Menjelajah ke Pantai Larangan

Ilustrasi Pantai Larangan

Waktu akhir pekan, Mas Fariz mengajakku untuk pergi berlibur. Mengunjungi Pantai Larangan yang terletak di Desa Larangan Kecamatan Kramat, Tegal. 

Pria berwajah oval ini adalah kekasihku. Ia masih duduk bersandar menatap ke luar jendela minibus. Minibus melaju sangat kencang, hingga sampai di pertigaan lampu merah kami harus turun. 

Setelah itu kami berjalan menuju ke arah barat, lurus terus sampai pintu masuk desa larangan. Jam di lengan tanganku masih menunjukkan pukul 16.30 sore. 

Langit masih cerah, kami melintasi deretan rumah warga. Selain itu banyak kolam-kolam tambak ikan di sisi kanan. Lengkap dengan beberapa pohon yang tumbuh subur di sini. Suasananya sejuk sekali, Mas Fariz tersenyum melihat pesona indah di pantai ini. 

"Ade senang, kan?" ujar Mas Fariz lembut. 

Aku mengangguk dan seutas senyum kembali menyambut. 

Mas Fariz memang paling pintar menemukan tempat wisata, aku suka itu. Keindahan alam ciptaan Tuhan, senja mengantarku ke tempat ini. Sampai ke Dermaga, nampak tulisan 'Pantai Larangan' di ujung bebatuan. Kami duduk di bebatuan itu. Mas Fariz menyalakan musik romantis. 

Aku mulai memotret segala arah dengan gadget-ku. 

"Mas Fariz fotoin," pintaku. 

Aku bergaya dalam hitungan ketiga aku sudah eksis di layar gadget. Diulang-ulang sampai lima kali pun aku masih belum puas. Mas Fariz tetap saja mau memotret. 

Hujan tiba-tiba turun, kami mencari tempat berteduh. Jemari Mas Fariz lincah, menggenggam erat tanganku. Kami berlari sampai setengah basah pakaian ini,  masih belum ketemu juga tempat untuk berteduh. 

Sebuah rumah sederhana terlihat di tengah sawah, berdekatan dengan kolam tambak. Tanaman tomat, cabe rawit tumbuh di pinggiran rumahnya.

"Assalamualaikum," kata Kami sambil mengetuk pintu yang masih tertutup. 

"Walaikumsalam," suara perempuan menyambut.  

Pintu terbuka, pemilik rumah mempersilahkan masuk. Aku melihat seorang bapak bersama kedua anaknya duduk di ruang tamu. Bukan, bisa dikatakan bukan hanya ruang tamu tapi dalam satu ruangan ini bisa untuk bermacam fungsi. Ruang tv, ruang tamu, bahkan tempat tidur lantai sudah ada. Hanya sepetak ukurannya, ini sangat sempit. Tapi, aku dan Mas Fariz butuh tempat berteduh. 

Hujan semakin deras, waktu pun semakin malam. Suara petir melintas, keras sampai ke telingaku. Kaget, aku sempat memeluk Mas Fariz. 

"Kalian sudah nikah," tanya Si Ibu.

"Iya," timpa Mas Fariz berbohong. 

Kami masih pacaran, terhitung hari ini sudah lima tahun. Mungkin jawaban Mas Fariz bisa menenangkan mereka jika kami telah berbohong. 

Lampu tiba-tiba mati, cahaya lilin nampak redup. Aku kedinginan, pemilik rumah memberi sarung kepada kami. Mas Fariz, merekatkan genggamannya. Aku menatap kedua anaknya yang beda usia selisih satu tahun. Laki-laki dan perempuan. Anjing di luar menggonggong keras. Membuat takut seisi rumah. Mereka menghidangkan dua gelas teh hangat dengan singkong rebus. 

Entah, pukul berapa hujan reda. Di luar sangat gelap tidak ada lampu penerangan jalan. Ini satu-satunya rumah yang menetap. Sungguh aku benar-benar takut untuk pulang. Meskipun Mas Fariz berkali-kali menenangkan. Tetap saja aku masih takut, takut dengan kegelapan. Selain gelap, jalanan pun becek ditambah suara anjing yang terus menggonggong seperti ingin menerkam. Kami pun segera pamit dengan mengucapkan kata terimakasih. Berjabat tangan kepada seluruh penghuni rumah. 

Terus Aku dan Mas Fariz masih harus berjalan ke arah kota. Menuju rumah-rumah warga, kolam-kolam tambak ikan dan pohon-pohon yang rindang. Waktu senja memang indah, namun jika petang terlihat sunyi dan menakutkan. Hanya ada aku dan Mas Fariz di jalan setapak ini. Masih jauh menuju jalan lampu merah. 

Angin berhembus kencang, pohon-pohon bergoyang. Ada suara burung hantu, di ranting pohon itulah tempat si burung hinggap. Dari pohon itu samar-samar terlihat bayangan orang tak jelas. Saking takutnya melihat ke arah sana, aku langsung memejamkan kedua mata seraya berdoa dalam hati. Agar kuat untuk berdiri. Detak jantungku berdentum sangat cepat, Mas Fariz masih terlihat tenang. 

"Sudah sampai, Dee," ujarnya. 

Ketika sampai di rumah warga, Mas Fariz mengajak ke Mushola untuk melaksanakan kewajiban. Katanya aku duluan saja yang sholat. Gantian, Mas Fariz berjaga di pintu. Lampu masih belum menyala. 

Selesai aku sholat,  Mas Fariz pun bergantian sholat tapi aku tidak mau menunggu di luar. Mungkin lebih tepatnya menunggu di belakang Mas Fariz. Aku masih takut jika jauh dari Mas Fariz. 

Lalu, kami mulai beranjak lagi. Berjalan kaki, mampir di sebuah warung makan untuk mengisi perut. 

**

Kami menghentikan minibus setelah menunggu setengah jam. Akhirnya, minibus lewat di jalan kota. Kami bisa pulang dengan tenang. 

Di dalan minibus, terdapat empat penumpang. Ada satu gadis duduk sendirian dengan membawa koper. Duduk di jok belakang, matanya sembab dan mulai menangis. 

Aku dengan Mas Fariz bingung, mengapa perempuan itu menangis? 

"Kenapa Mbak?" tanya Mas Fariz. 

"Hikss.., aku ditipu mas. Niat cari kerja di Jakarta katanya kerja di PT ternyata tempat begituan," cerita Si Perempuan sambil terus menangis. 

"Sabar, ya Mbak," kata Mas Fariz menutup pembicaraan. 

Kami terdiam cukup lama, aku bisa menebak dari jawaban Si Perempuan. Sebab dia menangis. Aku juga tahu Jakarta itu keras, yang kuat yang bisa bertahan. Dan yang lemah akan jadi bawahan. 

Tapi, aku salut dengan Mas Fariz. Dia bisa jadi Security di Jakarta. Di Hotel bintang lima. Dia pantas, karena aku juga melihat sosok Mas Fariz saat di pantai tadi dia sosok yang sangat kuat. Yang bisa menjaga siapa pun.  Termasuk aku, kekasihnya. 

Hemmm...

Hanya bersamanya rasa takut ini sekejap hilang. 

***

 

Pemalang, 13 November 2020 

Tempat Angker