Viral Jenazah Utuh Ditilik dari Ilmu Titen, Orang Suci atau justru Pendosa?

medcom

Baru-baru ini kembali viral peristiwa misterius tentang ditemukannya jenazah yang masih utuh meski telah dikubur selama tiga tahun.

Jenazah yang dimaksud adalah jenazah KH Ahmad Baidowi, yang merupakan seorang Kiai di Dusun Banbalang, Desa Batoporo Barat, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, Madura

Peristiwanya terjadi pada Jumat (27/11/2020) saat makam beliau diperbaiki karena ambruk akibat guyuran hujan deras pada Senin (23/11). Saat itulah warga digegerkan dengan fenomena jenazah Sang Kiai, yang terlihat seolah-olah baru saja dimakamkan.

Peristiwa ini seperti biasa langsung memicu sugesti stereotipe bahwa jenazah yang masih utuh setelah dikubur sekian lama diyakini sebagai orang suci.

Sebenarnya, bila memang penempatannya wajar dan sesuai batasan, hal itu sah-sah saja, karena berdasarkan keyakinan yang dianut masyarakat memang ada kriteria-kriteria tertentu yang menjadi acuan menuju ke sana.

Dalam agama Islam, misalnya,  disebutkan bahwa ada 10 golongan manusia yang mayatnya tidak hancur selama di dalam kubur, yaitu para nabi, ahli jihad fisabilillah, alim ulama yang menegakkan kalimat Allah, syuhada yang sentiasa memperjuangkan Islam, penghafal alquran dan beramal dengan alquran, pemimpin yang adil dalam menegakkan syariat Allah, muazin yang tidak meminta imbalan, wanita yang meninggal sewaktu melahirkan anak serta senantiasa taat pada perintah Allah, mati dibunuh atau dianiaya karena mempertahankan kehormatan diri dan agama serta yang kesepuluh adalah orang yang mati di siang hari atau di malam Jumat jika mereka itu dari kalangan orang yang beriman yang sentiasa menjaga hukum agama semasa hidup di dunia (HR Bukhari Muslim).

Yang jadi pertanyaan kemudian adalah, bagaimana bila di luar 10 kriteria di atas, tetap memiliki jenazah yang utuh setelah lama meninggal dunia?

Barangkali pada titik inilah kemudian Ilmu Titen menjadi alternatif yang dapat menjadi penjelasan terhadap fenomena anomali serta peristiwa yang memang tak pernah bisa gebyah uyah di dunia, yang kadang diselip pula keculasan dari kelompok tertentu.

Seperti yang pernah viral tentang utuhnya jenazah Teroris Bom Bali Imam Samudera dan tersangka teroris Siyono, yang langsung disikapi salah kaprah serta ditunggangi kepentingan kelompok biadab demi pencitraan agar kader pembunuh mereka bisa direpositioning sebagai Mujahid agama dan golongan suci, dengan bukti jenazah tak hancur mengacu kepada kriteria 10 golongan dalam Islam di atas.

Namun, benarkah semua yang jenazahnya utuh memang merujuk ke 10 golongan tersebut?

Bagaimana dengan peristiwa jenazah utuh di Kediri dan Kudus, yang notabene pelaku curanmor dan bandar judi bola semasa hidupnya?

Atau jenazah Belanda pada proyek pelebaran jalan tembus UGM dari Sagan, yang jelas-jelas adalah penjajah serta perampok bangsa lain yang amat bejat?

Apakah semuanya kemudian harus dipaksakan masuk ke dalam 10 golongan di atas, meski dengan dalih yang amat kacau,  penuh kelicikan serta cenderung akal-akalan belaka?

Padahal, bila ditilik dari Ilmu Titen, semua menjadi jauh lebih mudah untuk dipahami, karena di dalamnya membahas tuntas sekurang-kurangnya empat faktor yang menjadi penyebab jenazah bisa utuh, yaitu: Ngelmu, Laku, Lebu dan Bendu.

Dari sudut ini bisa langsung disimpulkan bahwa 10 golongan dalam Islam juga utuhnya jenazah KH Ahmad Baidowi masuk pada faktor Ngelmu.

Sementara jenazah terduga teroris Siyono -terlepas dari pro-kontra kematiannya yang diduga akibat kekerasan yang dilakukan Densus 88 tanpa melalui proses peradilan lebih dahulu meski katanya Indonesia adalah Negara Hukum, masuk pada faktor Lebu.

Faktor Lebu sendiri bisa diartikan sebagai faktor utuhnya jenazah karena kondisi tanah dan atau alam sekitarnya yang mengakibatkan jenazah mengalami proses mumifikasi secara alami.

Hal ini sesuai dengan lokasi penguburan Siyono yang tergenang air dan lumpur hingga terjadi proses saponifikasi -istilah dunia kedokteran untuk menyebut proses mayat yang tidak mengalami proses pembusukan karena pembentukan adiposera pada jenazah.

Adiposera sendiri merupakan senyawa organik yang terbentuk melalui reaksi hidrolisis oleh bakteri anaerob pada jaringan adiposa (jaringan lemak) di dalam tubuh, yang membuat lemak di jaringan lunak berubah menjadi zat seperti sabun keras sebuah proses yang disebut saponifikasi.

Zat inilah yang kemudian bertindak sebagai pengawet dan memperlambat dekomposisi (proses penguraian) normal, dan bukannya penggorengan opini tak genah guna perekrutan teroris dengan mengkait-kaitkannya kepada mukjizat nabi dan jihad Afghan.

Faktor Laku dalam Ilmu Titen merujuk kepada jenazah yang semasa hidupnya memiliki perilaku yang baik kepada Tuhannya maupun juga terhadap sesama.

Sementara faktor terakhir yaitu Bendu sepertinya menjadi faktor yang paling mistis sekaligus mengenaskan, sebab jenazah utuh lebih karena ‘tidak diterima bumi’ dan demi dijadikan teladan keburukan yang wajib dihindari bagi generasi selanjutnya.

Contoh paling nyata dari faktor Bendu ini tentu saja jenazah Fir’aun, juga para penganut ilmu Karang/ Batara Karang yang arwahnya ditolak langit dan jenazahnya tidak diterima oleh bumi, hingga tetap utuh meski ukurannya terus mengecil menjadi jenglot. Wallahu a’lam.

Bagaimana dengan jenazah teroris Imam Samudera?

Sulit untuk masuk ke faktor yang manapun. Tertolak dari 10 golongan juga tak bisa dikaitkan dengan 4 faktor yang ada dalam Ilmu Titen.

Dan ternyata, fakta utuhnya jenazah teroris Imam Samudera cuma hoaks murahan demi propaganda perekrutan calon-calon teroris baru agar di anggap sebagai orang suci dan kegiatan teror yang dilakukan seakan-akan diberi ridha Allah.

Foto yang digembar-gemborkan sebagai jenazah teroris Imam Samudera melalui pesan berantai itu sebenarnya adalah mayat Yaser Bin M. Thamrin, seorang tahanan kasus tindak pidana terorisme di lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat.

Adapun jenazah Belanda penjajah dan penjarah itu tetap utuh, diduga akibat pengaruh benda-benda dari batu giok yang menempel pada kulit mayat tersebut, karena faktor benda dapat pula memperlambat pembusukan, wallahu a’lam.