Ketika Truk dan Batu Sebesar Kerbau Hanyut Tersapu Lahar Dingin

Sungai Pabelan pasca lahar dingin (foto diambil dari artikel penulis di Kompasiana)

 Bisa dibayangkan batu sebesar kerbau dan truk pengangkut pasir dengan cepat terseret lahar dingin yang berasal dari gunung Merapi. Peristiwa itu benar – benar terjadi di sungai Pabelan. Air yang berasal dari tiga hulu sungai yaitu sungai Tringsing, Sungai Apu dan Sungai Senowo jadi satu. kekuatannya menjadi luar biasa ketika lahar dingin yang menghanyutkan pohon, batu dan benda – benda disekitar hulu sungai terbawa. Tidak ada yang bisa menghentikan karena ini adalah fenomena alam.

Di Balik Banjir Lahar Dingin Merapi

Peristiwanya sebetulnya sudah cukup lama berlalu sekitar Desember 2012 dan juga 13 Januari 2014. Banjir lahar dingin terjadi pasca letusan gunung yang banyak menelan korban satu diantaranya adalah Mbah Marijan (sekitar 26 Oktober 2010, menelan korban sekitar 353 korban meninggal ) yang terkenal sebagai juru kunci gunung Merapi. Manusia jelas tidak berdaya menyaksikan dahsyatnya banjir yang merusak sawah, menghancurkan jembatan, menghanyutkan truk pengangkut pasir. Mereka hanya bisa terbengong dan menyaksikannya antara takjub, bengong, dan sedih. Takjub melihat betapa batu sangat besar bisa hanyut, pohon kelapa, pohon pohon yang berada di pinggir sungai pasrah terbawa arus lahar dingin. Lahar dingin itu membawa lava, pasir dan benda – benda pasca letusan.

Banyak yang percaya bahwa peristiwa itu juga karena campur tangan makhluk – makhluk tidak terlihat yang tengah ikut marah dan menghadiahi manusia bencana dahsyat hingga meluluhlantakkan sungai, sawah - sawah menjadi gugusan padang pasir luas menghampar. Mereka yang sedang menanti panen harus pasrah karena sawahnya lenyap dalam sekejab tersapu banjir bandang.

Penduduk yang kebetulan mempunyai sawah di pinggir sungai Pabelan banyak yang kehilangan beberapa petak sawah. Padahal sawah di pinggir sungai Pabelan sangat subur dan kualitas padinya unggul. Tapi peristiwa telah terjadi dan menghadapi alam yang sedang marah apa daya manusia.Hikmahnya tentu manusia harus mau menerima keadaan dan pasti akan ada rejeki dibalik sebuah peristiwa.

Setelah beberapa saat manusia trauma oleh sebuah bencana maka mau tidak mau manusia harus bangkit. Dan masyarakat di hulu sungai Pabelan tidak mungkin larut dalam kesedihan. Mereka sejak berabad – abad telah terbiasa menghadapi amukan Merapi. Dibalik peristiwa lahar dingin mereka tahu bahwa alam telah bekerja dan manusia harus selalu berusaha. Sisa lahar dingin terhampar pasir yang luas, mereka bergerak mengambil pasir dan batu yang berserak, ditambang dan kemudian menjadi andalan mereka mencari uang. Pasir Merapi adalah pasir unggulan, pasir yang dicari dan selalu akan dicari, sebab pembangungan terus bergerak, gedung- gedung terus dibangun dan mereka butuh pasir berkualitas dan batu sungai untuk pondasi.

Setelah beberapa tahun sopir truk, petani mulai melupakan duka kehilangan sawah dan truk pengangkut pasirnya. Pundi – pundi uang sudah ada di depan mata. Truk – truk telah rutin mengambil pasir yang mereka kumpulkan. Rejeki datang dari ketangguhan mereka mengumpulkan kubik demi kubik pasir. Satu angkut truk mereka bisa mengumpulkan sekitar 100 rb di bagi pada mereka yang membantu melangsir atau memindahkan pasir dari sungai ke truk. Truk – truk pun berdatangan. Kadang siang, kadang sore bahkan pagi – pagi buta saat manusia terlelap sopir truk memberi kode dengan klakson dan penambang pasir yang baru terlelap sigap, mengambil peralatan dan kemudian pagi – pagi keringatnya sudah membanjir.

Letusan, lahar dingin , banjir akan selalu menjadi sahabat para penambang pasir, bersama mereka para preman juga sibuk meminta upah atas jalanan yang dilalui, atas jasanya menghentikan mobil untuk memberi kesempatan truk melintas ke arah sungai. Di samping itu dusun atau desa yang dilalui truk pengangkut pasir juga mematok retribusi atas beberapa sawah, dan kebun yang dikorbankan untuk jalan truk menuju sungai.

Kini penduduk yang berada di bibir sungai memanen rejeki, meski ada sisi negatif yang harus ditanggung masyarakat yaitu rusaknya lingkungan akibat penambangan pasir. Bagaimanapun roda kehidupan terus berputar. Dulu tahun 80 – an ketika saya masih anak – anak menjejaki masa remaja. Sungai itu sungguh elok,batu – batu besar menjadi pemandangan sehari – hari air jernih, deras dan sering kami gunakan untuk berenang, dengan membendungnya di pinggir sungai, mematok dengan batu – batu kali hingga membuat area kurang lebih 4 meter persegi. Setelah itu kami leluasa berenang dan berlompatan dari batu besar.

Kini sungai itu terus disesaki kendaraan pengangkut pasir. Sepanjang hari, selama pasir dan batu masih menghampar, selama para penambang kuat jiwa raganya dan tidak peduli semakin rusak, sungai – sungai berantakan. Dan entah kapan alam yang mulai geram akan mengamuk lagi menyaksikan manusia – manusia dengan rakusnya mengambil kekayaan alam. Perusahaan besar turun tangan mereka menyingkirkan penambang lokal yang bekerja dan membawa peralatan seadanya. Di dekat Merapi mereka memangkas dan memotong rejeki para penambang lokal. Dengan peralatan modern mereka menurunkan alat semacam Beghoe, dengan peralatan yang tersedia yang langsung bisa menyaring pasir dan batu – kerikil. Pekerjaan cepat dan cepat mendapatkan hasil.

Kadang muncul bentrokan tapi apa daya mereka juga membawa preman atau pengawal truk bersenjata hingga akhirnya pasrah, para penambang lokal mengambil sisa dari mereka yang bermodal besar. Para jin, penunggu dan makhluk – makhluk tidak terlihat pastinya tengah menunggu momentum untuk memperingatkan manusia betapa mereka harus menghormati alam dan tidak kemaruk mengumpulkan harta sementara alam menjadi rusak parah. Sampai kapan Sungai Pabelan tersayat – sayat oleh para penambang yang mengambil pasir luar biasa tamaknya. Kalau penambang lokal mengambil secukupnya, mereka para perusahaan besar benar – benar mengambil dengan cara mengeksploitasi. Hingga akhirnya merembet ke tebing gunung pasir hingga akhirnya rawn longsor. Jika longsor maka akan muncul bencana yang lebih dahsyat, seperti banjir bandang yang bisa meluluhlantakkan alam yang dilewati.

Hikmah sebuah Bencana Alam

Manusia harusnya bisa menjaga harmoni dengan alam semesta tapi ketamakan, kerakusan manusia yang membuat akhirnya alam murka. Nah misteri alam dan tanda – tandanya itulah yang harus dimengerti manusia. Sebagai makhluk berakat dan berbudi, manusialah yang paling bisa mengendalikan dan bekerja sama dengan alam semesta untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Namun yang terjadi sekarang manusia tampaknya lebih peduli pada bagaimana mengekspoitasi untuk memperkaya diri sendiri. Sebuah peristiwa pasti akan merembet ke peristiwa selanjutnya. Saat ini Merapi tengah bangun, beberapa kali memuntahkan lava, ketika lava bertumpuk bisa saja membuat letusan dahsyat. Setelah letusan, lava akan terguru hujan deras, lava akan terbawa ke sungai dan akhinya muncul lahar dingin, Aktifitas manusia harus dihentikan ketika lahar dingin datang. Semoga saudara – saudara yang sibuk menambang pasir waspada terhadap tanda – tanda alam, hingga tidak muncul korban lagi.