Tersesat

Dok.pri

Aku menatap ke angkasa hitam, terpukau oleh bintang-bintang di langit malam, lengkap dengan cahaya penuh bulan. Angin sepoi menerpah wajah, mengelus lembut helai rambutku yang tergerai panjang. Sesekali terdengar seguk burung hantu di dahan randu depan rumah. Jeritnya menambah kesyahduan, aku terbuai. Purnama kali ini begitu sempurna tanpa sedikitpun awan di atas sana. Lamat-lamat terdengar langgam jawa dari kejauhan, diiringi dengung gamelan. Merdu, merdu sekali!

'Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo Tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet ...'

Lirik lagu yang luar biasa indahnya. Semakin dinikmati, semakin lagu itu merasuk ke dalam hati. Tak sadar aku berdiri, lalu menari mengikuti irama. Gelang kaki bergemerincingan, terayun-ayun mengkuti langkah kakiku yang jenjang. 

 

Sampai suatu ketika, aku melihat seseorang berjalan kaki dengan langkah terburu-buru, menyusuri jalanan kampung yang lengang. Sesekali ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seakan memastikan kondisi sekitar aman. Keisenganku mulai timbul untuk menjahili dirinya.

 

Dari jarak dua meter, aku lempar sebuah ranting pohon ke depan langkahnya. Sontak ia terhenti dan menjerit.

 

“Aaahhh … si-si-sia-pa?” katanya gagap, wajah pucat memelas.

 

Aku tertawa cekikikan, ia kian gemetar. 

 

“Ampun, jangan ganggu saya!” pintanya sambil menyapu pandangan ke segala arah. 

 

Lagi-lagi aku ngikik lebih kencang, kali ini sambil mengayun-ayunkan ranting pohon, yang tak seberapa jauh dari tempat ia berdiri. Kini mata itu membulat, melotot dan semakin kencang tubuh kurusnya menggigil ketakutan. Makin lama, suara tawaku semakin meninggi, ditambah batang pohon meliuk-liuk kencang, sementara tidak ada angin apalagi topan. Tiba-tiba, ia jatuh pingsan!

 

"Hihihihihiiiii …!" gelakku menjadi-jadi. Puas rasanya.

 

"Dian!" panggil ibu.

"Iya, Bu!" jawabku patuh, "lihat! Indahkan tarianku?"

"Ibu rindu, Nak!  Peluk ibu, peluk!" ungkap wanita yang pernah melahirkanku pilu.

Aku terus menari, berharap ibu suka melihatnya. Ahh ... beliau selalu cengeng. Setiap kali aku datang, wanita yang separuh warna rambutnya telah memerak selalu mengeluarkan airmata. Padahal aku sering menari, bernyanyi demi membuat hati beliau senang.

Tapi apa yang kudapat?
Setiap kali membersihkan alat-alat dapur, memindahkan perabot yang berantakan pada tempatnya. Menyapu kamar-kamar seluruh penguni rumah, sampai menyikat kamar mandi juga. Ibu selalu menangis, seakan-akan yang kukerjakan tak pernah benar.

"Ibu, kok masih di sini?" tanya Kak Fairuz, "ayo tidur!"

Dengan gontai ia beranjak dari tempat tidurku yang beliau duduki sedari tadi. Ibu Berjalan perlahan dibimbing Kak Fairuz keluar kamar, entah sejak kapan beliau terlihat begitu loyo. Tidak bersemangat.

"Ibu ..., mau kemana? Aku belum selesai menari, lihat dulu! Ayo, lihatlah!" pintaku masih sambil berlenggak-lenggok.

Yang dipanggil malah berlalu pergi, tinggalkan aku sendiri. Huuuhhhh, sebel! Tak puas hati, kususuli langkah mereka berdua.

"Kak Fairuz, berhenti! Biarkan ibu di sini dulu, aku sedang menari. Kak! Kakak!" rengekku sambil menarik lengan bajunya.

Kesal sekali, mereka selalu begitu. Tak pernah peduli, aku ini penting nggak sih buat mereka?

Dengan marah kubanting pintu kamar, hingga menimbulkan bunyi menggelegar. Bahkan seluruh rumah ikut bergetar dibuatnya. Akhirnya mereka yang tadinya di dalam kamar masing-masing, serentak berhambur keluar karena ulahku barusan.

Ayah, ibu, Kak Fairuz, Kak Mutiah dan adik bungsuku Faldi, semua berkumpul di ruang tamu. Entah apa yang mereka rencanakan kali ini, mendadak kompak keluar rumah. Malam-malam begini, mau kemana? Berjalan tanpa menghiraukan aku?

Kak Fairuz menggandeng tangan ibu, Faldi menuntun lengan ayah. Walau diabaikan, aku terus mengikuti mereka dari belakang, sambil bernyanyi lirik lagu lingsir wengi,  yang menggema di dinginnya malam sebagai pelipur kekesalan.

"Dian! Kamu pulang ya, Nak? Jangan … jangan begitu anakku!" pinta ayah memelas.

Ayah menghampiri sebuah makam, lalu menuaruh sebuah foto di sana. Yang lainnya ikut menghampiri dan menabur bunga.

"Iya, Dian. Kakak tahu kamu kesepian. Tapi mau bagaimana lagi? Ini semua sudah takdir Tuhan," timpal Kak Fairuz tak kalah terluka.

"Takdir? Apa itu takdir?" aku pelangak-pelongok bingung.

Ibu dan yang lainnya sesegukan, mereka menangis sambil menatap sebuah nisan, yang bertuliskan;

'Dian Arimbi'
'Lahir 20 Mei 1995'
'Wafat 6 Juni 2004'

"Maafkan ayah, Dian! Semua … semua ini salah a-a-ayaaahhhhh!” pria gagah yang aku banggakan itu luruh, bersimpuh di tanah dengan perasaan hancur berkeping-keping.

 

Suara ayah terhenti di antara desahnya yang berat dan panjang, seolah ada beban begitu dahsyat memasung di dalam dada.

 

“Pak, sudahlah. Ikhlaskan! Dian sudah tenang di sana,” ucap ibu sambil mengusap lembut punggung ayah.

 

“Tapi, Bu. Ayah yang bersalah! Ayah telah berdosa hingga Dian yang harus menanggung akibatnya,” ratapnya penuh penyesalan, “seandainya ayah tidak gelap mata, mungkin anak kita masih hidup hingga saat ini. Ayah terpaksa me-me-menumbalkan dia, Bu! Itu semua demi kelangsungan hidup kita!” kini, tangis ayah benar-benar meledak.

 

Sejenak hening! Hanya isak mereka yang terdengar pilu di antara desau angin malam nan dingin. Sungguh pedih rasa hati mendengar pengakuan itu. Apa mereka tahu, betapa aku sangat tersiksa selama ini? Harus bergentayangan kesana kemari, sebagai roh yang tak tahu jalan pulang. Aku tersesat di dimensi yang tak kumengerti, mencari penghiburan setiap kali melihat siapa saja yang datang. Mengajak mereka bermain, walau akhirnya ada yang pingsan atau lari ketakutan.

Aku bukan lagi Dian Arimbi yang lucu menggemaskan di mata keluarga, apalagi anak kebanggan ibu dan ayah. Tetapi aku sudah menjelma lelembut mati penasaran, yang arwahnya tak tenang karena ulah ayah penganut pesugihan. Sampai kapan pun aku tak bisa pulang, ke tempat yang tenang.

 

ZQS

Spantak Land, 13 November 2020