Menepis Bayangan Kelam

Lantai 36 Buena Vista Vie foto dokumen pribadi

Senyum tersungging di bibir senja, sekilas mengintip dari kisi jendela kamar yang terbuka. Angin berhembus nakal menerbangkan angan, ingin sekali menari di atas awan menanggalkan lelah yang merundung raga, menenggelamkan beban yang kian sarat di pundak yang nyaris patah, ingin segera menguapkan carut-marut rasa yang tak lagi terbuai oleh harum asa.

 

Kaki melangkah mendekati bibir jendela yang terbuka laksana pintu surga, rimbun pucuk pohon di bawah sana terlihat seperti permadani hijau terbentang melambai bersuka ria menyambut dan akan membawaku ke alam tanpa lara. Menjanjikan kedamaian semu.

Sementara dinding kamar begitu berisik, mengejek, mencerca dan memaki kebodohanku selama ini yang mau saja dijadikan alas kaki bagi seorang penghianat.

 "Menyedihkan," katanya. 

Kenapa masih saja berusaha setia sedangkan pengorbanan panjang telah dihempas ke dasar jurang.

 

Oh, ocehan dinding kamar semakin memekakkan gendang telinga mendorong langkah menuju bibir jendela menggapai kilau senja yang sebentar lagi akan terenggut oleh malam. Lalu berganti kelam.

"Akhiri deritamu manis, tanggalkan luka itu. Kemarilah! Aku akan menuntunmu menuju kedamaian." 

Bisikan itu menggema di antara hiruk-pikuk caci maki dan rasa terabaikan. Lirih namun seperti ada kekuatan yang menuntun menyeret sebelah kakiku melangkah keluar dari bibir jendela, menjulur ke bawah menggapai lambaian pucuk pohon yang setia menunggu menyambut raga yang sebentar lagi terhempas bersama terpupusnya asa.

 

Mata terpejam, satu tangan mendekap dada menguatkan hati mengikuti bisik lirih yang masih saja menghias telinga. Namun apa yang terjadi sedetik kemudian,

Tiga raut wajah yang begitu aku kenal, tiga raut wajah yang pernah menghuni rahim menjelma seperti tiga titik cahaya dalam kegelapan. Mata sendu, luka menganga atas sebuah kehilangan serta suara lirih memilukan hati laksana elegi.

Bisikkan itu semakin kuat mengalahkan deru angin puting beliung yang telah memporak-porandakan akal. Sontak kutarik kembali satu kaki menapak ke tanah. Meringkuk memeluk malam. Kembali mendekap nalar dan berpaling dari bayangan kelam menuju satu titik asa di temaram rasa yang hampir termusnahkan oleh putus asa.

Berusaha menyongsong senja yang akan kembali saat esok tiba.