Misteri Mata Merah Menyala

https://cdn.pixabay.com

Tiga orang gadis desa itu berlari-lari seperti dikejar hantu.  Hanya mengenakan kemben dan kain seperti saat mereka tadi turun ke sungai untuk cuci baju dan mandi. Keranjang-keranjang berisi baju yang sudah dicuci ditinggalkan begitu saja.   Di belakang mereka terdengar gelak ketawa mengejek beberapa laki laki.  Dengan sengaja menimbulkan suara gaduh dalam pengejaran mereka. 

Sepasang mata merah menyala memperhatikan tingkah polah menyebalkan para pemuda dari kota yang sedang berlibur tersebut.  Mengganggu gadis-gadis desa yang lugu sepertinya menjadi acara favorit mereka selagi menghabiskan waktu di desa.

Para pemuda tengil itu sama sekali tidak tahu mereka sedang diperhatikan oleh sesuatu yang misterius.  Sesuatu yang akan menghukum mereka.  Pada saatnya.

------

Anton mengucapkan sesuatu yang tidak lucu namun jorok.  Kedua temannya terperangah sejenak lalu tertawa terbahak-bahak.  Teringat pada gadis-gadis desa yang sungguh menarik hati saat digoda. 

Mereka bercanda tak tentu arah di perbatasan desa. Di atas mobil wrangler bak terbuka yang gagah.  Menunggu gadis-gadis yang mereka incar pulang dari sawah.  Setelah mengantarkan makan siang untuk bapak-bapak mereka yang masih membenahi pematang, membagi air dan membetulkan dangau yang hampir roboh.

Dan akhirnya yang ditunggu tiba.  Dari jauh sosok-sosok lugu dan manis itu memilin pematang demi pematang menuju tepi jalan.

Langkah mereka terhenti ketika melihat tidak terlalu jauh dari mereka tiga pemuda kota itu sedang menunggu mereka dengan senyum-senyum nakal. 

-------

“Mereka lagi Asri.  Kita memutar saja.”  Andini mengerutkan alis sambil bersiap membalikkan badan.

“Hmmm...terlalu jauh Dini.  Lagipula mereka cuma menggoda. Tidak lebih.” Astri berusaha mendinginkan temannya yang terserang panik.

“Iya Dini.  Abaikan saja mereka.  Anggap tidak ada orang..” Resmi menambahi untuk menguatkan hati Andini.

Andini menghela nafas panjang.  Dalam hatinya berkecamuk bermacam hal.  Dia tidak takut kepada mereka.  Dia hanya tidak ingin mereka menjadi korban peliharaan leluhurnya.

-------

Anton memberi tanda kepada dua temannya.   Melihat ketiga gadis desa yang manis itu menghentikan langkah di ujung pematang.  Dia makin penasaran.  Gadis-gadis itu memang tidak semengkilap gadis-gadis kota.  Dandanannya biasa saja.  Make up nya juga sederhana.  Tapi tubuh dan wajah mereka sama sekali tidak mengecewakan.  Cukuplah untuk menghabiskan waktu di desa yang sunyi ini.

Mereka sedang berlibur di rumah kakek Anton.  Itupun karena terpaksa disuruh oleh ayah ibu Anton.  Jangan hanya eksplorasi wisata luar negeri.  Sekali-kali pergilah ke desa.  Nikmati udara segar dan ribuan keramahan.  Begitu pesan mereka. 

Anton awalnya sebetulnya menolak tegas.  Sama sekali tidak tertarik.  Namun setelah ayahnya menceritakan sebuah cerita tentang desa asal mereka yang misterius, Anton mendadak sangat tertarik.  Ayahnya mengatakan bahwa desa luluhur mereka itu adalah desa yang terkutuk.  Sebagian kecil penduduk desa adalah keturunan orang-orang yang dikutuk pada jaman dahulu. Tidak jelas bagaimana kutukan itu terjadi atau karena alasan apa, namun yang pasti, Anton bisa mencari tahu sendiri jika memang tertarik.

Ayahnya hanya berpesan satu hal.  Jangan sekali-sekali mengganggu gadis-gadis desa, karena beredar mitos bahwa gadis-gadis di desa itu, konon yang tidak mau keluar dari desa untuk sekolah atau bekerja ke kota, dan memilih untuk tetap tinggal di desa, dijaga oleh peliharaan terkutuk leluhur desa itu.

--------

Dan disinilah mereka sekarang.  Menunggu tiga gadis desa yang masih termangu-mangu tidak berani melanjutkan perjalanan kembali ke rumah.  Inilah yang membuat Anton sangat penasaran.  Di kota, dia adalah sang penakluk.  Membuat puluhan gadis bertekuk lutut.  Di sini, di desa yang sungguh sunyi ini, dia seperti seorang pemburu yang gagal. 

Mereka memang sudah mengincar tiga gadis desa yang selalu bersama-sama itu semenjak sampai di desa ini seminggu yang lalu.  Alangkah susahnya!  Berkenalan saja mereka tidak bisa!  Gadis-gadis itu, barangkali saking lugunya, mempunyai pertahanan hati yang luar biasa.  Tidak sedikitpun tergoda dengan penampilan perlente pemuda-pemuda dari kota itu.

-------

Anton menjadi tidak sabaran lagi.  Gadis-gadis desa itu harus diberi sedikit pelajaran.  Dia memberi isyarat kepada teman-temannya untuk berjalan mendekati tiga gadis yang masih berdiri di ujung jalan itu.

Seperti dikomando saja.  Tiga gadis itu tak ayal membalikkan badan pergi ke arah berlawanan ketika melihat Anton dan teman-temannya menuju ke arah mereka dengan pandangan sedikit mengancam.

Anton mengedipkan mata kepada kedua temannya.  Mereka bertiga berlari kecil mengejar ketiga gadis yang berlari lari ketakutan itu.  Anton dan kedua temannya mempercepat langkah.  Ketiga gadis itu sudah mulai memasuki hutan kecil di pinggiran desa.  Nah kesempatan!  Ujar Anton girang.

Anton tidak sadar mata merah menyala itu mengintai kedatangannya ketika mulai memasuki hutan.  Mata itu mengikuti setiap inchi pergerakan Anton dan teman-temannya.  Terus saja mengikuti.  Sambil bersiap-siap.

-------

Ketiga gadis itu menjerit berbarengan.  Ketiga pemuda itu menghadang di hadapan mereka setelah berhasil lari mendahului.  Anton menatap Andini sambil tersenyum mengejek.  Gadis inilah yang paling diincarnya.  Paling manis dan paling sintal. 

Andini yang ditatap secara kurang ajar seperti itu menjadi sangat risih.  Dia berpegangan tangan dengan Asri yang berdiri di depan untuk melindungi kedua temannya.  Asri memang paling berani.  Gadis ini bertolak pinggang memandang Anton dan teman temannya dengan berani.

“Pergilah kalian!  Jangan ganggu kami!”

Ancaman ini membuat Anton sedikit mengrenyitkan dahi.  Ada sesuatu dalam ucapan gadis itu yang tiba-tiba membuatnya bergidik ngeri.  Teringat cerita ayahnya.  Namun dasar pemuda yang tidak percaya sama sekali dengan acara tahayul, Anton mengedikkan kepala.

“Hmmmm...kalian bodoh! Kami sengaja jauh-jauh datang dari kota untuk berkenalan dengan gadis-gadis desa yang terkenal dengan keramahannya.  Tapi kalian malah selalu menghindar.  Huh! Sekarang kalian mau lari kemana?  Hutan ini tidak bermata dan bertelinga.  Tidak akan bisa melindungi atau mendengar jeritan kalian.”

Asri, Andini dan Resmi saling berpandangan untuk menggali keberanian. 

“Lepaskan kami aden-aden.  Kami berjanji tidak akan lari lagi lain kali.  Tolonglah...”  Asri memelas.

Anton dan kedua temannya sepertinya sudah gelap mata.  Ketiganya merangsek maju mendekati.  Ketiga gadis itu melangkah mundur.  Masing-masing dari pemuda itu mendekati gadis sasarannya.

Tidak ada lagi jalan bagi ketiga gadis itu.  Mereka tersudut.  Di belakang mereka tebing terjal pinggang sebuah bukit.

--------

Anton sudah hampir meraih tubuh Andini ketika didengarnya suara melolong panjang di dalam hutan ini.  Cukup dekat dengan tempat mereka. Suara lolongan itu memanjang menyedihkan.  Seolah-olah mengabarkan tentang berita kematian. 

Anton dan kedua temannya tidak sadar.  Mata merah menyala dari balik pepohonan itu melolong panjang sambil matanya memandang lekat-lekat kepada Andini.  Anton hanya menyaksikan Andini mendadak memandang mereka dengan beringas.  Sementara Asri dan Resmi terduduk tak berdaya.  Mata cerah dan indah itu tiba-tiba memerah seperti saga.  Wajah yang tadinya pucat ketakutan perlahan-lahan memerah seperti kepiting rebus.  Mulut manis itu sekarang menyeringai.  Menampakkan sebaris gigi-gigi tajam seperti serigala.  Bahkan air liur kekuningan menetes-netes dari gigi-gigi itu!  Mengerikan! Gantian Anton dan kedua temannya yang mundur-mundur ke belakang penuh ketakutan. 

Asri dan Resmi hanya menatap kebingungan melihat ketiga pemuda yang hendak mengganggu mereka tadi pucat pasi sambil menatap ketakutan kepada Andini. Yang sepenglihatan mereka hanya berdiri pasrah sambil meneteskan airmata penuh kesedihan.  Asri dan Resmi tidak melihat ada yang aneh pada diri Andini.  Keduanya hanya menyaksikan airmata gadis itu menderas dan mengaliri pipinya tak henti-henti. 

Asri dan Resmi menjerit tinggi.  Mereka melihat ketiga pemuda yang terus melangkah mundur itu tidak melihat bahwa di belakang mereka adalah ruang kosong dari jurang kecil menganga yang mengakhiri langkah kaki mereka ke sungai yang mengalir deras.  Menelan ketiga tubuh itu hingga tak nampak lagi.

--------

Asri dan Resmi memeluk tubuh Andini yang saking gemetarnya hampir terkulai jatuh.  Kedua gadis itu menepuk-nepuk pipi gadis yang sebentar lagi tak sadarkan diri  dengan lembut. 

Andini terkulai di pelukan kedua temannya.  Mengucapkan kalimat kecil tertahan sebelum pingsan;

“Peliharaanku telah membunuh lagi.....”

--------