Cerita Tempat Misteri Terbaru -Pohon Pohon Keramat

Tipulu angker di ladang Pak Moha. Foto: DokPri

Tidak ada yang menduga jika kelak pohon- pohon yang ditanam Pak Moha di ladang belakang rumahnya akan menjadi tempat penuh misteri. Cerita horor bukan lagi isapan jempol semata manakala mereka yang berinteraksi secara langsung, menjadi korban keangkeran pohon-pohon pilihan yang ditanam lebih dari tiga puluh tahun lalu itu.

"Pohon Tipulu besar itu ditanam sebagai patokan batas tanah milik perusahaan tempat Abah bekerja, sedang Kedondong dibawa beliau entah dari mana. Mungkin memang dimaksudkan sebagai tambahan koleksi karena senang berkebun dan menanam aneka buah," terang Mak Ijah ketika dimintai keterangan oleh penulis pada Jumat (20/11/2020)

Dua pohon itu kini telah ditebang oleh anak ke-empat Pak Moha. Selain dijual ke pabrik ikan juga untuk kepentingan pembangunan rumah pribadi.

"Saya sendiri pernah bertemu dengan makhluk yang menyerupai kera berbulu putih di dekat pohon Tipulu. Makhluk itu hanya menatapi saya yang kala itu hendak pulang ke rumah usai menengok bekas saung di ladang. Dia lalu terus berjalan ke arah pohon Tipulu trus hilang di sekitar situ. Hilang begitu saja," lanjut Mak Ijah lagi. Beliau bersyukur tidak pingsan saat itu.

 

Kesaksian lain datang dari Shawal Lihawa. Kakak ipar penulis yang tertarik dengan hal-hal berbau mistis ini pernah mengadakan uji nyali di area tengah yakni antara pohon Tipulu yang masih tersisa setengah setelah ditebang dan tunggul pohon Kedondong. Bersama beberapa rekan sehobi, mereka mencoba menelusuri jejak mistis di ladang Pak Moha. 

Penyusuran mereka berhasil. Sesosok makhluk halus berjenis Kabinasa ( Genderuwo dalam bahasa Manado) berhasil ditemui. Sayang, selepas tengah  malam, dalam tidurnya Shawal didatangi oleh seorang kakek yang tanpa tedeng aling-aling langsung menarik keras salah satu daun telinganya. Akibatnya, hingga kini lelaki berambut gondrong itu masih yang mengalami gangguan pendengaran.

 

Lain lagi yang dialami Lukman Dandel. Sebagai pemasok kayu bakar untuk pabrik-pabrik pengalengan ikan di Kota Bitung, menebang pohon besar tentu bukan lagi hal baru. Tapi efek kram perut yang tidak biasa baru pertama kali dirasakan lelaki ulet ini ketika menebang pohon kedondong. Pohon yang akrab dengan masa kecilnya sebagai salah satu putra Mak Ijah dan Pak Moha.

"Kalau puru kram deng saki-saki badan di pohon kedondong. Kalau mesin sensor sampai rusak ya di pohon Tipulu itu, " kenang Pak Lukman dalam aksen melayu manado.

 

Penulis seketika teringat dengan tiga kejadian mistis yang dialami sendiri. Pertama, kejadian sewaktu  penulis hilang dari siang hingga hampir pukul delapan malam. Dicari kesana-sini tak juga ditemukan. Hingga datang seseorang yang menyarankan untuk mencari di sekitar pohon Kalumpang besar di sisi kanan kebun. Benar saja, saya ditemukan meringkuk di dahan paling tinggi dengan kondisi tertidur lelap dan memeluk buku. Hal yang masih menjadi pertanyaan hingga kini karena seingat saya, tak sekalipun hari itu diri bermain ke ladang. Melainkan hanya membaca buku di belakang tempat olah kopra di dekat rumah.

Yang kedua dan masih segar dalam ingatan adalah kejadian aneh sekitar tahun 2009 ketika salah satu pohon besar di area ladang Abah hendak ditebang oleh salah satu kerabat jauh pemilik tanah. 

Mesin sensor baru berukuran besar yang hendak digunakan kala itu seketika tercerai-berai bahkan sebelum menyentuh badan pohon. Beruntung tak ada korban jiwa. Tapi meski akhirnya  pohon kayu telur itu berhasil ditebang, kejadian mistis ini kemudian menjadi alasan para tukang untuk beralih menebangi pohon di luar ladang Pak Moha.

Yang ketiga dan paling mengganggu adalah beberapa jam pasca penebangan pohon kedondong, sekitar pukul 17.30 WITA. Saat itu penulis hendak mengisi bak mandi. Dari jarak lumayan dekat, tampak jelas sesosok perempuan berbaju terusan hitam melintasi ladang dari arah utara. Sosok itu lalu duduk dengan wajah tertunduk di tunggul pohon kedondong yang masih segar. Gestur tubuhnya seolah menunjukkan kesedihan yang amat sangat.

Perlu beberapa detik untuk menyadarkan diri dari rasa terkejut sebelum akhirnya penulis menunda jam mandi dan memilih berlalu dengan langkah seribu meninggalkan sumur sembari membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an sebagai perlindungan diri.

 

 

Tempat Angker