Geger Mitos Penampakan Ular di Keraton Jogya, Benarkah Ada Gempa Kekuasaan?

Ist

Fenomena munculnya seekor ular yang melingkar di Bangsal Magangan Keraton Yogyakarta beberapa waktu lalu masih menjadi sorotan publik.

Peristiwa yang terjadi pada Jumat Kliwon (15/10) saat Keraton menggelar haul mendiang Sultan Hamengku Buwono IX tersebut mulai riuh di dunia maya setelah diunggah oleh akun twitter @fthhrrs dan akun facebook Subhan Mustaghfirin.

Yang menarik, dalam postingan pemilik akun Facebook Subhan Mustaghfirin yang kemudian viral itu menghubungkan peristiwa tersebut dengan putusnya perjanjian suci antara Panembahan Senopati dengan Gusti Kanjeng Ratu Kidul di Kawasan Cepuri Pantai Parangkusumo.

Tak heran postingan tersebut mendapat tanggapan ramai dari warganet, hingga membuat banyak pihak turut andil dalam upaya meluruskan informasi yang beredar.

Salah satu pihak yang turut bersuara adalah Kartiutami, salah satu abdi dalem Keraton Yogyakarta, yang mengatakan bahwa postingan tersebut kemungkinan salah besar.

Sayangnya, penjelasan yang diberkan oleh Kartiutami kurang meyakinkan, karena dirinya hanya menjelaskan bahwa kejadian tersebut bukan hal langka bagi Keraton Yogyakarta yang memang kerap mengalami peristiwa yang tak tertafsir nalar.

Hal tersebut bertolak belakang dengan yang diungkap oleh Penelitian Biologi LIPI Amir Hamidy. Dalam penjelasannya, Amir mengatakan bahwa ular yang tampak pada foto unggahan tersebut adalah ular Lycodon capucinus alias ular genteng dan atau ular cecak, yang memang secara umum hidup bersama manusia, bersifat nokturnal, pemangsa cecak serta tidak membahayakan karena tak beracun.

Namun benarkah demikian?

Seperti yang telah diketahui bersama, manusia adalah homo simbolicum karena banyak menggunakan simbol-simbol untuk memenuhi kebutuhan, berinteraksi, dan mengatur pola perilakunya.

Ular sebagai simbol sesungguhnya telah amat lang-lang jagad sejak masa yang sangat kuno saking lampaunya.

Pada era Mesir Kuno, ular selalu menjadi simbol yang terpasang di Uraeus -salah satu mahkota kekuasaan yang kerap dipakai Firaun. Ular di Mahkota Uraeus tersebut merupakan simbol yang melambangkan otoritas ilahi, kerajaan, kedaulatan dan dan supermasi.

Mitologi Yunani juga memiliki kisah mengenai ular yang menjadi simbol pada tongkat Asklepios.

Pada masa itu, mengobati gigitan ular nyaris mustahil untuk dilakukan, yang biasanya berakhir dengan kematian.

Namun Asklepios mampu melakukannya, dengan rahasia pengobatan yang ia peroleh dari salah satu ular yang pernah ia obati, hingga menjadikan dirinya bisa menghidupkan orang mati.

Kemampuan Asklepios jelas menimbulkan kekhawatiran dari Dewa Zeus karena dapat mengganggu keseimbangan natalitas dan mortalitas, hingga akhirnya Dewa Zeus mengirim petir untuk membunuh Asklepios.

Uniknya, setelah mati, Asklepios kemudian malah diangkat menjadi dewa, sementara simbol ular pada tongkat miliknya kemudan dijadikan simbol sejenis yang dipergunakan oleh organisasi kesehatan dunia dan juga oleh organisasi yang berkaitan erat dengan dunia kesehatan di Indonesia.

Seperti tak mau kalah, Jepang sendiri memiliki sejarah unik mengenai Pedang Legendaris Kusanagi no Tsurugi. Pedang Legendaris tersebut kabarnya diperoleh dari pemenggalan Yamata no Orochi alias ular berkepala dan berekor delapan oleh dewa desersi yang terusir dari kayangan bernama Dewa Susanoo.

Pedang Legendaris tersebut kini menjadi salah satu dari Tiga Pusaka Kekaisaran Jepang, meski sayangnya tidak diperkenankan untuk dilihat oleh publik.

Bagaimana dengan di Indonesia?

Dalam Mitologi Jawa, ular sebagai simbol biasa merujuk ke Naga Jawa serta dianggap sebagai lambang dunia bawah bersanding dengan lambang-lambang lainnya seperti bumi, bulan, gelap, air, kura-kura dan buaya.

Dalam pandangan Bangsa Indonesia sendiri sebelum Zaman Hindu, naga atau ular selalu berhubungan dengan air, sedangkan air mutlak diperlukan sebagai sarana pertanian.

Pada perkembangan selanjutnya Naga Jawa mengalami perluasan simbol, digambarkan sebagai pelindung dan atau pengayom, hingga tak heran bila kemudian simbol tersebut umum ditemukan dalam pahatan gerbang, pintu masuk,undakan tangga serta lokasi lainnya yang dianggap perlu untuk dilindungi.

Namun bila merujuk kepada hikayat lama, kemunculan ular sebenarnya pernah menjadi penanda akan terjadinya gempa bumi. Dan sepertinya, landasan inilah yang kemudian berkembang pada penafsiran penampakan ular di Keraton Yogyakarta.

Meski bukan ditafsirkan secara tersurat, penampakan ular di Keraton Yogyakarta lebih dinilai pada sirat tafsirnya, yaitu akan terjadi gempa kekuasaan di dalam keraton.

Adapun tafsir yang menjadi acuan sebagai berikut:

Ular perlambang kekuasaan, atau setidaknya yang erat terkait dengan kekuasaan termasuk kekuatan, kewibawaan serta pamor.

Posisi ular yang melingkar dapat menjadi perlambang suatu siklus, dalam konteks ini sepertinya mengarah ke siklus kekuasaan dan atau pergantian kekuasaan.

Pilar tempat ular tersebut melingkar dapat diartikan pula sebagai penyangga, dalam hal ini adalah penyangga kekuasaan.

Bila acuan-acuan tersebut dikaitkan dengan fakta Kanjeng Sultan Hamengku Buwono X yang ada, besar dugaan akan terjadi perubahan hierarki kekuasaan.

Secara umum, peralihan kekuasaan dilakukan kepada keturunan laki-laki. Namun beliau tak memiliki keturunan lelaki, hingga diduga akan mewariskannya kepada putrinya.

Hal itu dapat menimbulkan potensi gesekan internal kekuasaan, misalnya dengan adik atau kakak yang memiliki putra dan mempertahankan tradisi bahwa pewaris tahta adalah raja dan atau pangeran, bukan ratu atau putri.

Akibat lain dari pelanggaran kebiasaan tersebut adalah dapat menimbulkan efek pamor yang meredup serta lemahnya kewibawaan.

Pada akhirnya, segala pendekatan tafsir di atas kembali menimbulkan dua tanya penting, tentang apakah penampakan ular di Keraton Yogyakarta tersebut merupakan pertanda akan adanya gempa kekuasaan di sana? Atau justru menjadi semacam sasmita bagi pihak Keraton Yogyakarta, bahwa pilar penyangga kuasa keraton wajib dilindungi, sesuai dengan simbolisasi ular itu sendiri sebagai pengayom serta pelindung, yang ditorehkan pada tempat dan simbol yang baiknya diperkuat untuk masa ke depannya?

Wallahu ‘alam.