Kisah Misteri Villa Merah Bersimbah Darah di Cukul Pangalengan

Villa Jerman (villa merah) Cukul, Pangalengan-google image.

"Salam Seram, Sahabat Pelacak Arwah. Jumpa kembali bersama  kami, empat orang Mahasiswa Bandung, yang memiliki hobi menjelajah tempat misteri dan angker. The Ghosthunters! Setiap mendengar gosip cerita horor, kami pasti akan langsung meluncur ke Te Ka Pe." 

Aku mulai merekam saat klub Pelacak Arwah membicarakan tujuan selanjutnya, sebuah kota kecil yang terletak di Bandung Selatan bernama Pangalengan. Sudah beberapa kali terdengar cerita misteri tentang sebuah villa peninggalan pemerintahan Hindia Belanda yang kerap meresahkan. Masyarakat setempat menyebutnya Villa Jerman, ada juga yang menamakan bangunan ini  'Villa Merah' maka layaknya detektif spesialis kisah misteri, kami memulai penyelidikan.

Aku berboncengan dengan Nailendra menggunakan Norton klasik, sedangkan Irman berada satu motor dengan Surya. Perjalanan dimulai menjelang sore, sengaja kami memilih berkendara dengan santai. Agar tiba di lokasi saat gelap mulai tiba, sehingga dapat langsung berburu. Kalian tidak pernah mendengar makhluk astral wara wiri di siang hari, kan? 

Setelah menghabiskan waktu selama satu setengah jam, geng Pemburu Arwah sampai di tempat tujuan. Kami memasuki alun alun kecamatan Pangalengan dengan bangunan ikonik gedung KPBS. Kota kecil di Bandung Selatan ini, memang merupakan penghasil susu sapi terbesar, perkebunan teh juga kopi.

Sengaja kami berhenti untuk makan malam dan membeli air mineral serta beberapa camilan untuk bekal menginap nanti. Alasan kami menghindari perut kosong adalah karena saat lapar biasanya akan lebih gampang berhalusinasi dan itu akan menggagalkan hasil ekspedisi.

Hamparan perkebunan teh nan laksana permadani hijau menyambut kami. Penerangan di sepanjang jalan membuat daun daun teh memantulkan warna keemasan. Aku tak henti mengambil beberapa gambar dan merekam selama di perjalanan menuju Villa Jerman. Tentu saja sebagai bahan konten youtube channel 'Ghosthunters Expedition'. 

Dari jauh kemegahan villa ini sudah nampak, sebab berdiri di atas tanah membukit. Jalan menanjak menuju parkiran masih berupa batuan kerikil. Benar benar menjaga kesan klasik, mengimbangi bangunan antik khas Eropa ini.

"Man, mamang penjaga villanya sudah dikabari, kan?" Tanya Nail, dia memang selalu paling terorganisir dalam hal apapun.

"Sudah atuh, katanya nanti dia nunggu di pinggir jalan depan villa," tegas Irman.

Motor kami sudah berhenti di depan jalan masuk Villa Jerman ini, tapi belum tampak siapa pun menunggu. Cahaya lampu jauh motor menyorot pepohonan besar dan rindang yang mendominasi bagian halaman. Memayungi bunga  berondong, bunga lonceng dan dahlia berwarna warni. 

Semilir angin yang teramat dingin membuat seluruh tubuh merinding, seiring gemerisiknya dedaunan. Pantas saja kalau villa ini selalu menjadi sasaran cerita horor. Dan itu yang akan dibuktikan oleh geng kami.

Aku bergegas turun dari motor, tak sabar menunggu penjaga villa, kemudian langsung berlari mendekati pintu villa. Penasaran ingin mengintip ke dalam melalui jendela jendela besar tanpa tirai. Benar saja sebuah siluet tertangkap mata dalam cahaya ruang tamu yang temaram. 

"Mamangnya di dalam, sedang sholat," aku menarik kesimpulan karena sosok yang terlihat tadi sedang berdiri menyamping dan bersidekap. 

"Ngaco kamu, Ann, ini mamangnya baru datang!" seru Surya. Seketika batin mencelos, kenapa harus aku yang menangkap penampakan pertama.

Ruangan luas tanpa sekat, aroma kayu tua menguar. Bagian lantai teramat dingin, pengaruh suhu udara Cukul, Pangalengan yang mencapai angka 15 derajat. Menyesal tadi aku membuka jaket dan sepatu. Cahaya matahari tak pernah tampak garang, redup, malu malu. Begitu cerita mamang villa saat membukakan pintu.

Sengaja kami tak banyak bertanya tentang keangkeran villa ini. Biar geng ini menemukan sendiri bukti bukti jejak mistis yang tertinggal. Agar menjadi cerita misteri terbaru yang akan aku tuliskan di blog 'Pemburu Arwah'.

Demi rencana begadang malam ini, Nail, Irman dan Surya menikmati kopi tubruk produk lokal, tentu saja aku yang membuatkan, jangan pikir sebagai wanita aku diperlakukan istimewa. Sementara aku memilih menyeduh teh ortodok yang diberikan mamang villa. 

Suara cicak yang menggema membuat aku terhenyak, membuat tanganku tak sengaja menyenggol gelas. Tentu saja teh panas itu ambyar di lantai,  pecahan gelasnya tersebar. Kebiasaan ceroboh memang sulit hilang, menyebabkan telapak kakiku tergores beling. Perih, tapi hanya sedikit. 

Otomatis aku mencari lap dan sapu untuk membersihkan tumpahan serta pecahan gelas yang terserak. Saat akan menyeduh teh untuk kedua kali, mataku melihat bercak bercak darah yang tersebar di lantai. Kembali aku mengambil lap basah, anehnya semakin kuat aku menggosok lantai noda kemerahan itu kian melebar, padahal kakiku hanya tergores sedikit

Cairan merak pekat itu kian menggenang, mengalir cepat ke arahku yang tengah merangkak untuk menghindar. Aku memalingkan wajah ke arah jendela, teman-temanku masih duduk di teras. Ingin berteriak tapi kerongkongan malah terasa tercekik.

Berkali-kali aku mencoba berdiri tetapi selalu gagal, karena lantai licin ini berulang kali melumpuhkan kakiku. Dalam kepanikan mataku malah menangkap bayangan hitam yang tinggi besar. Hampir menutupi seluruh ruangan.

"Ann, kita mau keliling, kamu ikut enggak?" Suara Irman terdengar dari luar sana.

"Ikut, tunggu!" bisikan yang hanya dapat kudengar sendiri, padahal sudah berteriak sekuat tenaga.

Karena tubuh semakin sulit diangkat, akhirnya kuseret dengan paksa. Hanya tinggal beberapa inchi menuju pintu, tangan sebelah kiriku mencoba meraih gagangnya.

"Tunggu, tunggu ... " ucapku lirih saat melihat Nail, Irman dan Surya beranjak dari tempat duduk.

Dalam kepasrahan aku melafalkan ayat ayat suci sebisaku, sambil terus mencoba membuka pintu yang tetiba macet padahal tadi tidak terkunci. Tanpa kembali melihat ke arah belakang, aku berlari saat daun pintu berhasil terbuka lebar.

Tubuhku yang tadi terasa berat, sekarang begitu ringan layaknya kapas yang tertiup angin. Dalam kegelapan aku berlari, menembus udara beku. Tanpa peduli kedua telapak kaki terkoyak kerikil. 

Ah, cahaya! Batinku. Suara klakson truk melonjakan jantung hingga membuatku kehilangan keseimbangan. Entah berapa kali tubuh ini berguling, setelah itu, aku tak mengingat apapun lagi.

"Kenapa, Neng? Kecapean ya, sampai pulas gitu tidurnya."

Kukerjapkan kedua kelopak mata, saat Surya mengguncangkan pundak. Aku, tertidur? Kejadian tadi jelas jelas bukanlah mimpi.

Aku benar benar menemukan sendiri jejak jejak dari kisah misteri Villa Merah Cukul ini. Bilur bilur  di lengan, goresan goresan di pipi, telapak tangan dan tentu saja di bagian kaki. Teramat perih. 

Namun, ketiga temanku menyatakan bahwa misi kali ini gagal. Padahal mamang penjaga villa bersikukuh bahwa di sini adalah tempat angker, sebab dahulu sempat terjadi pembunuhan di Villa Jerman ini. Ruangan bagian dalam bersimbah darah, itulah sebabnya dinamakan Villa Merah.

"Kalau gitu mah, lanjut saja atuh ke pabrik teh tua di Malabar, Den, deket kok dari Cukul mah, di sana ..."

"Hayu kita kemon Ghosthunters!" seru Nail bersemangat. 

Dijawab dengan kompak dan serempak oleh Irman dan Surya, "kemoooooon, gas puoooool!"

Aku? Hanya terpaku, merasakan hawa mistis yang tiba tiba menerpa kulit.

Paris van Java, November 2008.

#aniwijaya711