Di Jalan Panglima, Hujan Tidak lagi Turun dari Langit

krisnamughni

Siapa bilang cantik itu luka? Kau hanya merasa cantik lebih serupa gumpal merah segar yang darahnya terus menetes di kertas pembungkus bergambar tawa bertuliskan ha-ha besar, menciptakan catatan kelam yang tak henti meraung di koyak hidupmu yang dipaksa kian cabik waktu ke waktu.

Seperti hari ini, kau merasa tak perlu mengganti daster merah marunmu yang bergambar bunga sepatu besar-besar itu dengan pakaian yang lebih baik. Itu adalah hal yang amat tidak penting sekarang. Setelah kau mendengar kabar tentang Desi dari Amir, anak bungsumu, terik menyengat begini pun kau tak akan gentar. Kau mematikan kompor yang baru sampai di tengah jalan menanak nasi, lalu berangkat –tentu tanpa sempat membenahi gelung rambutmu yang berantakan.

Jalan Panglima tak terlalu ramai siang hari begini. Orang hanya lalu satu-dua, biasanya mereka bersiap untuk istirahat siang. Kau justru bersyukur, sebab tak akan banyak yang melihat wajah cemasmu lalu semakin nyinyir menduga apa yang tengah terjadi denganmu. Sembari berjalan kau tiba-tiba teringat banyak hal. Memang, terlalu beragam kenangan yang tercecer di sepanjang Jalan Panglima ini.

Kau mengenang waktu itu. Umurmu barangkali tujuh atau delapan belas. Jalan Panglima belum seperti saat ini. Di kiri-kanan pepohonan menaungi, nyaris membentuk lorong yang meneduhi sepanjang jalan. Setiap pulang sekolah kau tak perlu mengernyit sebab matahari terlalu galak mencubit kulit. Tapi semakin kau besar, desa tempatmu hidup juga lekas beranjak, orang-orang di dalamnya pun menanjak. Perlahan Jalan Panglima berubah, menjadi lebih terang, modern namun sekaligus gersang.

Kau mengusap dahimu yang ditumbuhi titik-titik bening kecil, sembari merapikan anak rambut yang ribut tertiup angin. Kau merasa waktu berjalan terlalu cepat sedang kakimu melangkah begitu lambat. Cemas dan gelisah membuatmu seakan ingin melipat bumi dan segera sampai di tujuan, di ujung Jalan Panglima berkilo-kilo meter di depan.

Ada sedih yang menggelayut di kepalamu, dan tiba-tiba setetes air jatuh dari matamu yang panas. Andai Mardi, suamimu, masih hidup, barangkali semua tak perlu begini. Ah, tapi benarkah? Bukankah Mardi juga yang banyak meninggalkan tanggungan hutang pada kau dan anak-anakmu hingga pontang-panting hidup kalian sekarang? Tapi kau ragu. Mardi orang yang baik, bahkan bagimu terlalu baik. Seumur kau hidup bersamanya, tak pernah sekalipun Mardi membentak atau memperlakukanmu buruk.

Mardi juga tak pernah menyimpan rahasia apapun darimu. Segala yang terjadi akan dibaginya denganmu, langsung saat ia bertemu waktu untuk bicara. Segala kondisi pekerjaan, teman-teman sejawat, bos hingga masalah rupiah yang terkecil sekalipun tak ada yang luput diceritakannya padamu. Semua begitu tembus pandang, jelas, meski kadang kau masih juga merasa was-was. Bukan lantaran perempuan lain atau apa, tapi karena satu hal itu: Mardi adalah orang yang terlalu baik dan jujur hingga cenderung polos lugu.

Kau, dari cerita setiap hari yang disampaikan Mardi, merasa khawatir atas laku atasan Mardi di Perusahaan Tepung tempatnya bekerja. Pujian untuk Mardi benar-benar menjulang ke langit. Kau tahu, Mardi memang memiliki loyalitas tinggi dalam bekerja. Dan pujian itu berlanjut, Mardi naik jabatan.

Kau merasa senang awalnya. Pekerjaan Mardi kini bukan lagi pengawas lapangan yang berlelah-lelah terjun ke pabrik pengolahan tepung, telah beranjak menjadi orang kantoran. Tapi kau lantas curiga, oleh sebab baru beberapa bulan berjalan, Mardi kembali dipromosikan naik jabatan.

Siapa yang tak terkejut? Baru saja Mardi beradaptasi dengan pekerjaannya yang baru, kini ia harus kembali menyesuaikan diri dengan kerja yang lebih berat dan besar tanggung jawab.

Sekali waktu kau mengutarakan cemasmu pada Mardi, tapi ia selalu menggambarkan segala sesuatunya dengan jelas. Meski ia sendiri tak paham mengapa semua orang tampak begitu percaya pada pekerjaannya.

Perlahan hidup kalian membaik. Rumah tampak lebih rapi. Satu-satu kendaraan untuk buah hatimu dapat terbeli. Wajahmu sedikit berbinar mengingat si sulung yang waktu itu masih satu SMU diberi Mardi sepeda motor baru. Juga adik-adiknya. Segala kebutuhan sekolah dan harian tak lagi kekurangan. Jika kalian pernah merasakan hidup sejahtera, barangkali saat itulah waktunya.

Tapi hidup memang setak terduga keajaiban. Kau tak pernah dapat mengintip nasib atau meramal waktu. Tiba-tiba saja semua terjadi seperti gelombang memecah hening muka pantai. Amat singkat dan tampak mudah, tapi menjadi begitu sulit selanjutnya bagimu. Kau menyeka keringat lagi. Matahari menyiram Jalan Panglima, menabur panas yang berubah perih di wajahmu.

Sekitar empat atau lima orang berjaket hitam mengetuk pintu. Begitu sosokmu muncul, mereka menanyakan suamimu, lalu memperkenalkan diri.

Polisi tentu saja bukan tamu yang baik jika datang tiba-tiba begini. Kau menerima mereka di rumahmu, dan mereka masuk bahkan tanpa melepas sepatu.

Mereka meminta bertemu Mardi, kau merasa seperti ada yang hendak jatuh dalam dadamu. Kau lalu memanggil suamimu, dan dengan tangan gemetar kau halau anak-anak yang tengah menonton televisi untuk masuk ke kamar, meminta mereka tetap di sana sampai kau kembali.

Dengan sederet bukti dan penjelasan, malam itu juga Mardi meninggalkan rumah, turut serta polisi untuk menjalani pemeriksaan.

Kau bingung, jantungmu rasa mau meledak karena berdetak sepenuh kencang. Saat kau kembali ke anak-anak, tak kuasa kau bendung airmata. Kalian lalu nyalang semalaman, tak ada yang dapat memejamkan mata. Malam itu, malam itu adalah malam yang tak kau pernah bisa akan lupa.

Pemeriksaan atas Mardi seperti tak mengenal selesai. Sejak malam itu Mardi tak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah. Sampai kau menerima pemberitahuan hari sidang suamimu, dan kau menyaksikan sendiri –dengan palunya yang angkuh dan seolah hari itu ia satu-satunya penentu nasib hidup manusia, hakim memutuskan Mardi mendekam dalam bui untuk puluhan tahun ke depan.

Suamimu terjerat pasal berlapis, penggelapan uang perusahaan yang menyebabkan gulung tikar hingga dianggap melakukan penipuan pada perusahaan lain.

Kau tak terima, tak akan terima –juga siapapun wanita yang tahu suaminya tak melakukan hal kotor seperti yang dituduhkan. Tapi bahkan pikiranmu yang paling waras sekalipun mendadak berhenti ketika terhantam dokumen yang terang-terangan terbubuhi tanda tangan asli dari tangan Mardi.

Di pengadilan itu kau lihat airmata Mardi jatuh manakala pandang kalian bersitumbuk, dan Mardi segera digelandang ke tempat ia akan menjalani hukuman. Luar biasa gemuruh, dan semakin gemuruh ketika setelahnya kau lihat mantan atasan suamimu hadir di sana, tersenyum dalam puas kemenangan di antara jabat tangan dan ucapan selamat sebab perusahaan baru telah berdiri di bawah komandonya. Kau merasa ada sesuatu yang tak semestinya. Tapi lagi-lagi, arahpun segan bersahabat untuk sekedar memberimu tahu hendak apa lagi kau lakukan atas ini semua.

Hidupmu dan anak-anak tak boleh berhenti, sekalipun lebih dari tergagap-gagap kau menghadapi orang-orang yang datang ke rumah dan mengaku anak perusahaan yang turut dirugikan oleh Mardi, untuk menuntut ganti. Belum lagi beberapa cicilan yang menunggak, juga sekolah anak-anak, dan makan harian. Kau memeras otak, memeras tenaga, meski semua berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Jalan Panglima makin terik. Kau mengira-ngira pukul berapa saat ini. Kau menduga dua belas tepat atau lebih sedikit sebab matahari memayungmu persis di atas kepala. Sejak Mardi pergi membawa segala harapan, apakah hidupmu masih mengenal arti tenang dan damai, kau bertanya sendiri dalam hati.

Pikirmu waktu itu, kau tak akan mengingat lagi kesalahan Mardi. Biarlah kau anggap ini pajak hidup yang mesti kalian bayar demi kebahagiaan hari tua. Setelah Mardi bebas, kalian akan memulai semua sejak mula kembali, tak perlu berurusan dengan orang-orang lama nan licik lagi.

Tapi tampaknya Mardi tak berpikiran sama sepertimu. Ada yang salah dengan hari-harinya. Ada kecemasan dan kesedihan Mardi yang tak dipahami siapapun. Dan ia makin lemah, kian hari kian payah. Tepat pada tahunnya yang ketiga di penjara, Mardi menghentikan hukuman. Ia pulang. Bukan untuk menemuimu, tapi hendak bertemu malaikat demi menceritakan keadilan yang sebenarnya, atau malah langsung ingin bertemu dengan Tuhan.

Semenjak itu, makin kerap solilokui menjadi kegiatan harianmu. Soal uang-uang yang kau pinjam dari berbagai pihak, soal pelunasan hutang-hutang, dan banyak lagi hal lainnya. Kau mulai berpikir, barangkali akal sehat memang dapat bertemu batas ajalnya.

***

Apa saja, asal anak-anak tak putus sekolah –sebab Mardi mengupayakan benar sejak mereka lahir agar menuntut ilmu sampai tinggi, kau melanjutkan perjuangannya meski amat berat. Dan rumah kalian satu-satunya tak terjual.

Kau rela menjadi apa saja. Termasuk menjadi inang bagi Kusman, menyedia diri untuk ia menyerap saripati hidup keluargamu. Orang itu menyelamatkanmu sementara untuk kemudian mencerabut selamatmu hingga ke akar-akarnya.

Kusman, dengan kuasanya menjadikanmu tak dapat lagi hidup tenang sekalipun ia adalah orang yang lembut dan mudah tersenyum. Namun kau tak pernah menyukai senyum itu, sejak dahulu, terutama kini. Bagimu senyum itu terasa amat mengancam kelangsungan tak hanya hidupmu, tapi juga anak-anakmu. 

Desi, si sulung baru saja memasuki usianya yang kedua puluh dua  pada tiga bulan berselang. Ia seranum buah mangga yang menggoda liur sesiapa yang melintas, termasuk Kusman. Dan itu yang membuatmu tak henti mengoceh jika Desi sekali saja ketahuan bersolek. Ia penuh mewarisi kecantikanmu sewaktu muda. Bahkan tak jarang hingga kini orang mengira kalian adalah kakak beradik. Kecantikan yang mirip dan identik.

Oleh sebab itulah kau tak pernah selesai berpesan pada Desi agar selalu mati hati pada rayu para pemuja hasrat semata. Anakmu menurut, dia bukan gadis yang suka macam-macam. Perihal sikapnya itu, Desi selalu mengingatkanmu pada Bapaknya.

Kau tak sabar, Jalan Panglima sebentar lagi tandas dilahap langkah kakimu yang khawatir dan tergesa. Atap rumah itu sudah tampak, tempat dimana satu-satunya kau yakin Desi ada di sana. Padahal, siang ini kau telah merangkai hari yang baik. Pagi tadi kau mendapat uang, lalu segera membeli beras. Menjelang siang kau menanaknya agar ketika anak-anakmu pulang ada sesuatu yang dapat kau suguhkan. Tapi Amir datang tergesa, bicara padamu dalam napas putus-putus: Mbak Desi, Kusman… kata remaja SMP itu langsung ketika tiba di hadap wajahmu. Tak ada yang dapat ditunda lagi, Desi membutuhkanmu saat ini.

Sulungmu itu duduk di sofa coklat tua yang mahal, ia dikelilingi orang-orang Kusman. Saat melihatmu, airmatanya kian deras. Kau tahu ia amat ketakutan. Tapi tidak denganmu, kau sebenarnya telah memikirkan ini sejak lama.

Kusman telah jauh waktu bercerita padamu bahwa ia memiliki bisnis baru. Kau ditawarinya, dan kau menolak. Kusman memang tahu banyak tentangmu. Selain karena teman sekolah sejak kecil, ia juga penduduk asli desamu sama seperti kau dan yang lainnya. Dan Kusman bilang ia kasihan pada hidupmu yang kini.

“Aku akan bayar hutang, beserta semua bunganya!” tanpa pembukaan kau lurus menuju pokok utama, semua mata di ruangan itu tertuju padamu. Kusman lalu muncul dari balik tembok, senyum tersungging di bibirnya, terasa pahit dan mengerikan bagimu.

“Bisa diatur, Mar. Semua gampang saja.” Ia membenahi rambutnya yang tampak menjijikkan. Kau ingat, itu adalah gaya klisenya sejak sekolah dulu, juga gaya yang ia pakai saat berhasrat memacarimu. Barangkali gaya itu jugalah yang membuat ia menjadi bujang karatan hingga sekarang.

“Dengan apa kau ingin membayar, hm? Uang, cek, sertifikat tanah, atau de…”

“Aku terima tawaranmu tempo hari.” Kau tak tahan mendengarnya panjang kata.

Kusman sontak diam, memandangmu dalam menit yang lama. Senyum di bibirnya makin lebar, kau merasa tambah lama ia makin mirip dengan iblis.

“Sudah kubilang, Mar... jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri padamu.”

Kau merasa mual mendengar Kusman membawa-bawa nama Tuhan.

“Kau terlalu cantik untuk usia setengah abad. Lihat tubuhmu, kasihan jika dibiarkan menganggur terlalu lama.”

Senyum yang tadi lebar kini berubah tawa yang terasa nganga menyublimasi ruangan, kau teramat ingin menutup telingamu dengan kedua tangan. Tawa itu tak kunjung berhenti hingga Desi kembali ke pelukanmu, dan mungkin tak akan berhenti sekalipun mendung di wajahmu telah turun menjadi hujan deras dari matamu yang kelabu.

[-]