Misteri Suara Gamelan di Lembah Sungai Pabelan

sungai Pabelan di Selatan desa Krogowanan (gambar: Kompasiana.com )

Jawa khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta, kebudayaan berkembang seiring dengan masyarakatnya yang senang hiburan. Para petani yang sehari – hari mencocok tanam, melangkah pagi – pagi menggiring kerbau, membajak, membolak – balikkan tanah agar tetap gembur selalu. Mereka butuh hiburan agar malam harinya tidak larut dalam kesunyian.

Suara gamelan, tontonan rakyat seperti wayang kulit, ketoprak, jantilan dan tontonan rakyat lainnya akan selalu diserbu penonton. Selain terhibur para petani dan kebanyakan penduduk desa merasa bahwa kesenian, budaya bisa mengasah bathin dan rasa mereka. Bisa memberikan ketentraman bathin dan memberikan kedamaian setelah seharian bekerja di sawah. Tidak peduli menonton sambil terkantuk – kantuk sambil berselimut sarung mereka tetap bisa menikmati hiburan.

Suara – suara gamelan yang hadir lewat radio bahkan kadang dikumandangkan lebih keras menggunakan TOA. Di tengah pesawahan, duduk di gubuk sambil mendengarkan gamelan ah betapa nikmatnya. Tapi tahukah anda selain suara gamelan lewat TOA dari orang yang sedang hajatan, kadang – kadang banyak orang terkecoh dengan suara gamelan yang muncul kadang pagi sekitar jam 9 atau sore beranjak malam. Kadang suara klonengan, atau gamelan, kadang suara mirip iringan jantilan, bahkan kadang wayang kulit.

Apakah saya hanya bercerita untuk mendapat sensasi cerita atau halusinasi saya saja? Ah saya tidak ingin menipu. Ketika masih tinggal di desa sering mendengar music gamelan ketika lewat di atas lembah sungai Pabelan. Suara itu seperti terdengar dari seberang. Kebetulan lembah sungai itu membatasi kecamatan, tempat saya masih daerah Sawangan Magelang, sedangkan kalau sudah menyeberang sungai sudah berada di daerah Dukun, beda kecamatan. Bila keadaan normal sungai tampak jernih. Sebelum ada pertambangan pasir sungai pabelan itu benar – benar elok pemandangannya. Di situlah saya dulu sering mandi, duduk di batu yang besarnya bisa sebesar kerbau. Airnya jernih, deras dan tidak pernah kering.

Itu surga kehidupan bagi anak – anak karena selain bisa mandi dengan bebas, kami ( anak anak ) bisa mencari ikan semacam tawes, uceng, udang kecil, sesekali kalau lapar makan pisang biji (gedang klutuk). Saat duduk duduk di perengan (tebing) pinggir desa yang dekat dengan sungai Pabelan suara musik terdengar jelas. Yang sering terdengar saat siang hari itu adalah suara jantilan atau iringan gamelan kesenian rakyat semacam kobra siswa. Suara itu datangnya dari lembah seberang sungai, kami pikir ya datangnya dari desa seberang yang masuk wilayah Dukun, Entah di Soka, Sewukan, (ngguwo bacanya).atau dusun Dukuh ( Ndukoh: bacanya).

Setelah ditelusuri ternyata tidak ada tontonan di desa seberang. Demikian juga desa seberang juga sering mendengar musik iringan tarian rakyat di seberang. Pernah ada yang bertanya apakah ada yang tahu ada tontona kubro siswo.

Tentu saja kami menjawab tidak ada tuh.

“Tapi dari seberang terdengar jelas.”

“Ya, kami juga mendengar suara itu kami pikir dari desa seberang”

 

Lalu terdengar gumaman” Lalu suara gamelan dari mana ya.”

“ Dari lembah sungai Pabelan, mereka para penghuni alam jin yang berada di lembah sungai yang nanggap kesenian.”

Memang sering muncul cerita bahwa lembah sungai di Pabelan itu dihuni juga oleh para jin makhluk dari dunia lain. Entah benar entah tidak cerita itu selalu hadir tanpa pernah tahu kapan mulai munculnya suara – suara itu. Sudah banyak yang mendengar dan banyak yang kecelik (Kecele) karena memang tidak ada tontonan apapun selain halusinasi atau suara – suara yang muncul tapi tidak diketahui sumber tempatnya.

Masyarakat hanya percaya bahwa kehidupan dunia jin pun seringkali mengadakan acara hiburan, entah gamelan, entah wayang kulit atau sekedar klenengan atau sekedar suara instrumen gamelan. Kehidupan mereka mirip manusia. Bahkan pernah terdengar bahwa ada dalang yang sering ditanggap di dunia kajiman atau alam lain yang memang dipercaya oleh orang – orang yang mempunyai kepercayaan akan adanya dunia lain selain dunia manusia.

Maka dulu manusia harus selalu minta ijin apapun jika akan membuat kegiatan di lembah Sungai Pabelan, sekedar kulonuwun(permisi) agar tidak dianggap mengganggu. Saat mau menanam padi, saat akan panen mereka selalu mengumpulkan makanan atau sesaji agar tidak diganggu oleh para jin yang menghuni sebuah lembah.

Di Jawa banyak yang percaya bahwa sungai itu juga menjadi jalan penghubung antara penguasa laut Laut Selatan dan Penguasa gunung ( kebetulan sungai pabelan mata airnya berasal dari  Merbabu dan Merapi (Pertemuan sungai Apu dan Sungai Tringsing) Di bawah Desa Krogowanan Sungai Pabelan pun teraliri lagi oleh sungai bernama Senowo. maka sungai itu menjadi jalan penghubung antara Ratu Pantai Selatan dan penguasa Merapi ( Mbah Merapi). Situs sungai bersejarah karena muncul beberapa candi yang berada di bibir sungai dan dekat dengan sungai seperti candi Lumbung, candi Pendem dan candi Asu peninggalan jaman Hindu. Candi lumbung sekarang berada di Tlatar, Krogowanan, Sawangan Magelang, sedangkan candi Asu dan Pendem berada di desa Sengi Dukun, Magelang. 

Begitulah tradisi seringkali tidak masuk akal, namun dengan tradisi harmoni antara manusia dan alam semesta terjalin. Mau tidak percaya namun banyak orang yang sudah sering mendengar suara – suara itu, Pengetahuan modern sering mengajarkan pola berpikir dengan logika dan jangan berhalusinasi. Namun kenyataannya di alam semesta itu misteri alam memang ada. Jagat raya ini mempunyai jutaan misteri dan percaya atau tidak banyak peristiwa misteri hadir di sekitar kita.