Kisah Fiksi Pandemi Covid-19 yang Dinubuat Jauh Sebelum Pandemi

Ilustrasi Karya Fiksi Covid-19 (sumber: mancode.id)

Setelah Covid-19 merebak, film Contagion ramai dibicarakan sebagai fiksi yang meramalkan pandemi ini. Sontak film yang dibuat pada tahun 2011 tersebut Kembali ramai ditonton.

Padahal film ini terinspirasi dari epidemi SARS 2003 yang diketahui sebagai salah satu jenis virus corona yang lebih awal.

Film Contagion bukan satu-satunya karya fiksi yang dianggap bisa meramalkan masa depan. Adalah buku Stand On Zanzibar, karya John Brunner (1968) yang dianggap sebagai buku yang paling banyak meramalkan kejadian di abad ke-21.

Buku yang bergenre fiksi ilmiah ini membahas beberapa prediksi terkait aksi terorisme, terror terhadap gedung di Amerika Serikat, hingga kiris ekonomi di tahun 2010.

Brunner juga justru mengaitkan China sebagai musuh besar AS, bukan lagi Rusia. Ia bahkan mengatakan bahwa perang yang akan terjadi di masa depan adalah perang dagang, bukan lagi nuklir.

Yang lebih mengagumkan lagi, Brunner juga mengatakan bahwa AS akan dipimpin oleh seorang presiden yang bernama Obomi. Nah, nama yang sangat mirip dengan Obama bukan?

Sehubungan dengan pandemi Covid-19, ternyata ada sebuah novel yang berjudul The Eyes of Darkness, karya Dean Koontz (1981). Sama seperti The Contagion, buku ini Kembali mendapatkan panggung di tengah wabah corona.

Hanya saja bedanya, The Contagion dibuat berdasarkan ide dari SARS, di saat buku ini dibuat, SARS sama sekali belum ada.

Dalam novelnya, Koontz menuliskan bahwa virus tersebut adalah buatan China dan berasal dari Wuhan, provinsi Hu-Bei, China dan bernama Wuhan-400. Virus ini “sukses” menimbulkan pandemi di seluruh dunia.  

Episentrum pertama virus corona dituliskan dengan tepat pada bukunya, membuat dunia terkesima. Bagaimana bisa?

“Mereka menyebut benda itu 'Wuhan-400' karena dikembangkan di laboratorium RDNA mereka di luar kota Wuhan, dan itu adalah galur keempat dari organisme buatan manusia yang dibuat di pusat penelitian itu,” tulis Koontz dalam buku itu.

Sebenarnya menurut pengakuan Koontz, China dipilih karena pada saat itu, negara ini masih merupakan negara misterius tertutup dan belum memiliki hubungan diplomatik dengan AS.

Akan tetapi, mengapa Wuhan? Plot dalam buku ini berkisah tentang seorang ibu yang bernama Christina Evans yang mencari putranya, Danny yang hilang pada saat berkemah dan ditahan di sebuah laboratorium karena terinfeksi virus Wuhan-400.

Selain itu, ada juga kemunculan seorang dokter China bernama Li-chen yang berkhianat ke AS dan membocorkan rahasia mengenai laboratorium senjata biologis yang paling berbahaya di abad ini. Wuhan-400, adalah nama dari lokasi laboratorium RDNA fiksi pada cerita tersebut.

Publik kemudian menghubungkan laboratorium pada novel ini dengan laboratorium penelitian virus di Wuhan, yang disebut dengan institut Virologi Wuhan yang berjarak 32 km dari episentrum pertama. Bukan hanya itu saja, nama dokter Li Chen dikaitkan juga dengan nama yang mirip dengan whistle blower virus Corona, Li Wenliang.

Memang ada teori konspirasi yang mengatakan bahwa virus covid-19 adalah buatan manusia yang bocor dari laboratorium biokimia di Wuhan. Akan tetapi, banyak yang menentang teori tersebut yang diklaim sebagai hoax dan tidak memiliki bukti.

Meskipun heboh dengan tingkat akurasinya, ada juga yang mengatakan bahwa rangkaian ini hanyalah sebuah kebetulan saja. Albert Wan, pengelola took Bleak House di Hong Kong mengatakan bahwa secara historis Wuhan memang menjadi tempat berbagai fasilitas penelitian mikrobiologi dan virologi. Oleh sebab itu penulis cerdas seperti Koontz akan menggunakan informasi faktual ini untuk menyusun ceritanya.

Paul French, seorang penulis Inggris juga mengatakan hal yang senada. Kemuncula laboratorium biokimia di Wuhan adalah karena factor sejarah. Selama masa kependudukan Jepang di China, adalah unit 731 milik Jepang yang bertugas sebagai unit yang mengembangkan senjata rahasia bagi Jepang, termasuk senjata bio-kimia. Meskipun tidak diakui oleh Jepang, namun banyak pihak yang mengatakan, sisa-sisa senjata biologis ini banyak disimpan di Wuhan.

Namun bagaimana dengan karya fiksi ilmiah tahun 2008, End of Days: Predictions and Prophecies aboy the End of the World, karya almarhum Sylvia Browne, yang konon juga adalah seorang peramal?

Buku itu berbunyi; “Pada sekitar tahun 2020 penyakit seperti pneumonia yang parah akan menyebar ke seluruh dunia, menyerang paru-paru dan saluran bronkial dan menolak semua perawatan yang diketahui."

Sontak bagian singkat yang viral akibat postingan Kim Kardashian pada twitternya menimbulkan spekulasi baru. Banyak yang percaya tulisan itu berhubungan dengan pandemi Covid-19.

Pertanyaan berikut, “apakah ini akhir dari dunia?”

Menurut penulis, ramalan adalah sebuah teori probabilitas dan Analisa. Memiliki tingkat akurasi tinggi karena apa yang tersedia di masa depan, sesungguhnya telah ditentukan dari sekarang.

Namun di sisi lain, sebuah ide yang brillian, bisa saja dapat menjadi contoh atau inspirasi bagi siapa saja untuk menjadikannya sebuah kenyataan.

Bukanlah wewenang penulis untuk mengatakan apakah seseorang telah “mencuri” ide Koontz dan membuatnya menjadi kenyataan, atau ramalan Sylvia Browne berasal dari bocoran Top Secret badan inteligen salah satu negara di dunia?

Namun yang pasti, wabah Covid-19 bukanlah kisah fiksi. Pandemi ini telah menjadi sebuah bencana kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah. Kisah fiksi memberikan setitik ilham, ramalan menimbulkan sebekas ruam, kenyataan menjadikan segudang pelajaran.

SalamAngka

Rudy Gunawan, B.A., CPS®

Numerolog Pertama di Indonesia – versi Rekor MURI