Cerita Horor Lelaki di Sampingku

Suasana asri penuh misteri

Sekilas pandang, tempat tinggalku biasa saja. Pemandangan asri wilayah pedesaan di tepi kota. Seolah tidak ada cerita misteri yang tersimpan di dalamnya. Aku penduduk baru di kampung ini. Ternyata ada banyak kisah misteri.

Terkuaknya cerita misteri aku tahu dari suamiku yang baru saja pulang ronda. Ternyata bapak-bapak yang sedang ronda bercerita tentang berbagai tempat misteri di dusunku.

Pertama, cerita tentang pocong yang ada di dekat bambu di ujung dusun. Seorang bapak menceritakan ketika malam dia lewat sendiri di dekat tempat itu, ia melihat ‘sugus’. Itu adalah istilah untuk menyebut makhluk halus yang satu ini. Dan makhuk itu menghilang di balik rerimbunan bambu.

Aku sangat antusias mendengarkan cerita suamiku. Cerita horor sangat aku suka. Bisa mengembangkan imajinasi menurutku. Seperti malam ini, aku baru saja menamatkan cerita misteri terbaru dari penulis idolaku. Namun, aku merasa agak aneh. Bulu kudukku berdiri. Aku membaui sesuatu.

Ada pula cerita yang menyebutkan bahwa Bu X pernah masuk sumur di belakang rumahnya karena suaminya merasa suaminya memanggilnya. Untunglah si ibu selamat. Dan anehnya, walau masuk sumur, dia tidak terluka sedikitpun.

“Kalau si Bu X, aku tahu ceritanya,’ jawabku pada suamiku. “Weladalah, kenapa dari tadi aku bulu kudukku berdiri ya, Pak?”

“Ini malam Jumat Kliwon lho, Bu,” jawabnya. Bau kemenyan kembali menusuk hidungku. Aku merinding.

Suamiku melanjutkan ceritanya. Cerita misteri terbaru adalah adanya orang yang duduk-duduk di depan rumah tetanggaku yang sibuk bertugas. Yang laki-laki adalah polisi dan istrinya adalah perawat. Rumah sering dalam keadaan kosong karena mereka jaga malam atau piket. Mungkin para makhluk halus berupaya menempatinya. Dan lagi, ketika Magrib tiba, anak kecil yang lewat depan rumah itu pasti akan nangis jejeritan.

Seperti malam itu, ketika hendak mengambil uang jimpitan, mereka dikejutkan oleh kelebat seseorang. Ia yang tadi duduk di depan rumah kemudian masuk. Padahal pagar rumah dalam keadaan terkunci. Tergembok. Tapi makhluk itu bisa membuka pintu gerbang. Ada bunyi...krieeetttt. Dengan jelas mereka mendengarnya.

“Wah, ngeri juga ya, Pak,” kataku. Aku menggeser dudukkku dan merapatkan badan.

“Bu, ini malam Jumat, lho,” katanya. Aku melihat wajahnya bukan seperti yang kukenal.

“Bapak, jangan nakut-nakutin dong,” kataku.

Grombyangggggg.... Klontaanggg.... Kucing tetangga mungkin menjatuhkan panci di dapur.

“Pak.......!!!.” Refleks aku memeluknya. Lelaki di sebelahku tersenyum penuh misteri.

“Bu, bukain pintu...” Aku mendengar ketukan pintu dan suara suamiku.

 

Tempat Angker