Ilusi Mimpi Misterius

worldfghibli.id

Malam itu, sesuatu terjadi. Bahkan misteri ini sangat meresahkan hati. Wanita itu …, ya! Wanita tua berwajah seram, entah dari mana asalnya begitu memaksakan kehendak padaku.

"Makan! Makan! Kalau tidak, Kau akan tanggung akibatnya!"

Paksa wanita tua berwajah seram dalam mimpi. Ia menjubelkan potongan-potongan daging mentah, masih segar dan baru diiris dari tubuh yang masih bernafas. Bayangkan! Bagaimana bisa aku makannya, mungkin saja itu bagian dari potongan tubuh seseorang. Iya, kan? 

"Huuueekkkks!" 

Bahkan memikirkannya saja aku ingin muntah. Apalagi makan?

"Kau lihat wajahmu di cermin? Jika tidak makan, kau akan semakin tua. Menua dan mati! Ayo, makan! Percayalah sama Wak Enjang. Aku tidak mungkin membodohimu! Hehehe …."

Wak Enjang? Ya … itu namanya. Aku terbangun dari mimpi yang aneh. Keringat membanjiri seluruh tubuh. Namun beberapa hari setelahnya, sesuatu terjadi. Dalam waktu singkat wajah terlihat banyak keriput. Padahal umurku baru empat puluhan. Tetapi pantulan di cermin seperti wajah nenek-nenek usia delapan puluh tahun bahkan lebih. Ah ... apa benar, kata-kata Wak Enjang dalam mimpi? Ini … ini jadi kenyataan?

***

"Bi Sas, dari mana buru-buru?" tegur Junai padaku.

"Oh ... enggak, Nai! Sudah mau magrib. Takut terlambat pulang ke rumah." Jelasku pada pemuda tanggung itu.

"Bi Sas bawa apa? Kenapa bungkusannya banyak darah?" selidik Junai curiga.

Huuhh! Cerewet sekali anak ini, kesal juga ditanyain dari tadi. 

"Oh ... ini ikan yang dibeli tadi sore. Makanya mau cepat pulang, takut busuk. Bibi mau masak untuk makan malam. Sudah, ya! Bibi pulang dulu." 

Aku berlalu tanpa menunggu jawaban. Dengan tergesa-gesa memasuki rumah, lalu segera menuju dapur. Aku memang tinggal sendiri, tidak ada sanak saudara. Aku bahkan tidak tahu siapa orang tuaku. Segera kubuka bungkusan tadi. 'Huuueeekkkk!' Anyir sekali! Setelah membaui, sambil menarik nafas panjang kemudian dihembuskan. Daging mentah kupaksakan masuk mulut pelan-pelan. Hmmmm … enak juga, meski agak alot. 

'Gleeegggg ... gleeegggg ... gleeeggg ...! Aaahhh ...!' 

Segelas darah segar masuk ke mulut, menyirami kerongkongan hingga masuk perut. 

"Huuukkkk ...!" 

Cairan merah itu hampir saja keluar jika tak kutahan. Mau bagaimana lagi? Aku terpaksa. Akhirnya aku merasa kantuk datang, kemudian berjalan masuk kamar dan ingin tidur. Sebelumnya aku melihat pantulan di cermin, ajaib! Wajahku kembali muda. Wah ... luar biasa! Baru sekali menyantap daging mentah dan darah, rupaku sudah terlihat segar. Dengan perasaan bahagia, kuhempaskan tubuh ke kasur empuk. 

"Duh, enaknya!" ucapku sambil memeluk guling empuk.

Namun indera pendengaranku menangkap suara ribut-ribut dari luar rumah.

"Sasmi! Sasmi! Keluar kau manusia terkutuk! Keluar!"

Waduh! Ada apa ini? Mengapa banyak orang di luar rumah, berteriak memintaku keluar. Ada apa ini? Perasaanku tak enak.

"Sasmi, keluar! Kalau tidak, kami akan membakar rumahmu. Biar kau mati mengenaskan!" teriak seseorang dengan lantang.

Dengan jantung berdebar-debar, seluruh tubuh gemetar aku menghampiri pintu. Suara gaduh terus menggema, seperti sekumpulan demonstran yang murka.

"Ayo, keluar!" 

"Iya, tunggu. A-a-aku keluar! A-a-ada apa?" 

"Jangan pura-pura. Hei, wanita iblis! Di mana kau sembunyikan mayat anak Bang Usup?" tanya salah satu warga bernama I'iet.

"Haaah, mayat? Mayat siapa, aku tidak menyembunyikan mayat!" jawabku blo'on.. 

"Jangan bohong! Ayo Bapak-bapak dan Ibu-ibu, kita geledah rumah wanita kejam ini!" komando Pak Ajun, yang masih merupakan saudara Bang Usup. 

"Ayooo ...!" jawab mereka kompak.

Warga menyerbu masuk tanpa permisi. Dengan beringas mereka menggeledah seluruh penjuru rumah. Beberapa dari mereka berjaga-jaga dan berdiri mengelilingiku, takut aku kabur. Beberapa menit kemudian, warga yang tidak menemukan apa-apa pun keluar. Tersirat rasa kecewa dan kesal di wajah mereka.

"Tidak ada mayat dalam rumahnya, tapi aku menemukan ini!" seorang pria gembul menenteng selembar kain dan gelas dari dapurku.

"Celaka!" desir hatiku cemas.

Semua menatap tajam, nyala kemarahan terlihat seperti hendak memangsa hidup-hidup. Tentu saja aku ketakutan bukan kepalang. Karena tertangkap basah masih menyimpan potongan daging, dan sisa darah di gelas tadi. Aku membisu, tubuh bergetar hebat.

"Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, jika Sasmi tidak mau memberitahu dimana mayat Mimi. Kita bakar saja dia hidup-hidup, setuju?" lagi-lagi suara I'iet lantang menyeru.

"Setuju ...!" pekik mereka berang. 

"A-am-ampun ... aku tidak tahu dimana mayat Mimi. Sumpah! Demi Tuhan, aku tidak berbohong!" 

Tak berdaya, tersudut! Andai saja ada racun, mungkin lebih baik kutenggak sekarang juga agar bisa mengakhiri semua perlakuan memalukan ini.

"Ah ... bohong! Ini apa?" kata I'iet berang sambil menunjukan barang bukti, "tadi sore, Junai melihat kau membawa sesuatu. Karena ia curiga, maka segera melapor kepada Pak RT. Ditambah Mimi sejak siang tidak pulang. Sebelumnya ada yang melihat anak itu sedang berjalan denganmu!" jelas paman Mimi berapi-api. "Kau masih tak mengaku?"

"Sumpah! Aku tidak tahu." jawabku ciut.

Bagaimana aku bisa menjelaskan kepada warga, bahwa aku baru saja makan daging mentah dan minum darah. Sumpah! Aku dapatkan itu semua dari seorang di pasar. Aku tidak membunuh siapa-siapa.

Warga semakin marah melihat kebisuanku. Lalu beberapa ibu-ibu menyirami aku dengan bensin. Yaaa … Tuhan, pasrah! Aku putus asa, entah mengapa nasib ini begitu buruk. Keadaan semakin genting!

"Pak I'iet, Mimi sudah ditemukan!" pekik sebuah suara.

Semua warga menoleh ke arah datangnya suara. Pak RT, Bang Usup, Bu Usup dan Mimi berjalan tergopoh-gopoh menghampiri kami.

"Maaf, bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Mimi sudah ditemukan, ia tertidur di kolong rumah Pak RT tadi sore habis main petak umpet sama teman-temannya." Jelas Bang Ucup kepada warga.

"Oooohhhh ...!" seru mereka kompak.

Aku bernafas lega. Semua senang mengetahui Mimi baik-baik saja.

"Tapi, bagaimana dengan Bi Sas? Bukankah ini sangat aneh? Kita menemukan potongan daging mentah, darah dalam gelas, dan bercaknya di kain itu!" tukas Junai masih penasaran. 

"Yah, coba kau jelaskan! Agar kami tidak salah paham." Pinta Pak RT kepadaku, yang baru muncul bebarengan dengan kehadiran Pak Ucup sekeluarga.

Dengan suara yang masih bergetar aku bercerita perihal mimpi. Tentang Wak Enjang yang memaksaku makan daging mentah dan minum darah. Karena tidak mungkin membunuh, aku pun membeli daging ular kobra berikut darahnya untuk dikonsumsi. Sebab aku pernah membaca sebuah artikel, jika mengkonsumsi daging dan darah ular kobra, bisa memelihara kecantikan kulit dan awet muda. 

"Sasmi … Sasmi! Ada-ada saja ulahmu!" Pak RT geleng-geleng kepala. 

"Uuuuuu …," warga bersorak.

Akhirnya mereka percaya, aku selamat dari penghakiman massa. Semua bubar, pulang ke rumah masing-masing. Tapi ada seseorang yang tetap tinggal, ia berdiri di kejauhan. 

"Hehehehehe ...!" 

"Wa-wa-waak Enjang ...?" aku terkesiap.

 

ZQS