Persekongkolan

Sumber gambar: https://www.pngwing.com/id/free-png-zyvtx

“Nak, kau tidak boleh tahu engkau ada karena jasanya. Bertahun aku menantimu. Kini aku bisa mendapatkanmu.” Aku bergumam. Kupandangi wajah cantiknya. Inilah catatan kelam yang tertulis dan harus aku jalani.

“Apa, Ma?” Kinanti yang sedang asyik bermain bonek tersentak mendengar gumamanku. Aku kaget. Jangan sampai anakku tahu keadaan yang sebenarnya. Tidak juga suamiku. Ini suatu rahasia besar. Dan tidak ada yang boleh merenggut Kinanti dari tanganku. Tidak seorang pun. Aku begitu protektif padanya.

“Tidak apa-apa. Mama capek. Ingin beristirahat,” jawabku sekenanya. Ini adalah Selasa Kliwon. Semalam aku menemani mereka. Capeknya baru terasa sekarang. Seolah tulangku dilolosi. Teronggok badan ini seolah tanpa kerangka.

Ya, Kinanti namamu. Penantian yang begitu panjang akan kedatanganmu. Tekanan dari berbagai pihak membuatku harus melakukannya. Berbagai cara kulakukan bersama Mas Bram, suamiku. Dari pengobatan medis maupun alternatif, bahkan cara yang tidak masuk akal. Semua kujalani. Tapi hasilnya nihil. Rahimku belum pernah terisi janin. Sekali pun. Aku menangis. Orang-orang menganggap aku perempuan gabuk. Kosong tanpa isi. Walau sebenarnya kelainan juga bisa terjadi dari pihak lelaki.

“Sudahlah, Dik. Belum rejeki kita,” kata Mas Bram menghiburku. Pernah suatu kali tamuku datang terlambat. Aku sudah membeli berbagai jenis test pack. Kegirangan kudapat. Aku menantikannya. Namun, lagi-lagi alat pendeteksi menunjukkan hasil negatif. Aku terguguk. Terkuras air mata ini. Aku benar-benar menginginkan penerus generasiku.

Sampai suatu hari, Mbah Nah memberitahuku. Tanpa sepengetahuan Mas Bram, aku pergi ke sana. Diantar Mbah Nah. Dengan membawa berbagai persyaratan. Boneka kecil, kembang tujuh rupa, selembar kain mori putih, kemenyan, dan sejumlah uang.

“Jadi begini, kamu harus melakukan perintahku. Jangan sekalipun tidak. Harus. Wajib,” kata dukun itu. Asap kemenyan yang dibakar menusuk hidung. Aku berasa hendak muntah. “Tiap malam Selasa Kliwon, kamu harus melakukannya. Temani anak-anak itu bermain.” Aku mengangguk paham setelah mendengar penjelasannya. Logika berpikirku sudah tertutup. Satu hal yang kuingin. Aku harus punya anak. Titik. Kain mori itu diberikan lagi kepadamu setelah diberi jampi. Aku juga diberinya minuman yang sudah dimantrai.

Dan benar. Satu bulan setelah sowan Mbah Dukun, aku benar-benar hamil. Entah berapa merek test pack kubeli. Semua menunjukkan hasil positif. Aku benar-benar tidak percaya. Aku hamil. Dan persekongkolan itu dimulai.

***

Malam Selasa Kliwon. Sesuai dengan pemufakatan dengan Mbah Dukun. Aku harus melaksanakan tugasku. Kukenakan kain mori putih. Dalam sekejab aku menjadi tidak terlihat. Mas Bram tidak tahu aku lewat di depannya. Hanya ia mnegibaskan tangannya di depan hidung karena membaui aroma wangi. Aku berjalan menuju pohon mangga. Tempat anak-anak gaibku berada. Dengan suka cita mereka menyambutku. Aku harus menemani mereka bermain. Naik turun pohon mangga.

Pernah ada seorang tetangga yang melihat. Ia punya indera lebih. Tapi hanya sekedar bisa melihat, bukan yang lain. Ia bercerita ada perempuan sepertiku bermain di bawah pohon mangga dengan 2 anak kecil. Aku tahu, itulah aku. Tapi aku tak hendak membicarakannnya. Kualihkan pembicaraan ke topik yang lain. Mungkin lain kali, aku harus mengajak anak-anak gaibku bermain di tempat lain.

“Ah, banyak lho yang bilang saya mirip dengan artis A, B, atau penyanyi C. Berrati muka saya pasaran, ya Bu?” selorohku. Mukanya memerah. Ia adalah juga tukang gosip di kampung ini. Walau kali ini bukan gosip yang diomongkannya. Hatiku berdebar. Jangan-jangan ia akan meneruskan ceritanya. Tapi ternyata tidak. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Persekongkolanku dengan dunia lain untuk mendapatkan Kinanti harus kututupi. Ini sebuah rahasia besar. Hingga suatu saat Mas Bram menemukanku pingsan di gudang. Itu terjadi pada malam Selasa Kliwon. Setelah mereka mengajakku bermain perosotan di pohon mangga. Entah berapa ratus kali anak-anak gaibku naik turun. Aku kelelahan.

Haruskah aku menceritakannya persekongkolanku? Persekongkolan untuk mendapatkan Kinanti pada Mas Bram? Juga ritual malam Selasa Kliwon itu? Inilah kisah sedih yang kupendam. Catatan anak manusia yang harus kulakoni.

 

 

#catatankelam

#kisahsedih

#catatananakmanusia