Korban Beruntun Alas Roban

Ilustrasi Hutan Angker: Loop.

Garis polisi masih membentang di sepanjang TKP ketika aku datang. Belum lagi memulai penyelidikan ketika aku merasa ada sesuatu yang lain di hutan ini. Sesuatu yang tak bisa kujabarkan dengan nalar ilmiah, persis seperti yang pernah kualami ketika mengupas kasus pembunuhan di daerah X yang terkenal wingit.

Kuperhatikan tunggul-tunggul yang terhampar di sekeliling. Melihat sisa pokok pohon yang kemerahan karena baru ditebang, entah mengapa ada selapis ngilu yang menyelusup ke dalam dada. Semacam perasaan kosong yang berbaur dengan sepi yang pedih. Sementara Brigjen Hendra, rekan kerja yang membantuku dalam kasus ini, masih khusyuk dengan tunggul terbesar yang menjadi korban.

***

Berita hilangnya tiga belas penebang hutan tengah santer di media nasional. Pada lokasi yang diduga sebagai tempat terakhir keberadaan mereka hanya ditemukan tiga truk besar, sebuah buldoser, dua pick-up, juga alat tebang yang tertumpuk di atas gelondong kayu yang rata-rata berdiameter besar.

Berbagai upaya pencarian telah dilakukan, namun tetap tak membuahkan hasil. Hutan seperti menelan bulat-bulat ketiga belas penebang hutan naas tersebut.

***

Kasus yang rumit, batinku.

Tak ditemukannya tanda-tanda kriminal justru membuat kasus ini terasa agak aneh, sebab bukan hal lumrah bagi para penjarah meninggalkan hasil kerja keras mereka, yang bila ditaksir bisa mencapai digit yang cukup gila-gilaan ini.

Siapa sponsor utama dibelakang mereka? Apakah melibatkan banyak perwira seperti kejadian di pulau seberang sana? Karena tak mungkin mereka berani bermain gila di tempat ini, yang tidak hanya seram berdasarkan teritorial, melainkan juga angker secara harfiah ini. Tapi biarlah itu menjadi urusan Propam, Paminal serta Divisi Spiritual, sebab tugasku kali ini jauh lebih spesifik lagi.

Mendadak, pada sudut yang agak tersembunyi di sela pohon besar kutemukan secarik ikat kepala basah, tergeletak di antara pecahan gelas berisi sisa cairan yang agak tak lazim. Mirip kopi namun dengan racikan yang tak biasa, serta berbatang-batang Commodore?

***

Tambang telah terpasang, formasi terbentuk sempurna, mereka siap.  Ini batang terakhir untuk hari ini, menggenapkan perburuan yang telah dimulai sejak pagi buta.

Raung chainsaw memenuhi udara. Tak berapa lama, diameter pohon yang tak kecil itu segera belah, hingga akhirnya bunyi “krak!” menyembul keras di sela deru mesin yang masih menyala diikuti suara yang mirip jerit manusia, entah darimana.

Senyap menyergap, ada sunyi ganjil yang mendadak tercipta. Para pekerja saling pandang dengan tengkuk meremang.

“Bagaimana ini, Ki?” lelaki garang berbaju coklat berbisik lirih kepada Ki Gondo Bodo yang sibuk menambah isi gelas serta terus berusaha mengepulkan asap kemenyan hingga bisa lebih bumbung.

“Ayo, cepat! Hari makin gelap!” Lelaki garang berbaju coklat memecah hening dengan amat tak sabar, mengalirkan kembali darah yang sempat henti di segala penjuru nadi yang ada. Segera dipotong-potongnya batang-batang pohon yang telah tumbang itu, sebelum akhirnya gelondong kayu dimuat ke dalam truk beserta alat tebang yang mereka gunakan.

“Suruh mereka semua berhenti, cepat...!” bisik Ki Gondo Bodo parau dengan mimik yang terlihat amat ketakutan.

Lelaki garang berbaju coklat sejenak merasa gamang.

Ki Gondo Bodo kembali mendesak dengan wajah yang terlihat jauh lebih ketakutan dari yang tadi.

Tapi semua telah terlambat, karena secara tiba-tiba, angin yang amat sejuk menyilir wajah mereka satu-persatu, membuat semua terlena  dan memejamkan mata demi menikmati sejuk yang terasa agak magis itu meski hanya sekejap. Anehnya, ketika membuka mata, gelap entah mengapa telah menjadi begitu sempurna.

“Tunggu! Tadi masih ada sinar matahari, kenapa sekarang menjadi gelap sekali?!” Lelaki garang berbaju coklat nyaris berteriak dalam kejut.

“Hanya sekejap... Mataku hanya terpejam sebentar, kenapa tiba-tiba semua jadi hitam?!” suara lain menimpal tak kalah heran.

“Apa ini?! Aa-aahh... Apa ini? To-looongg..!!! Aaarrrggg!!!”

Teriakan itu memicu riuh pekerja yang lain, memaksa mereka lebih waspada dan bersiaga. Sialnya, seluruh peralatan telah masuk ke dalam truk, sementara untuk mencapai truk terlampau mustahil sebab mereka kini tak ubahnya orang buta yang tak tahu harus bergerak ke mana. Gelap begitu pekat menghalangi pandangan, sama sekali tak ada cahaya.

Detik berikutnya dipenuhi raung berulang yang saling sambung, hingga tersisa Lelaki garang berbaju coklat tiba-tiba merasa punggungnya seperti tengah disapu desir halus.

Lelaki garang berbaju coklat sontak berbalik, namun tak satupun dapat dilihatnya kecuali gelap, sebelum sesuatu tahu-tahu merambat dari bawah kakinya, dan…

“Aaaaaaaaarrrggggg..!!!”

Kegelapan sirna, hutan kembali sepi.

***

Dengan agak nekat bercampur penasaran kuendus sisa cairan di pecahan gelas. Wedang jembawuk?

Kecurigaanku terbukti. Berarti rokok Commodore 555, jembawuk serta semua barang yang berceceran ini adalah semacam sesajen. Setidaknya bekas sesajen, sebelum hancur entah oleh siapa atau oleh apa. Benar-benar amat konyol!

Kumasukkan ikat kepala basah yang kutemukan tadi ke dalam plastik sampel sambil tak henti menggeleng kepala.

Sehebat inikah godaan uang, hingga membuat mereka gelap mata untuk menjarah tempat, yang bahkan bagi orang yang sekedar numpang lewat di jalan raya tembusannyapun banyak yang ciut nyali?

Sekali lagi kuedar pandang ke hutan yang telah amat terkenal sebagai tempat tinggal Buto Ijo dan wewe gombel ini. Hutan yang terlalu banyak menyimpan kengerian sejak Daendels berniat membuat jalan di sini dan memakan korban tak sedikit. Hutan yang di masa Orde Baru bahkan menjadi tempat pembuangan mayat para korban Petrus!

Kembali aku menggeleng-geleng kepala sendiri. Apa dipikirnya sesajen dan dukun cukup untuk menaklukkan Alas Roban?

Baru saja aku hendak menelusur ulang jejak para pembalak yang raib itu, saat kulihat punggung Brigjen Hendra berguncang hebat.

“Ada apa, Hen? Apa yang kau temukan?” buruku langsung berjongkok di sampingnya.

Belum sempat Brigjen Hendra menjawab, semilir angin mengusap wajah kami dengan amat kerap, berbarengan dengan suasana yang perlahan meredup.

Aku sempat berpikir bahwa ini hanya karena matahari yang tertutup awan. Tapi ternyata dugaanku keliru, sebab jauh di atas sana kulihat pepohonan tengah saling merunduk serupa bergandengan tangan dan menjalin dedaun masing-masing dari pucuk ke pucuk. Semakin rapat, semakin rapat, sebelum akhirnya gelap merayap berselimut senyap.

Tempat Angker