Aku Terintimidasi

Aku terintimidasi (Dok. Merdeka.com)

Inilah catatan kelam yang harus kualami. Rangkaian peristiwa yang harus aku lakoni akibat tidak mendengarkan nasihat orangtua dan kakak angkatku. Aku menyesal, tapi apa lacur. Nasi telah menjadi bubur.

Aku memilihnya mengingat tidak ada yang hendak meminangku. Dari semua pria yang mendekatiku, tidak satu pun yang hendak meneruskan ke tahap selanjutnya. Belum juga pacaran, baru PDKT, kenal di medsos, tapi mereka mundur teratur.

Pernah, ada yang sepertinya serius. Sepertinya ya. Bukan kenyataan. Setelah dia bertemu muka denganku. Berjumpa secara fisik. Dia membatalkan hubungannya denganku. Padahal melalui telepon, WA, media sosial, dia menumpahkan perasaannya secara total. Keinginan untuk ke taraf berikutnya sudah di depan mata. Tapi akhirnya batal.

Teman-temanku juga begitu. Mereka tidak mau mendekatiku. Mereka menganggapku terlalu sempurna. Benar, aku lulusan universitas terkemuka. Aku pandai mencari uang. Jabatan yang kumiliki tidak main-main. Bisa dikatakan hidupku berkelimpahan harta. Orangtuaku pengusaha di bidang penerbitan ternama. Apalagi aku anak tunggal. Hanya ada Mas Yogi sebagai kakak angkatku. Bukan saudara kandung.

Tidak ingin dicap sebagai perempuan yang tidak laku. Umurku yang semakin menua membuatku asal menentukan pilihan pendamping hidupku. Aku juga ingin menyelamatkan nama baik orangtuaku. Ketika ada seorang pria yang akhirnya mau menjadikanku sebagai pacar, aku menantingnya. Seberapa serius dia? Apakah dia mau memperistriku? Aku tidak berpikir lagi tentang bibit, bebet, dan bobot. Yang penting aku punya suamiku. Biar orang di luar sana tidak lagi mengejekku. Dan inilah awal kisah sedih yang harus aku lakoni.

***

“Jauhi adikku,” kata Mas Yogi. Farhan terdiam. Brakk... pintu dibanting keras.

“Apa hakmu melarang hubunganku dengan Desi?” Farhan menjawab dengan garang. Mas Yogi berlalu meninggalkannya.

“Ibu juga kurang setuju hubunganmu dengan Farhan, Nduk,” kata ibu suatu hari.

“Ibu mau aku menjadi perawan tua? Siapa yang hendak meneruskan perusahaan ini?” aku mengemukakan alasanku. “Tidak ada yang mau dengan diriku, Bu. Lihat sudah berapa lelalki mendekatiku? Apa mereka mau berhubungan serius denganku? Aku tidak memasang target terlalu tinggi. Tapi mereka yang tidak mau.” Aku menangis sesenggukan. Itu senjata terakhirku ketika menghadapi tuntutan dari orangtuaku untuk segera menikah.

Bapak diam saja. Kelihatannya beliau memahami perasaanku. Bahkan beliau sudah tidak pernah lagi membicarakan tentang pernikahan setelah permintaan untuk menikah dengan Mas Yogi kutolak.

***

Semula, pernikahan kami lancar adanya. Kami hidup bahagia. Dua anak menambah ramai suasana. Perusahaan pun berkembang dengan baik. Hingga akhirnya Ayah memintaku untuk fokus mengurus rumah dan mengangkat Mas Farhan untuk menggantikanku.

Walau jabatan sudah tidak di pundakku, tapi aku masih bisa mencari uang dari hasil kerja freelance-ku. Istilahnya aku masih bisa membeli garam. Walau tidak banyak, setidaknya aku masih menghasilkan duit. Tapi sekarang? Pandemi membuatku hancur. Kerjaan paruh waktuku pun ambyar. Tidak ada lagi orderan yang kukerjakan. Tidak ada lagi pencetakan buku. Kalau pun ada, tentu mereka kerjakan sendiri, tidak perlu mencari tenaga paruh waktu sepertiku.

Sekarang, aku memang hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak ada lain kukerjakan yang bisa menghasilkan uang. Aku cuma pasrah saja. Ya, dan kau sebagai kepala rumah tanggalah yang wajib mencari uang. Kau sombong. Begitu batinku dalam hati. Teror demi teror kecil kau buat membuat aku makin terpuruk. Seolah mencari uang adalah juga kewajibanku.

Krakkk.... suara kunci dilempar ke atas meja. Aku terkaget. Tebakanku benar. Mas Farhan sudah pulang. Aku jadi  tidak lagi bisa tidur nyenyak. Jantung ini berdebar. “Duh, mau minum saja nggak ada air.” Suara terdengar lagi. Aku kaget. Aku lupa membeli galon air minum karena seharian anakku rewel. Deg.... Aku salah lagi. Aku juga lupa tidak menyediakan teh panas untuknya. Aku benar-benar terintimidasi dengan sikap dan ucapannya. Terdengar lagi suara panci dibuka. “Ngapain saja sih di rumah seharian?’ gumamnya. “Sontoloyo.” Terdengar lagi keluhannya. Memang semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakan, tanpa pembantu.

Aku hanya menghela napas. Ia mulai melancarkan intimidasinya. Aku yang tidak bekerja menghasilkan uang ditambah dengan kerepotan di rumah, semakin merasa terpuruk. Engkau begitu bangga ketika ada poyek yang deal. Lalu engkau pasti akan menjadikanku bersalah karena tidak bisa menghasilkan uang. “Engkau sombong, Mas.” Mas Farhan tersenyum sinis. Aku sudah tidak kuat lagi.

Kini, intimidasi itu tidak akan terjadi lagi. Bubuk putih yang diberikan Mas Yogi semalam telah kutaburkan dalam minumanmu. Dan itulah yang akhirnya merampungkan semua tingkah lakumu. Aku berstatus janda.

 

#catatankelam

#kisahsedih

#catatananakmanusia