Jalan yang Tertutup Teluh

Sumber Gambar: Pixabay.com

 

Berapa banyak kisah nelangsa yang telah kubingkai dalam keabadian? Bukan bersama kematian, tetapi dalam hati yang rapuh dan mudah gelisah ini. Aku memiliki catatan kelam yang mungkin lebih pekat dari gelapnya malam. Permasalahan yang tampak sepele, tapi memberikan pukulan pada setiap inci perjalananku hingga nyaris tidak kumiliki setitik kebahagiaan dalam kehidupanku belakangan ini. Bahkan aku lebih sering berpikiran untuk mati saja. Semua hanya karena jalan yang tertutup teluh, yang sayangnya terlambat untuk kuketahui.

Terhitung tujuh bulan sudah sejak pertama kali aku dihujani sakit-sakitan yang tidak seberapa itu. Sesekali aku memang mengalami kejang seperti orang kesurupan, kadang juga hanya muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Belum cukup dengan itu, aku juga kerap mengalami nyeri pada bagian perut hingga kantung kemih. Dokter kehamilan bilang, aku tidak menderita penyakit apa pun, terkhusus di bagian rahim. Namun pernyataan tersebut terasa janggal mengingat aku kerap merasakan nyeri yang teramat pada area perut.

Kali ini aku kembali berpikir tentang penyebab semua peristiwa ganjil itu sembari menikmati segelas teh hangat yang baru kubuat. Aku menyukai teh chamomile yang aromanya sangat menyegarkan. Ini hanya persepsiku yang memang mudah terpengaruh oleh deretan artikel yang kubaca. Dan salah satunya tentu menyangkut kegunaan teh chamomile yang bisa menenangkan serta menjauhkanku dari insomnia sialan itu.

Aku menikmati kesendirian di kursi atom yang warna merahnya telah pudar. Sesekali aku hanya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya melalui mulut dengan setengah frustrasi. Mengeratkan pejaman mata juga menjadi salah satu kesukaanku di saat hati gelisah seperti sekarang ini.

Biasanya malamku tidak pernah senyap seperti ini. Setidaknya ada nyanyian nyamuk dan jangkrik yang saling bersahutan, atau juga dengan geliat manja dedaunan lebat yang bertengger di setiap dahan pohon. Akan tetapi kali ini suasananya berbeda. Aku seakan-akan tengah digelung kegelisahan yang lagi-lagi merapuhkan separuh dari ruang hati. Entah mengapa rasanya aku menjadi sangat gelisah.

Mendadak jantungku berdegup kuat seolah-olah ingin memecahkan pembuluh darah. Tiba-tiba saja kepalaku dipenuhi dengan kilasan-kilasan peristiwa yang terjadi selama tujuh bulan lalu. Ketika aku pertama kalinya mendadak tidak bisa melihat apa pun selain kegelapan. Saat itu aku berpikir akan menjadi gadis buta, tetapi Tuhan masih berbaik hati. Pada kenyataannya aku terserang teluh. Beruntungnya ada tetangga yang mengerti tentang peristiwa mistis itu dan membantuku terlepas dari teluh yang bertujuan ingin menghilangkan penglihatanku. Meskipun rasa sakitnya hampir membuatku mencongkel kedua bola mata ini, tetapi setidaknya kali itu aku terselamatkan.

“Freya, ngelamun lagi?” Ayah menepuk bahuku pelan.

“Nggak, kok, Yah. Cuma kepikiran pas pertama Freya sakit dulu,” jawabku spontan.

Ayah menarik kursi atom yang ada di sisiku, lalu duduk di sana sembari menyulut rokok dalam jepitan jarinya. “Kita itu memang sudah digariskan akan hidup seperti ini, lalu mau bagaimana lagi,” ujarnya dengan suara bergetar seakan tengah menahan kegelisahan yang sama denganku.

Aku menggeleng sembari meremas-remas jemariku untuk mengurangi kegelisahan yang menguasai hati. “Ayah sadar nggak, sih, kalau Freya sekarang jadi susah banget dapet penghasilan? Biasanya Freya gampang dapet duit entah dari mana saja jalannya. Toh, apa yang selama ini Freya lakukan itu pekerjaan yang halal. Tapi kenapa usaha Freya nggak menghasilkan sama sekali beberapa bulan belakangan ini?”

“Iya, Ibu juga merasa rezeki kita, kok, seperti mandek,” sahut ibuku yang baru saja datang membawa segelas kopi untuk ayah. “Yang lebih terasa itu waktu Ayah panen kopi. Tetangga pada dapat berkuintal-kuintal, tapi kita cuma dapet lima belas kilo. Apa ya, nggak kebangetan pdahal kebun kita luas.”

Ayah diam sejenak, lalu menyeruput kopinya. “Kalau memang sudah begitu takdirnya, ya, mau bagaimana lagi, Bu?”

“Bisa nggak, sih, Yah, jangan pasrah sama takdir melulu gitu!” Ibu memberengut, lalu beranjak meninggalkan kami.

“Ibu ngambek, Yah. Makanya Ayah jangan kebiasaan pasrah sama takdir,” ucapku ringan. “Freya ke kamar dulu!” Kemudian, aku turut meninggalkan selasar rumah dengan perasaan yang semakin tidak karuan.

 Namun sebelum sampai di kamar, pendengaranku dikejutkan dengan suara Mbok Maryam. Suara paraunya terdengar jelas, sepertinya aku tidak sedang berhalusinasi. Namun bukannya segera memastikan, aku malah mematung sembari meremas jemari tangan dan menggigit bibir bawah. Perasaanku semakin gamang sebab biasanya Mbok Maryam hanya datang ketika ada permasalahan yang serius terkait hal mistis.

Aku yang menyadari bahwa mereka memiliki suatu urusan segera bersembunyi di balik pintu untuk menguping pembicaraan.

“Anakmu sudah tahu?” tanyanya dengan suara berat.

“Belum, Mbok. Aku belum siap jujur kepadanya.”

“Ini bukan perkara yang biasa, Man. Anak dan istrimu sudah seharusnya tahu. Ini tentang keluargamu dan kamu harus segera mengambil tindakan sebelum semuanya semakin kacau.”

Aku terperangah ketika mendengar kalimat penutup Mbok Maryam. Ada apa sebenarnya? Pertanyaan itu memenuhi pikiranku. Dengan terpaksa aku mengintip melalui celah kecil di pintu.

Beberapa menit berlalu, aku hanya melihat Mbok Maryam berjalan mondar-mandir dengan langkah tertatih-tatih.

Aku yang sudah penasaran akhirnya memberanikan diri untuk keluar dan bertanya,  “Ada apa, Yah?” Gemuruh dalam dadaku kian membara, sesungguhnya aku tengah ketakutan. “Apa aku diguna-guna?” tandasku dengan perasaan getir.

Namun ayah menggeleng.  “Selama tujuh bulan ini sebenarnya Ayah nggak cuma santai-santai dan pasrah pada takdir, Fre. Ayah lagi berusaha untuk menemukan jalan keluar.”

“Memangnya ada masalah apa, Yah?” tanyaku lagi.

“Sebenarnya tujuh bulan terakhir ini ada yang menutup jalan kita.” Ayah menggantungkan perkataannya. “Itulah mengapa Ayah meminta bantuan pada Mbok Maryam. Ayah pengin kita bahagia seperti dulu lagi. Setidaknya apa yang kamu dan ibumu butuhkan bisa tercukupi, nggak seperti saat ini. Setiap hari, makan saja cuma bisa pakai sambal dan ikan asin. Paling mentok pakai mie dan sayur kangkung. Ayah nelangsa melihatmu yang sakit-sakitan tapi nggak bisa makan makanan bergizi,” keluhnya. Perlahan air mata membasahi pipi ayah.

“Ayah ngomong apa, sih?” Aku menundukkan kepala untuk menyembunyikan air mataku yang juga telah merebak.

Aku ingat, tepat setelah Mbok Maryam membantuku terlepas dari teluh yang akan membutakan mataku, ayah memang datang ke rumah wanita sepuh ini. Tetapi aku tidak tahu jika urusannya masih berlanjut hingga sekarang.

“Jadi, sebenarnya kiriman itu masih ada, Mbok?” tanyaku pada Mbok Maryam.

 “Besok sore kamu harus mandi pakai air yang sudah Mbok siapkan. Datang bareng ayahmu.” Alih-alih menjawab, Mbok Maryam malah menyuruhku untuk datang ke rumahnya.

“Air apa memangnya, Mbok?”

“Air dari tujuh mata air, Fre,” sahut ayah. “Kita bakal usaha untuk membersihkan apa yang ada dalam dirimu melalui air itu,” tandasnya sebelum memerintahkanku masuk.

Memangnya kenapa dengan diriku? ucapku dalam batin.

*********

Sore menjelang magrib ini ayah mengantarku mendatangi rumah Mbok Maryam. Aku masih menunggu penjelasan lengkap dari wanita sepuh itu mengenai alasannya menyuruhku mandi di rumahnya begini.

“Langsung ke kamar mandi saja, Fre. Jangan lupa baca doa yang sudah Mbok kasih. Minta sama Allah untuk keselamatan dan kelancaran rezekimu,” tutur Mbok Maryam ketika aku baru saja sampai.

Aku mengangguk patuh, lalu bergegas ke kamar mandi. Di dalam ruangan yang luasnya 2 x 3 m2 itu sudah ada satu bak air yang dicampur dengan bunga tujuh rupa. Aroma wanginya menyeruak. Tidak lama berselang, beduk magrib akhirnya terdengar. Aku segera menyiramkan air bercampur bunga itu hingga merata ke seluruh badan.

Setelah lima belas menit lamanya berkutat di dalam kamar mandi, aku segera bergegas ke ruang tamu. “Sudah selesai nih, Yah,” ucapku sembari duduk di sebelah lelaki berkumis tipis itu.

“Alhamdulillah, semoga setelah mandi di waktu magrib ini jalanmu terbuka lagi, Nduk!” ucap Mbok Maryam dengan wajah berseri-seri.

“Semoga memang diijabah, Mbok. Aku sudah capek rasanya hidup kayak nggak ada arah begini. Kebun luas tapi tetep punya banyak hutang. Hasil panen juga nggak kelihatan wujudnya. Dapet duit, ya, langsung ludes nggak ada bekasnya. Padahal, kami nggak pernah berfoya-foya, belanja baju baru saja sudah nggak bisa lagi saking susahnya cari duit. Belum lagi sekarang Freya sering sakit-sakitan.”

Aku mengernyitkan dahi ketika mendengar keluh kesah ayah. “Memangnya ada apa, sih, Yah?”

“Fre, sebenarnya selama tujuh bulan ini keluargamu itu masih dalam pengaruh teluh. Sasaran utamanya memang kamu karena ada lelaki yang suka sama kamu.”

Aku terdiam sesaat untuk menelaah perkataan Mbok Maryam. “Lalu, apa yang dia mau?”

“Dia pengin keluargamu jatuh miskin. Pertama, dia menutup jalan rezekimu, membuatmu sakit-sakitan sampai kamu terus berpikiran untuk mati saja. Lalu karena nggak puas dengan semua itu, dia menyuruh dukun bayarannya untuk menutup jalan rezeki orang tuamu juga. Dengan membuat keluargamu miskin, mungkin ayahmu bakal menjual kebun. Setelah itu kemungkinan dia akan datang ke rumahmu untuk melamar, menjadi penolongmu,” jelas Mbok Maryam yang kuketahui memang memiliki kemampuan khusus untuk mengurusi persoalan mistis.

“Apa ada teluh yang semacam itu, Mbok?” tanyaku bingung.

Memang sih, sebenarnya aku merasa roda kehidupan keluargaku sedang berada di bawah. Aku sering jatuh sakit yang mengharuskan orang tuaku mengeluarkan uang pengobatan yang tidak sedikit. Belum lagi kami juga selalu kehabisan uang entah bagaiamanpun jalannya. Padahal, sebelum-sebelumnya kami tidak pernah kekurangan seperti ini.

Mbok Maryam lantas mengangguk setelah beberapa saat terdiam. “Ada, dukun selalu bersekutu dengan setan. Mereka selalu memiliki cara untuk menyusahkan korbannya, termasuk menutup jalan rezeki dan kebahagiaanmu. Sebagai gantinya, mereka memberikan penyebab agar kamu dan keluargamu terus menderita dan kesusahan. Makanya selama tujuh bulan ini pekerjaanmu nggak ada yang bener. Hasil panen orang tuamu juga selalu habis. Dan kehidupan kalian nggak ada perkembangannya,” jelasnya pelan.

Penjelasan Mbok Maryam sudah cukup membuatku mengerti. Wajar saja jika selama tujuh bulan ini aku memang sama sekali tidak bisa menghasilkan uang walaupun telah berusaha dengan giat untuk mengirimkan tulisan ke sana-sini—pekerjaanku memang freelance content writer. Aku juga melamar pekerjaan di berbagai tempat, tetapi postur tubuhku yang kurang tinggi selalu menjadi landasan penolakan yang mereka berikan. Sangat tidak masuk akal memang. Dan setelah dipikir-pikir ulang, sekarang semuanya menjadi gamblang. Semua kesengsaraan dan kesulitan itu memang terjadi sejak tujuh bulan belakangan ini, tepat setelah pertama kali aku terkena teluh.

Ayah hanya manggut-manggut. “Ayah harap dengan perantara Mbok Maryam, Tuhan bisa membuka jalan rezeki kita lagi, Fre. Kamu juga harus lebih hati-hati. Nggak semua orang yang kelihatan baik itu memang benar-benar baik. Kadang yang teramat baik malah punya maksud buruk.”

“Ayah tahu siapa pelakunya?” tanyaku lagi. “Siapa lelaki itu Mbok?” imbuhku sembari menatap Mbok Maryam.

“Kamu nggak perlu tahu, Fre. Yang terpenting kita sudah berusaha untuk menghilangkan teluh itu. Mbok Maryam akan terus mencarikan obat supaya kamu bisa segera terlepas dari ilmu hitam itu,” tutupnya sembari mengelus bahuku dengan pelan.

Aku kembali terisak. Ulu hatiku seperti disayat sembilu. Entah mengapa kehidupan ini rasanya sama sekali tidak adil. Sejak sakit tujuh bulan yang lalu itu, aku memang merasa kehidupan mulai berubah. Aku menjadi pengangguran dan perjalanan hidupku seakan-akan hanya untuk melintasi waktu tanpa benar-benar ada yang dituju. Keadaan ekonomi keluargaku menurun drastis. Bahkan, rencanaku untuk menikah juga gagal.

Akan tetapi sekarang aku mengerti alasan mengapa perasaanku selalu dirundung kegelisahan dan kesenduan. Penyebab aku menjadi pengangguran sampai tidak memiliki sepeser pun penghasilan. Semuanya tak lain karena teluh yang dikirimkan oleh dukun biadab itu kepadaku. Dia yang dibayar oleh lelaki yang menaruh perasaan untukku. Sialnya, sampai sekarang aku masih belum tahu siapa nama lelaki yang telah menutup semua jalan kehidupanku itu.

 

[]

#Catatankelam

#Catatananakmanusia

#Kisahsedih