Terikat dalam Cerita Malam

Sumber Gambar: Pixabay.com

Dengkang katak terdengar bersahut-sahutan padahal tidak hujan. Dengkung anjing kian melengking seakan-akan inginkan setiap orang yang mendengarnya merasakan ketakutan. Belum lagi dengan embusan angin yang semakin semilir mengiringi denging nyamuk yang turut meramaikan suasana malam yang kelam.

Aku duduk di selasar rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat yang uapnya masih mengepul. Sesekali kucumbu sebatang rokok yang terselip di antara dua jari dengan ujung yang sudah memerah termakan sulutan api. Begitulah yang kulakukan saban malam, memahami maha karya yang akan kutulis dalam laptop.

“Anggin, kalau mau masuk rumah jangan terlalu malam, ya! Nanti kamu masuk angin.”

Aku menoleh sekilas ketika melihat ibu berkacak pinggang di ambang pintu. “Iya, Bu. Anggin mengerti,” jawabku tak berminat.

Aku kembali menatap layar persegi yang berada di pangkuan. Layarnya sudah menyala dan menampilkan salah perangkat lunak yang akan kugunakan untuk mengolah kata. Ibu sudah sering memperingati agar aku tidak membiasakan diri berada di luar rumah saat malam, tetapi aku enggan menurut.

“Anggin, Ibu ini ngomong sama kamu tapi malah dicuekin,” sungutnya sambil mengentak-entakkan kaki.

“Anggin nggak nyuekin, kok, Bu. Tapi Anggin lagi mau fokus nulis cerita. Satu jam lagi Anggin masuk, kok,” rayuku kepadanya.

Ibu mengangguk demi tak memperkeruh suasana, lalu dia kembali ke dalam. Masih seperti saat pertama aku duduk di resbang ini, anginnya masih semilir tapi semakin menggerogoti kehangatan yang sempat mengalir di darahku. Kopi di cangkirku sudah hampir habis, ampasnya sudah terlihat saat aku memiringkan posisi cangkirnya.

“Ah, sialan!” umpatku sambil membenarkan posisi cangkir itu di meja. “Aku harus segera menyelesaikan cerita ini sebelum malam semakin larut.”

Tengkukku semakin terasa dingin seolah-olah ada yang meniupnya. Sedangkan telingaku masih terasa hangat, perpaduan yang jauh berbeda. Dengan terburu-buru aku mengetik cerita horor yang akan kukirimkan pada redaksi. Karena malam ini adalah deadlinea maka aku tidak bisa bersantai begitu saja. Itulah mengapa aku selalu betah berada di luar rumah untuk meliarkan ide gilaku supaya cerita yang kutulis cepat selesai.

Denting jam di dalam rumah mulai terdengar ketika aku terus menuliskan kisah perempuan berambut panjang yang mati mengenaskah di kolong truk. Dia salah satu dari sekian banyak orang yang menjadi lelebon lalu lintas akibat keteledorannya dan juga pengemudi truk. Aku hanya mengarang cerita ini, tetapi aku yakin rasanya hal demikian memang ada di luar sana.

Lambat laun aku mulai mengantuk dan nyaris tak terselesaikan cerita ini. Beruntungnya aku masih mampu bertahan hingga akhirnya waktu berlalu lebih dari satu jam.

“Bu, Anggin ke kamar, ya! Pintu depan sudah ditutup, kok.”

Ibu menatapku dengan tatapan aneh. “Kamu kenapa nggak bilang kalau bawa temen ke rumah?” tanyanya serius.

Seketika tubuhku menegang hingga menimbulkan denyut nyeri di kedua pelipis. “Maksud Ibu teman yang mana?”

“Malah pura-pura nggak tahu, sih, lawong dia sudah ke kamarmu,” tutupnya sebelum bergegas ke kamarnya.

Aku merasa ragu terhadap apa yang baru saja kudengar. Teman? Aku bahkan nyaris tidak memiliki teman karena terlalu sibuk dengan urusan menulis. Namun bagaimana dengan pernyataan sekaligus pertanyaan yang baru saja kudapat? Mau tidak mau aku pun buru-buru ke kamar untuk memastikannya.

“Siapa di dalam?” tanyaku dengan suara sedikit gemetar. Demi apa pun aku tidak pernah merasa ketakutan seperti malam ini. “Halo, adakah orang di dalam kamarku?” tanyaku lagi.

“Aku yang di dalam,” sahutnya lirih.

Tenggorokanku tersekat seolah-olah ada segelonggong udara yang terhenti di dalam. Aku menarik napas panjang sembari mengeratkan pelukan pada laptop di depan dada.

“Ka-kamu siapa?” tanyaku gugup.

Tubuhku mulai bergetar hingga pelipisku mulai merembeskan bulir keringat. Namun aku masih saja merasa penasaran dan rasa itu terus mendorong hatiku untuk mencari tahu kebenarannya. Aku memutuskan untuk mendekati perempuan berambut panjang sepinggul itu. Dia tengah duduk menghadap dinding kamar dan membelakangiku. Aku juga melihatnya mengayunkan kaki dan sesekali menjejak lantai dengan kuat seakan-akan dia tengah merasa kesal.

“Kamu siapa? Kenapa di kamarku?”

Perempuan berdaster berwarna putih pudar itu hanya menggeleng tanpa menoleh ke arahku. Tak lama dari gelengan itu dia terkikik sendiri sambil menggerayangi kasur seperti isyarat memintaku agar segera duduk.

“Kemarilah! Temani aku!” pintanya dengan suara samar dan menggema.

Saat aku melangkah semakin dekat, tiba-tiba saja pintu kamar tertutup dan meninggalkan bunyi yang keras sesaat sebelumnya. Aku terperanjat tapi tidak sampai melepaskan dekapanku pada laptop. Beruntung saja benda kesayanganku ini tidak terjatuh.

Posisi berdiriku sudah tidak terlalu jauh dari perempuan berdaster lusuh itu. Dari jarak yang dekat aku bisa mencium aroma bunga melati bercampur busuk yang sangat menusuk. Aku sampai harus menutup hidung dengan sebelah tangan untuk menghindari menghirup udara tak sedap ini. Firasatku sudah tak enak lagi.

“Hapus tulisan itu!” geramnya tiba-tiba ketika baru saja aku hendak mendudukkan pantat di kasur.

“Setaaan!” pekikku sambil melemparkan laptop ke kasur. Sialnya, lemparanku terlalu kuat hingga mengakibatkan laptop itu terpental melewati kasur dan terbanting ke lantai. “Pergi kamu!” jeritku lagi.

“Kau sialan!” kecamnya.

Perempuan bertubuh kurus bermata cekung dengan bola mata terpersok ke dalam itu berdiri menghadapku. Kemudian, dia menggamit lenganku dan mendorong ke kasur. Tubuhnya terangkat seringan kain terbang dan dia berada di atas tubuhku, menatap dengan tajam dan seringai yang mengerikan seraya mencengkeram lenganku. Mulutnya mengeluarkan cairan kental berwarna pekat dan berbau menyengat. Wajahnya yang hanya tulang berbalut kulit juga terlihat menjijikkan, terlebih sebagian dari kepalanya juga terkoyak. Ada banyak belatung bersarang di sana. Dan karena dia berada di atas tubuhku, belatung-belatung itu akhirnya berjatuhan ke wajahku.

“Tolong jangan menggangguku!” mohonku dengan isakan. Aku tidak pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi di saat aku bahkan tak percaya bahwa setan itu ada.

“Kau yang lebih dulu menggangguku,” jeritnya dengan mulut menganga.

Aku berusaha memalingkan wajah agar tidak terkena air liurnya, tetapi sia-sia saja karena pada akhirnya seluruh kepalaku menjadi basah. Cairan kental berwarna kuning kecokelatan itu menetes dengan deras dari mulutnya. Darah kental yang berbau amis juga turut merembes dari sebagian kepalanya yang berlubang. Dan semuanya berlabuh di kepalaku.

Susah payah aku memberontak agar bisa terlepas dari cengkeramannya. Setelah terbebas, aku segera melarikan diri. Namun pintu kamar terkunci dan tidak bisa kubuka. Aku menggedornya berulang kali, tetapi sepertinya tidak ada yang mendengar.

“Kau sudah mengikatku!”

Aku memejamkan mata dengan erat agar tidak melihat wujudnya, tetapi pertahananku goyah ketika perlahan kakiku terasa seperti digerayangi. Aku memicingkan mata untuk menyelisik sekitar dan benar saja dia tengah menggerayangi kedua kakiku, lalu menjilat mulai dari ibu jari, mata kaki, betis, lalu ke lututku.

“Hentikan!” jeritku sembari mendorong kepalanya yang malah membuatku harus bertatapan langsung dengan matanya yang berwarna putih menyeluruh. Dia tertawa cekikikan sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan-kiri, sedangkan tanganku melekat di keningnya. “Kumohon ampuni aku!” rengekku sembari berusaha menarik tangan dari keningnya.

“Kubunuh kau!” ucapnya dengan nada final. Kemudian, dia berdiri dan mendekatkan wajahnya hingga berjarak lima senti dari wajahku. “Kau yang sudah mengikatku dalam cerita bodohmu!”

“A-aku tidak melakukan itu,” kilahku. “Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.”

Wajahnya yang berwarna hitam berbintik-bintik dan rambut yang awut-awutan menjadikan perempuan itu tampak mengerikan. Ada bekas jahitan di sudut-sudut bibirnya dan juga dagunya. Perlahan, kepala perempuan itu mulai basah. Pada menit setelah aku menarik napas panjang, darah segar mulai merembes dari pori-porinya, lalu menetes dengan deras di lantai. Dia bergeming di depanku untuk mengunci posisiku. Lantas, yang terjadi pada menit-menit berikutnya, aku merasa terseret memutari kamar. Dan yang terakhir kuingat, aku teronggok di samping laptop yang sudah menyala dan menampilkan sebuah cerita yang sebelumnya kutulis.

 

Pandanganku mulai buram karena benturan di kepalaku yang terjadi berulang. Akan tetapi perempuan itu tak memberiku izin untuk terlelap, dia menginjak punggungku hingga napasku semakin terengah-engah dengan mata mendelik. Dan pada saat itulah aku tersadar, perempuan itu tidak akan pernah meninggalkanku karena dia telah terikat dalam cerita konyol yang kubuat. Dan sialnya, cerita itu sepertinya telah diterima oleh redaksi sejak aku mengirimnya dan mungkin sebentar lagi akan dirilis. Sedangkan aku sudah tak kuasa lagi untuk menghapusnya.

“Tuhan, berikan keajaiban dan hapuslah cerita itu melalui tangan-tangan malaikat-Mu!” pintaku sebelum akhirnya tak mampu menelaah keadaan.

TAMAT