Krajan, Mistis yang Lahir dari Kenangan Manis

Foto: Dokpri.

Perjumpaan dengan sanak kandung belum lama ini menyimpan getir. Tentang Krajan, rumah besar keluarga dengan segenap kenangan manis di setiap hangat ruangnya, yang kini tak dinyana harus berakhir sebagai tempat angker yang penuh mistis.

Semua bermula dari kedatangan kakak perempuan penulis berinisial IN guna beberapa keperluan, termasuk menyelesaikan urusan bisnis yang tertunda dampak Corona.

Awalnya semua biasa saja, hingga saat bincang keluarga sang kakak secara selewatan mencetuskan kebingungan yang tampaknya telah ditahan sejak pagi buta.

“Waktu ke masjid sekitar pukul empat dinihari, saya lihat ada anak kecil mengintip dari balik tirai jendela Krajan, itu anaknya siapa?”

Tapi bukannya menjawab, para Bulik serentak saling pandang satu sama lain dengan tatap aneh, membuat penulis yang turut hadir menjadi bingung sebab apa ajaibnya ada anak kecil yang mengintip dari balik tirai jendela?

“Kamu tak salah lihat, IN?” tanya Lilik yang tinggal di rumah yang berlokasi sebelah belakang Krajan dengan muka kentara pias. Pertanyaan yang wajar sebenarnya karena bisa saja hanya salah lihat, apalagi IN saat itu masih dalam kondisi lelah karena baru tiba pasca perjalanan panjang menempuh 363 kilometer jauhnya.

Tapi IN justru menjawab dengan kalimat tegas dan penuh semangat yang memang telah menjadi watak dirinya itu.

“Enggak, Lik. Saya sampai tengok dua kali saking penasaran karena pagi sekali itu bocah bangunnya, juga khawatir bahaya misalnya dia buka pintu dan keluar sendirian tanpa ada yang tahu. Tapi sudah tak kelihatan lagi, barangkali sudah masuk kamar kembali.”

Suasana kembali hening, cukup lama, sebelum akhirnya satu persatu mulai buka suara. Tentang rumah besar berkamar banyak yang sering kosong tanpa satupun anak kecil yang tinggal di sana. Yang tinggal di Krajan saat ini hanya AW, yang ternyata jarang pulang.

“Sebenarnya telah banyak yang melaporkan tentang hal itu,” jelas Lilik, “termasuk para tetangga yang rumahnya di deret sebelah Timur Krajan.”

Agak mengernyit juga dahi penulis mendengar semuanya. Tentang tetangga yang ramai mempergunjingkan penampakan serupa, termasuk sosok perempuan berambut panjang dengan tampilan serba putih yang terlihat di sekitar pohon mangga depan rumah.

Apalagi AW yang tinggal di Krajan tersebutjuga  pernah mengeluh, bahwa sepulangnya dari jaga malam, dia mendengar suara seperti orang yang tengah mandi.

Tentu saja hal itu amat membingungkan AW sebab Krajan terkunci dan hanya dia yang memegang kuncinya. Semakin bertambah bingung ketika berkali-kali diperiksa tetap tak ada apapun di kamar mandi. Masak iya, ada penampakan hantu pada jam tujuh pagi?

Penulis sempat mikir apakah pembangunan rumah baru belum lama ini turut menjadi pemicu semua keganjilan? Sebab bila dipandang sekilas, tata letaknya menjadi mirip seperti yang banyak digembar-gemborkan dalam Mitos Omah Jejer Tilu yang pernah viral itu.

Hal itu masih ditambah lokasi sekitar yang memang masih banyak memiliki bidang kosong alami seperti kali besar serta daerah persawahan yang terletak di belakang Krajan, yang tentu saja gelap dan sunyi khas desa.

Penulis sendiri sempat mengalami kejadian tak mengenakkan, saat dini hari sekitar pukul dua mendadak ingin buang air kecil. Waktu itu kamar mandi masih berada di luar rumah dengan ketinggian tembok yang hanya sebatas leher.

Saat itu tanpa sengaja penulis menoleh ke bagian belakang rumah, dan menjadi terheran-heran karena melihat ada semacam cahaya lampu yang biasa menjadi penerang bagian depan rumah.

Waktu itu penulis hanya membatin, sejak kapan ada gubuk dan atau rumah di sana, serta siapa yang berani tinggal di lokasi terpencil begitu?

Namun sebuah kilasan mendadak langsung menyadarkan penulis, yang dengan bulu kuduk meremang penulis segera menunaikan hajat lalu tergesa kembali masuk rumah. Bukan apa-apa, sore tadi penulis masih melewati tempat itu dan tak ada satupun bangun buatan manusia bercokol di sana, selain melulu berisi pepohonan besar dengan rumput yang cukup rimbun.

Benarkah mitos Omah Jejer Tilu yang kini tengah menimpa Krajan? Rumah besar yang banyak memberi puncak bahagia bagi penulis dan para sepupu saat masih kecil dulu? Dengan berbagai kenangan manis yang terus abadi dalam benak dan sanubari?

Benarkah? Batin penulis sambil memandangi tanah bekas tumbuh pohon kelapa di halaman, yang dulu pernah jadi rumah Genderuwo dengan penampakan betis kakinya saja setinggi wuwungan rumah, juga pojok samping pintu utama yang pernah terlihat pocong satu-dua kali menampak di sana.

Entah mengapa, tiba-tiba saja penulis merasa seperti ada yang menyuruh pergi dari lokasi berdiri yang sekarang ini.

Tempat Angker