Di Ambang Batas Kematian

Sumber Gambar: Pixabay.com

Ketika teman-teman sibuk dengan urusan yang membahagiakan, aku malah bergumul dengan kesengsaraan. Sungguh aku tidak pernah menduga akan memiliki catatan kelam seperti ini. Bahkan tidak pernah tebersit dalam pikiran akan mengalaminya, hari terburuk yang membawaku di ambang batas kematian.

Malam itu suara rinai hujan yang membentur genting terdengar bergemuruh seakan-akan kedatangannya hanya untuk membawa kabar duka. Sayangnya manusia tidak pernah mengerti hal yang akan terjadi pada menit berikutnya. Begitu pun denganku yang tidak berpikir jika Tuhan akan melimpahkan satu beban berat dalam waktu singkat. Apa yang aku alami di sepertiga malam saat itu bagaikan mimpi terkelam dalam kehidupan.

Aku tidur di lantai beralas kasur tipis bersama kedua orang tua dan adikku. Mulanya aku tidak merasakan apa pun selain nyeri pada pinggul yang rasanya hampir mirip seperti ketika datang bulan. Namun rasa sakit itu kian bertambah setiap kali aku menarik napas. Aku pun berusaha menahannya dengan mengeratkan cengkeraman pada perut sembari meringkuk.

Aku sudah mengalami demam sejak dua hari sebelumnya. Itulah sebabnya kami tidur bersama di ruang depan agar orang tuaku bisa memantau kondisiku. Ruangan masih gelap karena kami sengaja mematikan lampu dan hanya mengandalkan pancaran cahaya dari ruangan lain.

“Bu, bangun!” panggilku ketika tidak tahan lagi. Bulir bening merembes dari sudut-sudut mataku.

“Kenapa, Ran, sakit lagi?” Ibu segera duduk dan mendekat.

Aku hanya mengangguk. “Pinggul dan pinggangnya sakit, Bu.”

Karena mendengar percakapanku, bapak lantas berdiri sambil mengucek mata, lalu menekan sakelar untuk menyalakan lampu. “Masih bisa ditahan atau nggak?” Kemudian, beliau duduk di sisiku dan turut mengelus punggungku.

Aku mengangguk lagi. Sejujurnya aku ingin menjerit sekuat-kuatnya demi menyalurkan ketidakmampuanku menahan nyeri yang kian bertambah. Dalam hitungan menit saja rasanya semakin tidak karuan. Bukan lagi hanya pada pinggul atau punggung, tetapi juga pada kemaluan. Terasa panas seperti tersiram air mendidih.

“Sakit, Ya Allah, tolong Rania,” pintaku sambil terguguk. Kemudian, aku membungkuk tanpa melepaskan cengkeraman pada perut. “Ya Allah, aku nggak tahan lagi!” isakanku mulai berubah menjadi jeritan.

“Sabar, Nak, kamu pasti kuat.” Ibu menyatukan setiap helai rambutku yang tergerai bebas, lalu mengikatnya dengan kencang.

Aku tidak mengerti mengapa sakitnya seperti ini. Rasa seperti ditusuk-tusuk, diremas, dipelintir dan dipukuli mendera bersamaan. Sebagai bentuk pelampiasan aku hanya menggigit bibir bawah dengan kuat agar rasa sakit ini teralihkan. Katanya, mendatangkan rasa sakit yang baru akan mengalihkan rasa sakit yang sebelumnya, tetapi itu bohong! Buktinya aku masih saja kesakitan. Alih-alih merasa baikan, lidahku malah mencicipi rasa seperti air rendaman besi berkarat setelah darah mulai merembes dari bekas gigitanku. Aku takut jika hujan tidak kunjung reda sedangkan rasa sakit ini mulai menghunjam ulu hatiku hingga sulit sekali sekadar untuk menarik napas.

“Sakiiit! Tolong!” jeritku putus asa.

Mendengar jeritanku, Dinda jadi terbangun. Adikku lantas mendekat dan mengelus punggung kakiku yang sudah tidak terbungkus selimut lagi. Bapak mulai gusar dan beliau langsung membuka pintu untuk mengeluarkan motor bututnya. Lelaki kurus itu memasang rantai pada ban motor belakang. Untuk menuju rumah Abah Rahman—ustaz yang mengobatiku, kami harus melintasi jalan tanah sebelum menginjak peraspalan.

“Kita ke rumah Abah Rahman langsung saja, Bu.”

“Tapi sekarang kan masih hujan, Pak.”

Bapak diam sejenak, mungkin sedang mempertimbangkan perkataan ibuku. “Ini taruhannya nyawa, Bu. Nggak apa-apa kalau kehujanan, nanti bisa ganti baju di rumah Abah,” jelasnya seakan-akan mengetahui sesuatu. “Kamu ambil barang-barang yang mau dibawa saja. Rania biarlah diapit Manan dan Rustam. Soalnya aku nggak bisa bonceng kalian berdua kalau jalannya licin begini,”  lanjutnya.

Sambil terisak ibuku bergegas memasukkan beberapa keperluan ke dalam tas. Kemudian, beliau segera memapahku untuk keluar rumah.

“Dinda ke rumah Mbah Mi saja biar ada temannya,” perintah Ibu.

Adikku mengangguk patuh. Sebelum ke rumah Mbah Mi—nenek kami, Dinda buru-buru membereskan kasur lantai dan perlengkapan tidur yang tadi kami gunakan.

Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 02.15 WIB. Malam masih bergelung kegelapan yang pekat sebab hujan juga masih deras. Akan tetapi tidak berselang lama sejak aku keluar rumah, Tuhan menganugerahkan keajaibannya.

“Alhamdulillah hujannya reda. Ayo langsung berangkat saja sebelum hujannya turun lagi,” perintah Bapak pada kedua pamanku yang baru saja tiba.

Aku bergegas duduk di jok motor yang akan dikendarai Om Rustam. Sedangkan di belakangku, Om Manan membisikkan doa sembari mengelus bahuku dengan pelan. Kami bertiga melintasi jalan yang licin dengan waswas dan jiwa pasrah, berharap di rumah Abah Rahman ada obat yang mujarab.

**********

Aku langsung menggelepar di lantai ketika sampai di rumah Abah Rahman. Rasa sakit ini kian merambah hampir ke seluruh tubuh. Akan tetapi fokus rasa sakit itu terletak pada punggung serta kemaluanku yang rasanya berubah menjadi perih yang teramat.

“Sudah dari kapan sakitnya?” Abah Rahman mendekat sambil mengamatiku. “Angkat sebentar, digelar dulu tikarnya!”

Kemudian Om Manan memapahku sedangkan Om Rustam membantu Abah Rahman menggelar tikar.

“Sudah dari jam dua tadi, Bah,” jawab Om Manan.

Abah hanya manggut-manggut, lalu meninggalkan kami. "Tunggu sebentar, ya!"

Kini langit-langit yang kutatap tidak lagi gelap, tapi berwarna putih terang. Aku sudah berada di tengah ruangan berpoles cat oranye. Di belakangku ada kursi busa panjang yang lebarnya hampir satu meter. Saking seringnya berobat di sini, aku jadi hafal letak benda-benda di rumah Abah Rahman.

Tidak berselang lama lelaki berkopiah hitam itu datang lagi dengan membawa segelas air putih. “Tolong bantu diminumkan dulu, Pak!” perintah Abah.

Lantas aku segera meraih gelas itu dari tangan beliau. Setelah meneguknya, tiba-tiba tubuhku terasa seperti terbakar hingga membuatku kembali mengejang dan mengerang kesakitan. Atas reaksi itu Abah Rahman langsung mencengkeram pundakku dan menekannya kuat. Ada gejolak aneh dalam tubuh yang mendorong mulutku untuk berkata kasar. Alhasil, terjadilah percakapan antara sosok yang berada di dalam tubuhku dengan Abah Rahman. Keduanya terlibat negosiasi, Abah Rahman meminta jin itu melepaskanku walaupun permohonan itu ditolak mentah-mentah oleh sosok dalam ragaku.

Aku punya kelebihan dalam hal ini—tetap sadar ketika kesurupan. Dalam artian, aku mampu mengamati dan mengingat peristiwa yang sedang berlangsung, termasuk pada saat itu juga.

Tidak lama kemudian orang tuaku datang. Ibu mengusap wajahku yang basah karena air mata. Sedangkan Bapak duduk di dekat Abah Rahman untuk berjaga-jaga jikalau aku memberontak. Dan benar saja, aku mengamuk hingga menendang tubuh Ibu. Beliau terjengkang dan beruntungnya tidak sampai membentur tembok di belakang tubuhnya. Saat seperti ini rasanya aku bagaikan anak durhaka. Tetapi ini bukan kehendakku sebab jiwa dan ragaku dikendalikan oleh sosok perempuan yang mulai mengamuk karena Abah Rahman bersikukuh akan mengeluarkannya.

 “Sakit, Abah, tolong Rania,” pintaku dengan tatapan memelas ketika sempat mengendalikan pikiran.

“Sabar, ya! Insyaallah nanti sembuh,” jawabnya untuk menenangkanku.

Namun tubuhku sudah tidak berdaya lagi. Rasanya aku seperti dihantam benda-benda berat. Rasa sakitnya terus bertambah seakan-akan tulang belulangku akan remuk berbarengan. Jika tidak tahan dengan rasa sakitnya, aku hanya menjerit sambil menjambak rambut. Begitulah yang terjadi seterusnya.

Sejak pukul dua pagi hingga hari mulai terik aku sama sekali tidak berhenti menangis, bahkan tangisku sampai tidak lagi berair. 

“Gadis ini harus mati! Dia nggak seharusnya kuat seperti ini!” amuk sosok lelaki bersuara berat dalam ragaku dengan spontan.

“Kamu bukan Allah yang tahu ajal seseorang.” Abah menimpali sembari menepuk-nepuk punggungku.

“Tapi dia memang harus mati, bodoh! Dia ini harusnya sudah mati dari dulu. Sayangnya dia gadis yang baik, makanya dia kuat,” imbuhnya dengan nada mengejek.

“Sudah-sudah, lebih baik kamu keluar saja!” tandas Abah Rahman. Setelah itu rasanya kulit punggungku seperti dicakar. Rasa perih dan panas yang mendera membuatku mendelik tajam hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

Beberapa menit kemudian aku kembali terjaga dengan rasa sakit yang masih sama. Ruangan yang kutempati sudah ramai seiring pergantian waktu yang semakin terang. Rasa sakit yang menusuk-nusuk ini membuatku merasa hampir kehilangan nyawa. Punggungku juga seperti diinjak-injak oleh banyak orang. Sungguh yang kupikirkan kala itu adalah ‘mati’.

Ketika mataku terpejam, hanya bayangan kematian yang dapat kutatap. Jiwaku seperti terpanggil untuk segera meninggalkan raga. Namun aku seperti tertahan oleh jeritan pilu dari orang-orang yang turut meneteskan air matanya untukku. Tidak ada obrolan, semuanya bungkam karena mereka mungkin tengah memanjatkan doa pada Yang Kuasa.

 “Bapak, Ibu, maafkan semua kesalahan Rania, ya! Maaf sudah menyusahkan selama ini. Rania sudah capek sakit terus,” ucapku di tengah-tengah hantaman rasa sakit yang bertubi-tubi.

“Ran, nggak boleh bilang begitu. Kamu anak yang kuat, insyaallah pasti bisa sembuh.” Bapak menarik kepalaku ke pangkuannya. Sedangkan ibuku  masih menangis pilu.

Oh Tuhan, perih sekali rasanya melihat orang tuaku meneteskan air mata seperti ini. 

Sadar akan hal tersebut membuatku berusaha mengabaikan bisikan-bisikan yang memberikan dorongan untuk menyerah. Lantas sebagai gantinya, kutatap mata kedua orang tuaku yang sudah sama merahnya. Dari sanalah aku mendapatkan kembali harapan untuk hidup. Aku ingin membahagiakan mereka untuk jangka waktu yang panjang. Tidak kuduga ternyata pemikiran itu mampu menguatkan jiwa dan ragaku kembali. Lantas, aku menarik napas panjang dan duduk bersila. Kemudian, aku memusatkan pikiran untuk mendorong keluar jin di dalam ragaku dengan bantuan Abah Rahman. 

Aku bersikeras menahan sakit pada saat Abah Rahman terus memijat beberapa bagian tubuhku yang menjadi tempat persembunyian jin. Berulang kali aku memuntahkan angin dan lendir yang katanya dapat membawa jin dalam tubuhku keluar satu per satu. Aku percaya saja sebab tubuhku memang terasa lebih ringan setelah berulang kali mengeluarkan komponen itu.

Setelah sebelas jam kemudian, aku dan Abah Rahman akhirnya berhasil mengeluarkan kurang lebih tiga puluh jin dari dalam tubuhku. Ini sangat gila! Aku nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Rasa sakit pun berangsur menghilang. Akan tetapi hal yang tidak terduga datang kembali. Aku kemasukan sukma dukun pemilik seluruh jin yang baru saja pergi.

“Kamu mengganggu pekerjaanku! Tolol!” makinya langsung pada Abah Rahman.

“Saya hanya membantu orang yang memerlukan pertolongan. Jadi sudah kewajiban saya mengurus anak ini,” jawab beliau santai.

“Tapi saya sudah dibayar. Anak ini harus mati hari ini juga!”

"Kamu dibayar berapa?”

“Puluhan juta! Makanya anak ini harus mati karena saya udah tanggung jawab,” imbuhnya berang.

 “Kalau dia nggak jadi bayar?”

“Berarti dia juga harus mati!”

Aku mulai mengerti, ternyata dukun ini dibayar untuk menghabisi nyawaku. Akan tetapi siapa yang memerintahnya? Aku hanya mengeluh dalam batin karena tidak bisa melakukan apa pun selain pasrah.

“Saya disuruh cowok yang menyukai gadis ini. Dan saya sudah berjanji akan menghabisi nyawa gadis ini sekarang  juga. Jadi sekali lagi saya peringatkan, kamu jangan menganggu urusan saya!” perintah dukun itu dengan lantang.

Pikiranku tidak karuan lagi saat paham akan arah percakapan sengit itu. Aku takut, sungguh tidak ingin rasanya mati setragis ini. Rasa sakit pada punggungku memang nyaris hilang, tetapi sukma dukun ini membuat tengkukku terasa sangat berat seperti ditimpa puluhan buku. Aku bahkan tidak mampu menegakkan kepala.

“Coba saja kalau bisa!” ucap Abah Rahman tidak kalah tegas.

Setelah beliau mengatakan hal itu, punggungku kembali dialiri rasa sakit. Aku benar-benar telah siap jika Allah memanggilku. Aku ikhlas.

“Abah, saya sudah pasrah.” Tiba-tiba Bapak menyelang obrolan mereka. “Sekarang saya berikan Rania untuk menjadi anak Abah,” imbuhnya sembari menangis sesenggukan—penyerahan anak kepada orang lain seperti ini sudah menjadi tradisi di daerahku tinggal.

Sebelum Abah Rahman sempat menyanggupi permintaan Bapak, sukma dukun itu tiba-tiba pergi. Tubuhku langsung ambruk dengan posisi tengkurap. Sepertinya dukun itu merasa tidak mampu lagi melawan Abah Rahman yang kuketahui memang memiliki kemampuan tinggi untuk melawan orang jahat sepertinya.

Setelah kesadaranku kembali, ternyata tubuhku malah tidak bisa digerakkan. Bahkan sekadar duduk pun aku tidak mampu. Dan rasa lemas seperti itu berlangsung sampai hampir seminggu setelah kepulanganku dari rumah Abah.

Namun kini aku menjadi paham jika santet yang dukun biadab itu kirimkan merupakan jenis santet olahan. Dia bisa mengendalikannya dari jarak jauh dan bisa menambah intensitas rasa sakitnya dengan cepat tanpa perlu menanamkan benda-benda ke dalam tubuhku.

Dukun itu memang bermaksud membunuhku hari itu juga. Akan tetapi Allah lebih berkuasa untuk mengatur segalanya. Apabila Dia tidak berkehendak, separah apa pun rasa sakit yang mendera, maka tidak akan sampai nyawa terlepas dari raga. Aku bersyukur karena atas kehendak-Nya sekarang aku bisa berbagi kisah dalam catatan kelam ini. Aku berharap tidak ada orang lain yang bernasib sama sepertiku.

 

#Catatankelam

#Catatansedih

#Catatananakmanusia