Bertemu Sosok Tanpa Kepala di Jembatan Citarum

Jembatan Citarum, lokasi kejadian (Ayi R)

Sebuah peristiwa keji yang menggemparkan, belum lama ini terjadi. Seorang anak dengan biadab membunuh ayah kandungnya sendiri dengan menggunakan sabit yang biasa dipakainya untuk memotong rumput. Korban ditebas lehernya hingga terputus.

Tidak tuntas sampai di situ. Potongan kepala  korban  sempat  ditentengnya untuk ditunjukan kepada keluarga dan sejumlah tetangga. Sungguh, sebuah perbuatan biadab yang tidak  terampuni.

Dengan adanya peristiwa miris yang  seperti itu, maka tentu saja selain sempat membuat    geram semua orang,  keadaan    mencekam pun akhirnya sempat pula terjadi. Utamanya pada malam-malam hari.

Berbagai cerita dan desas-desus berbau mistis pun tersiar. Utamanya berkenaan dengan arwah si korban yang konon bergentayangan. Bukan satu dua orang saja  yang  mengaku pernah melihat sosok gaib yang wujudnya menyeramkan itu, namun hampir semua warga mengamini. 

Begitu pula halnya dengan Ano (bukan nama sebenarnya), seorang penduduk setempat, yang juga  mengaku pernah  ditemui oleh sosok gaib penampakan  arwah si korban tersebut.  

Dikisahkan, pada malam hari yang telah  larut itu, Ano baru saja pulang dari tempat kerjanya yakni di sebuah pabrik yang lokasinya cukup jauh dari kampungnya. Dan seperti biasa, ia pulang dengan menaiki  sepeda gunungnya.

Oleh karena waktu yang hampir mendekati tengah malam, maka keadaan jalanan yang dilewatinya sudah sepi. Atau paling, hanya satu dua kendaraan saja yang sesekali masih tampak melintas. Terlebih, jalanan yang tengah dilintasi hanyalah merupakan jalanan arternatif yang tidak dilintasi oleh kendaraan umum.

Pada saat laju sepedanya  mulai  mendekat ke jembatan dari Sungai Citarum yang cukup panjang membentang,  Ano sempat melihat adanya seseorang yang tengah berjalan. 

Namun, karena lajunya yang searah, ditambah cahaya malam yang remang-remang, Ano tidak begitu fokus memperhatikan wajah atau pun wujud orang tersebut, kecuali hanya bisa memastikan seorang laki-laki dewasa yang terlihat dari pakaian warna hitam dan gestur tubuhnya. 

Hanya, ketika laju sepedanya kian mendekat, dan nyaris bisa melewati sosok yang tengah berjalan di atas bahu  jembatan, Ano terkejut bukan kepalang. Orang yang tengah berjalan di samping kirinya itu memiliki bagian kepala.  Sementara tangan kanannya menenteng sesuatu. Penasaran, Ano sempat berhenti untuk memastikan. Ternyata itu kepala yang darahnya masih menetes.

Spontan Ano berteriak histeris dan berusaha memacu sepedanya secepat-cepatnya  Sampai di rumah, Ano menjatuhkan sepedanya dan burur-buru masuk ke rumah. Tubuhnya menggigil ketakutan. 

Hingga berbulan- bulan lamanya, Ano merasa trauma atas kejadian itu sehingga tidak mau lagi melintas di atas Jembatan Sungai Citarum itu sendirian. Apalagi pada waktu malam.

(Seperti diceritakan Ano pada penulis/ Ayi Ruswanto)