Santet Mas Man Berakibat Kematian

Rambut rontok (Sumber gambar: www.alodokter.com)

Aku mematut diri di depan cermin. Walau keriput halus menghiasi, namun aku tidak khawatir. Sebentar lagi aku tidak jomlo lagi. Mas Boy sudah melamarku. Catatan kelam tentang kutukan perawan tua terhapus sudah.

Bertahun aku berusaha menata hati untuk menerima yang lain, tapi rasa sakit ini belum juga terobati. Umurku sudah menginjak kepala 3. Bisik-bisik tetangga terngiang dengan jelas di telinga. Perawan tua. Tidak laku. Sok pemilih. Tapi aku berusaha untuk cuek. Toh, ngapain mereka ngurus aku? Memangnya hidupku tergantung mereka? A...sudahlah. Lupakan mantan, begitu nasihat teman-temanku. Hingga suatu hari aku bertemu dengan Mas Boy.

Hubunganku dengan Mas Boy semakin serius. Lelaki itu bisa menakhlukkan hatiku. Hati yang mengeras akibat perlakuan Mas Man. Padahal hubunganku dengannya sangat serius. Ah, mengenang mantan yang satu ini hanya bikin sakit hati. Tinggal selangkah lagi kami menuju ke pelaminan, Mas Man disambet teman kerjanya. Kena pelet. Tanpa perasaa bersalah, ia memilih temannya dan meninggalkan aku begitu saja. Sebenarnya aku sayang kamu, Dik. Sampai kapan pun, aku tetap mencintaimu. Demikian kisah sedih yang kualami.

***

Telepon berdering. Nomor yang tidak kukenal. Aku menerimanya. Deg...... suara yang kukenal. Yang bertahun lalu sering singgah di telingaku. “Mas Man?” aku berusaha menutupi suaraku yang bergetar.

“Katanya kamu mau menikah?” suara dari seberang terdengar. Aku mengiyakan. Telepon ditutup. Tidak ada percakapan lain. Begitu selama 3 hari berturut-turut.  Sejak telepon itu, aku sering bermimpi buruk. Suara itu menerorku. Aku ketakutan.

Wajahku berubah menjadi nenek-nenek. Aku kaget. Keriputku meluas. Pipiku menjadi kempot. Cekung ke dalam. Gigiku rontok. Tetiba muncul wajah Mas Boy, bersimbah darah. Di kejauhan, Mas Man berwajah pucat dan berkain kafan. Tiga kali mimpi yang sama mendatangiku.

Sejak ada telepon itu, kepalaku terasa panas. Apalagi jika aku memikirkan tentang pernikahan. Rambutku banyak rontok. Semakin menjadi. Pelan tapi pasti. Aku menjadi botak. Segenggam rambut pun jatuh ke lantai.

Rontok rambutku kian meluas. Sudah ada beberapa bagian yang cenderung kosong tidak ditumbuhi rambut. Seperti lapangan bola yang tampak pitak karena rerumputan di atasnya tercabik. Duh, panas sekali rasanya. Kata para ahli rambut rontok 50-100 helai per hari itu masih normal. Tapi ini tidak. Aku pernah menghitungnya, 100 helai rontok sekali sisir. Bayangkan. Aku tidak sedang melahirkan atau menyusui. Aku juga tidak merasakan sakit apapun. Gejala apapun. Kecuali rasa panas pada kepalaku.

***

“Dik, kamu sudah siap?” tanya Mas Boy. Kami memang sedang memilih waktu yang tepat untuk meresmikan hubungan kami. Bukan pesta besar-besaran, hanya selebrasi sederhana saja. Selama ini kami terpisah oleh jarak dan waktu. Mas Boy bekerja di luar pulau, tempat asalnya. Kami bertemu sewaktu ada pertemuan trah. Secara tidak langsung, kami masih ada hubungan keluarga.

Kini, kami bertemu untuk memantapkan persiapan pernikahan kami. Aku membenarkan letak kerudungku. “Kerudungmu bagus,” puji Mas Boy. Aku tersentak. “Kamu tampak gelisah.”

Aku mencoba menutupinya. “Aku grogi. Lama tidak bertemu.” Aku tersipu. Dia bisa membaca suasana. “Aku...aku...”

“Jujurlah padaku. Sebentar lagi kamu menjadi pendampingku. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan dariku,” katanya. Kusibakkan kerudungku. “Apa yang terjadi? Ayo kita ke dokter. “ Cek darah dan segala macam. Sementara menunggu hasil laboratorium, kami makan di kantin. Aku menceritakan tentang sosok Mas Man dan masa laluku.

“Man?” Mas Boy kemudian menceritakan tentang Mas Man yang diketahuinya. Aku terbelalak kaget. Aku mengiyakan. Persis dengan pria yang kukenal. “Ia karyawan baru di tempatku. Pantas saja ia seperti menyelidik. Akan kubereskan.” Aku kaget. Ada ancaman di situ. Mas Boy melihat kekhawatiranku. “Tenang, aku akan membereskan dengan caraku.” Selesai makan. Kami mengambil hasil laboratorium. Tidak ada yang salah dengan pemeriksaan darahku. Semua normal. Mas Boy mengangguk-angguk. “Ini pasti kerjaan Man. Aku akan menyelesaikannya.”

Apakah ini catatan anak manusia yang harus kulakoni? Aku jadi ngeri sendiri. Mas Boy berasal dari daerah yang terkenal banyak melahirkan ilmu hitam. Aku juga jadi berpikir jika aku terkena santet, tapi aku mencoba menepisnya.

Hari H tiba. Kami bersanding manis di pelaminan. Resepsi sederhana telah usai. Telponku berdering. Wajahku pucat. Mendengar suara sesenggukan dari seberang yang mengabarkan Mas Man meninggal. Mas Boy pun mendengarnya. Tidak berapa ada suara mendesis keluar dari mulut suamiku. Aku menang, Man. Tetiba ia pingsan dan darah keluar dari hidungnya. Sama seperti dalam mimpiku. Akankah cerita kelam terulang lagi? Apakah sebutan perawan tua akan kusandang lagi?

 

#catatankelam

#kisahsedih

#catatananakmanusia