Membongkar Sederet Mistis di Lapas Tanggamus

Dok.pri

Tak banyak ingatan yang saya punya tentang penjara. Saya tidak tahu apa itu jeruji besi, hingga suatu hari diajak Bapak menjenguk Om Joni yang katanya berada dalam penjara.

Kejadian itu amat membekas, dengan saya yang terkejut luar biasa, bahkan cenderung takut saat Om Joni terlibat pembicaraan serius dengan Bapak sambil dijaga oleh beberapa orang berseragam.

Di mata kecil saya yang baru menginjak kelas empat SD, wajah Om Joni tampak sangat mengerikan. Lebam, bengkak dan biru di sekitar mata, bibir jontor dan ada gurat menghitam bekas bercak darah memanjang hingga ke dahu.

Saya masih ingat, Om Joni menunduk tanpa sedikitpun mau memandang ke arah kami. Sikap ramahnya hilang, Om Joni bersikap seperti tidak mengenal saya. Padahal dalam tiap kesempatan singgah ke rumah, kami biasa main cangkulan kartu remi sambil bercanda dan banyak tawa. Dia Om yang asik juga menyenangkan.

Tapi kemudian saya mengerti darimana datangnya tembok pembatas yang tebal dan menjulang di antara kami itu. Om Joni adalah tersangka pencurian spead boat milik Bapak, yang kala itu adalah aset berharga bagi keluarga kami. Ya, kami tinggal di sebuah daerah industri udang di ujung paling selatan pulau Sumatera.

Ternyata Bapak juga sama terkejutnya dengan saya saat melihat rupa wajah Om Joni. Padahal menurut cerita teman-teman Bapak yang berhasil menggerebek hingga ke persembunyian, Om Joni termasuk kebal tinju tahan tendangan. Hanya mengaduh kecil sesekali tanpa sedikitpun lecet apalagi babak-belur. Tapi setiba di penjara, wajah putih mulus khas aseli darah Sumatera itu berubah demikian rupa hingga rasanya sulit untuk dikenali.

Segala keterkejutan masa silam itu baru terbongkar saat saya menelisik kisah-kisah tersembunyi dari balik tembok penjara bersama teman kecil yang kini menjadi staf di salah satu lapas yang berada di wilayah Tanggamus-Lampung.

Bersama Farhan –sebut saja namanya begitu, langsung mengalir berbagai cerita tentang penjara, lengkap dengan ribuan kisah kelam dari masa lalu.

"Dulu penjara itu identik dengan neraka dunia," ungkap Farhan, "karena sebelum adanya perlindungan HAM, penjara adalah tempat paling keji yang memperlakukan manusia seperti binatang." 

Fakta yang diungkap Farhan seketika memercik ingatan tentang Gulag, Kamp Tahanan dan Kerja Paksa era Vladimir Lenin pada masa awal Uni Soviet terbentuk. Di sana orang disiksa, diperkosa, dipekerjakan tanpa manusiawi, dibunuh, bahkan tak sedikit yang akhirnya membakar diri sebab putus asa atas penindasan yang dialami.

Begitu pula dengan Nyanyi Sunyi Seorang Bisu yang menjadi rekaman kekejaman pemenjaraan manusia di masa lalu, hingga membuat Pramoedya Ananta Toer sebagai penulisnya harus kehilangan salah satu pendengarannya, akibat dipopor senjata oleh seorang tentara pasca dirinya ditangkap lalu digelandang ke Pulau Buru.

Semua kisah kelam penjara semacam itu kerap menolak untuk dilupakan. Tak sekadar muncul sebagai data di dalam ingatan, melainkan lebih serupa luka yang bergentayangan. Tak jarang menyeberang dunia demi untuk didengar dan dipedulikan, atau bisa saja hanya mampir selintasan sebagai penanda ingatan.

"Ada yang namanya kamar B5, ruang isolasi, tempat tahanan mendisiplinkan hukuman di dalam hukuman," lanjut Farhan, "yang merupakan tempat paling menyeramkan di rutan ini."

Farhan menyebutkan bahwa di kamar seluas 3 meter persegi ini pada malam-malam tertentu masih terdengar jeritan yang menyayat. Para petugas yang kebetulan mendapat jadwal piket malam seringkali menghindari menjenguk kamar ini saat tengah berpatroli. Kabarnya, di kamar ini tepatnya kekejaman yang diwariskan oleh Belanda terjadi, hingga menewaskan banyak narapidana. Tak heran bila kemudian banyak yang melihat penampakan sosok-sosok astral berkelebat di seputar kamar tersebut.

Namun yang paling sering adalah suara dentingan besi seperti yang lazim terdengar di pondokan pande besi. Farhan sendiri mengaku pernah mendengar suara besi beradu dari kamar ini saat tengah berpatroli pada jam malam. 

Suara denting besi beradu ini ternyata sampai juga ke rumah warga yang berada di sekitar rutan. Akibatnya banyak warga mengeluh tentang kegaduhan dari rutan, terlebih saat hari telah terlalu tua lalu melahirkan malam.

Anehnya, setiap kali dilakukan pengecekan, tak ada satupun petugas atau narapidana yang melakukan kegiatan yang berhubungan dengan besi pada malam yang dikeluhkan tersebut. Rupanya "penghuni" rutan yang lainlah yang melakukannya.

Yang paling menarik sekaligus menggelitik adalah “Pintu Suci”, yang masih menurut keterangan Farhan adalah semacam pintu steril yang berfungsi untuk melunturkan kekuatan magis dari luar yang dibawa masuk ke dalam rutan.

Saya sendiri tak menyangka saat mendengarnya. Ternyata lembaga pemerintah sekelas penjara pun memakai pendekatan metafisik ini. Dan bukan hanya di Lapas Tanggamus saja, melainkan merata ada di semua rumah tahanan negeri ini!

Cara kerjanya sederhana, yaitu sebuah pintu yang ditentukan kemudian “diisi" dengan kekuatan gaib, yang berfungsi sebagai penangkal untuk segala kekuatan serupa yang berasal dari luar.

Alasan yang digunakan pun sangat logis, sebab memang sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak calon narapidana yang sengaja mengisi dirinya dengan ilmu-ilmu gaib sebelum masuk penjara, yang selain untuk alasan keselamatan diri dari intimidasi sesama narapidana juga bertujuan untuk bekal kabur dari penjara.

Hasilnya tetap nol besar. Begitu mereka berjalan melewati Pintu Suci, maka seketika itu pula langsung luntur segala simpanan gaib yang menjadi bekal tersebut, sehingga kemungkinan untuk mangkir dari hukuman dengan menggunakan daya gaib dapat dicegah. Sampai di sini akhirnya saya paham, mengapa dulu Om Joni yang kebal terhadap amuk massa tetap babak-belur di sel penjara.

Tapi siapa sangka Pintu Suci memiliki sisi dilematis, yang bahkan tak jarang menyerang ‘penguasa’ penjara itu sendiri.

"Kami yang berjaga di luar biasanya hanya tertawa ketika pagi hari buta mendengar jeritan dari dalam," ujar Farhan teringat kelucuan ganjil yang terjadi di Pintu Suci.

Biasanya, para petugas jaga malam tidur berimpitan di area dekat pintu steril. Tanpa disadari, banyak kejadian ganjil yang terjadi saat mereka tidur. Dan ketika bangun, tahu-tahu salah satu dari mereka ada yang sudah berada di lantai dua. Ada juga yang terlelap di depan pintu kamar mandi, sementara kasur berada di dalam kamar mandi. 

"Tapi yang paling banyak diganggu adalah mereka yang malas menjaga kebersihan diri," imbuh Farhan membuka kisah ngilu, malu sekaligus lucu bertabur misteri itu.

Salah satu ceritanya datang dari seorang petugas yang letak rumahnya berada tak jauh dari rutan.


Saat mendapat jadwal tugas jaga malam, Andri –bukan nama sebenarnya- meminta izin pulang selepas isya.
Ternyata kepulangan tersebut untuk menjenguk istri, dalam rangka memenuhi kebutuhan syahwat. Dan hal itu memang diperbolehkan.
Sayangnya, Andri ceroboh. Ia tidak mandi junub terlebih dahulu, melainkan langsung kembali ke tempat kerja demi melaksanakan tugas. Keadaan Andri yang belum bersih inilah yang membuat dirinya mendapat "sensor" dari Pintu Suci.

Malam saat lelap di ruang sempit dekat Pintu Suci, Andri bermimpi. Dalam mimpinya ia masih bersama sang istri, dan kembali mengulang ritual cinta yang dilakukan waktu izin pulang tadi.

Semua berjalan sebagaimana layaknya orang yang tengah senggama, termasuk menanggalkan seluruh pakaian. Ternyata Andri benar-benar tidur dalam keadaan tanpa busana malam itu, hingga pagi tiba.
Saat Andri dan teman petugas lain terbangun, mereka saling berteriak akibat kaget dengan pemandangan yang tersaji di depan mata dari tubuh Andri. Lucu sekaligus ngilu keganjilannya.

"Maka kami sering menyebut gangguan-gangguan itu dengan hantu usil penjara." pungkas Farhan menutup cerita.

Demikianlah beberapa kelumit kisah tentang salah satu penjara masa kini yang ada di Provinsi Lampung.

Dengan sejarah panjangnya yang rata-rata kelam, penjara pada akhirnya tak terhindar sebagai magnet bagi cerita-cerita mistis, yang disaksikan sendiri oleh segenap warga di dalamnya baik narapidana maupun petugas rumah tahanan.

[-]
Tempat Angker