Ilmu Gendam Mbah Kakung

Ilustrasi: istimewa

"Lagi, lagi!" Bocah perempuan kecil itu bertepuk tangan kegirangan melihat tawes, melem dan bandung berloncatan dari baskom besar berisi air di halaman rumah. Ikan-ikan itu muncul begitu saja dari air di baskom. Entah dari mana datangnya.

Keinginan Sumi untuk makan ikan goreng kesukaannya yang sempat gagal karena hujan deras akhirnya terpenuhi. Susah payah Mbah Rayi membujuknya agar mau makan berlauk telur dadar atau memotong marmut di kandang ia tolak. Mbah Kakung yang tak bisa ke kolam di dekat sawah ternyata bisa menangkap ikan-ikan itu dari rumah.

"Jangan bilang siapa-siapa ya, Nduk?" Mbah Kakung meminta Sumi untuk berjanji agar merahasiakan semua yang ia lihat tadi.

"Nggih, Mbah," sahutknya riang.

"Akung manggil ikan-ikan ini dari kolam kita?"

Mbah Kakung mengangguk dan memberikan isyarat agar Sumi diam dan membantu memasukkan ikan-ikan yang menggelepar itu ke ember kecil. 

Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah dan memberikan beberapa ekor ikan yang sudah dibersihkan itu kepada Mbah Rayi, perempuan tua yang wajahnya mirip sekali dengan Sumi. Wajah Mbah Rayi terlihat kurang senang melihat isi ember yang diberikan Mbah Kakung. Seperti ada raut curiga di sana.

"Halal kiye, sekang blumbange dewek," jelas Mbah Kakung tanpa diminta. Sepertinya Mbah Rayi curiga dari mana asal calon lauk makan siangku itu. Ternyata itu berasal dari kolam sendiri, bukan curian, jadi halal untuk dimakan.

***

"Tadi kenapa Mbah Rayi nggak suka liat Akung bawa ikan?" Sumi berbisik mengajukan pertanyaan kepada kakeknya saat sang nenek sedang ke belakang untuk mencuci piring.

"Kamu masih kecil, Nduk. Nggak bakal paham kalau Akung ceritakan semua."

"Aku udah gede, Kung!" Sumi mulai merajuk. 

"Baiklah, Akung bakal cerita. Tapi sekali lagi Sumi harus janji apa?"

"Tidak boleh cerita-cerita karena ini rahasia keluarga."

"Jadi begini ceritanya. Akung saat muda dulu, pernah belajar ilmu kanuragan maupun ilmu kebatinan. Salah satu yang Akung kuasai itu ilmu gendam. Dengan gendam, Akung bisa mendatangkan barang-barang dari tempat yang jauh."

"Apa Akung bisa manggil kue-kue jajan pasar?"

"Bisa. Tapi Akung nggak mau lagi."

"Kenapa?"

"Dulu Akung pernah menggunakan ilmu gendam untuk merampok toko emas di kota. Akung membagi-bagikan emas rampokan itu untuk rakyat miskin yang kelaparan karena penjajahan Belanda. Akung menggunakan ilmu gendam untuk membantu rakyat, membantu perjuangan. Sampai Akung bertemu dan jatuh cinta dengan nenekmu, Mbah Rayi."

"Mbah Rayi pasti tidak suka Akung nggendam."

"Memang. Mbah Rayi-mu sangat memegang teguh nilai-nilai agama Islam. Baginya menolong orang adalah perbuatan baik. Perbuatan baik syaratnya harus dilakukan dengan cara baik. Merampok, mencuri dan perbuatan gendam lainnya yang digunakan untuk mengambil milik orang lain itu tidah halal. Dosa."

"Terus, kenapa Mbah Rayi mau menikah dengan Akung?"

"Mbah Rayi mau menerima lamaran Akung dengan syarat tidak menggunakan semua ilmu yang Akung miliki di jalan sesat. Hanya boleh digunakan untuk menolong sesama."

"Jadi, kalau ngambil ikan dari kolam sendiri kayak tadi boleh?"

"Boleh. Asal Sumi mau berjanji tidak menceritakannya pada orang lain."

Sejak saat itu, ilmu gendam Mbah Kakung menjadi rahasia berdua antara kakek dan cucunya. Sesekali Mbah Kakung menggunakannya untuk menyenangkan sang cucu atau membantu orang yang membutuhkan. Tentu dengan syarat, itu barang halal, milik sendiri dan bukan curian.

 

***