 

Paman menatapku iba, lalu menggeleng. 

"Tidak ada yang tahu mengenai hal itu selain bapakmu. Paman hanya membaca petunjuk yang ada dalam catatan miliknya, sedangkan penjelasan lainnya entah di mana. Mungkin disimpan sendiri di dalam jiwanya. Yang paman tahu, ini cara paling pamungkas menghilangkan pengaruh ilmu bapakmu sementara pemiliknya sendiri telah meninggal, Nin." 

Ada yang terasa kosong di dalam kepalaku, tapi aku toh tetap harus melakukannya. Tak butuh lama, kobar api melenyapkan seluruh bangunan reyot itu beserta isinya, menyisakan abu yang serpihannya begitu rapuh.

Kami meninggalkan sisa pembakaran tersebut setelah memastikan seluruh bara telah padam, lalu beranjak menuju rumah. Penuh harap aku pada kesembuhan ibu, atas akibat yang  ditanggung oleh sebab yang tidak diketahuinya.

Tapi angin musim kering menerbangkan semuanya, menerbangkan harapku hingga tercerabut sampai ke akar-akarnya. 

Bibi menyambut kami di pintu rumah, wajahnya gusar. Ia bercerita tentang ibu yang menjadi aneh sejak kepergian kami. Dibawanya kami ke kamar ibu. Di sana kutemukan ibu lelap di tempat tidur, meringkuk memeluk fotoku dalam bingkai masa kecil dengan rambut berkuncir dua. 

Aku memeluk tubuh yang kini amat kurus itu. Wajahnya kelihatan kusam dibalut kerudung berantakan yang hanya dipakai sekenanya, bahkan beberapa rambut menyembul keluar tak beraturan. Ibu terlihat sangat tua, padahal umurnya belum mencapai setengah abad.

Aku menanti ia balas memelukku. Tapi ibu tidak melakukannya, ibu tidak pernah memberiku pelukan balasan.

Ibu diam saja. Mungkin memang sudah cukup masanya menjadi gila. Ibu sudah berhenti. Ia tidak pernah bangun lagi. 

[-]


Glossarium:

Istirja = Kalimat Inna lillahi wa inna ilaihi raajiuun.

Anggarapsari = Haid, menstruasi.