Vision Before Dead

wakaf

Saya pernah melihat film seri Holywood tentang orang-orang yang diizinkan untuk menyelesaikan “unfinished business” sebelum sang malaikat maut menjemputnya. Malaikat yang datang dalam bentuk manusia itulah yang memberikan peringatan pada yang bersangkutan. Setelah orang tersebut menyelesaikan urusannya, ia akan dijemput seberkas cahaya menuju kepergian abadinya.

Dalam dunia nyata hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi seperti yang terjadi pada Khaleed – ipar adik. Namun yang dialaminya adalah penglihatan atas kesalahan-kesalahannya dan itu terjadi selama 2 minggu.  Mas Khaleed sakit parah hingga harus dirawat di Rumah Sakit. Disana kami menyaksikan hal yang tampaknya tidak masuk akal tapi demikianlah adanya.

Dalam kondisi terbaring di ranjang RS dengan dilengkapi beberapa selang infus mas Khaleed tampak berbicara dengan sosok yang tidak bisa kami lihat namun pastinya bisa dilihat mas Khaleed yang serius menjawab “tuduhan-tuduhannya.” Yang paling teringat adalah masalah puasa Senin – Kamis yang ternyata tidak pernah dilakukannya. Dia mencoba menjelaskan bahwa sejak kecil tak pernah diajarkan untuk puasa sunnah tersebut. Jawaban itu tidak memuaskan sosok yang bertanya, menurutnya biarpun tidak diajarkan saat kecil namun sebagai orang dewasa harusnya sudah belajar agama dan memahaminya.Bagaimana mungkin orang yang mengemas dirinya sebagai sosok yang agamis, tidak pernah berpuasa sunnah.

Setelah itu sosok tersebut juga menanyakan kenapa dia memperlakukan sepupunya yang masih kecil sebagai pembantu saat tinggal bersama pasutri Khaleed. Sungguh kami jadi terkejut saat mendengar mas Khaleed mengulangi pertanyaan itu. Dia mencoba menjelaskan bahwa saat itu ia dan isteri masih merupakan pasangan yang baru merintis karirnya sebagai pegawai negeri sehingga memiliki keterbatasan dana. Jawaban yang tidak bisa diterima oleh sosok tak kasat mata itu, sebagai seorang manusia – Khaleed tidak boleh memperlakukan saudaranya yang yatim dan masih kecil itu sebagai budak. Yup, apa yang dilakukan Khaleed dianggap layaknya perbudakan. Akhirnya Khaleed meminta isterinya untuk memanggil sepupunya. Khaleed meminta maaf pada sepupunya yang saat itu sudah dewasa sekaligus menghibahkan sepeda motor barunya yang ada di rumah.

Setelah itu sosok tersebut mengulas perkataan Khaleed pada Ibunya saat Lebaran. Seperti biasa ipar kakak-beradik selalu mudik Lebaran hingga 10  hari ke tempat Ibunya. Dalam suatu percakapan keluarga, ada perdebatan antar ipar dengan Ibunya. Sebenarnya perdebatan biasa yang tidak sampai ngotot-ngotot segala walaupun Ibu memang keras serta dominan dan cenderung bersikap mau menang sendiri. Ketika itu Khaleed menengahi dan mengatakan, “Ibu, dalam hal ini mas yang benar.” Sikap seperti itu ternyata dianggap salah. Khaleed meminta disambungkan dengan telpon ke Ibunya untuk meminta maaf. Ibunya terkejut karena ia-pun tidak mempermasalahkan, tentunya beliau segera memaafkan.  

Terus terang kami shock mendengarnya mengingat selama ini betapa lunaknya cara berbicara Khaleed pada setiap orang, pastinya dia akan bersikap demikian pada sang Ibu.

Satu per satu kesalahan/ dosa Khaleed “dibuka” hingga membuat lelaki itu minta dipanggilkan orang-orang bersangkutan untuk dimintai maaf. Kami yang menyaksikannya jadi merasa harus introspeksi pada diri sendiri. Jika Khaleed yang dalam pandangan kami merupakan orang yang baik, bagaimana dengan diri ini. Kejadian tersebut berlangsung selama 2 minggu.

Hingga kendatipun Khaleed sudah banyak meminta maaf namun dia merasa kesalahan dan dosanya masih banyak sekali. Membuat Khaleed sampai pada keputusan untuk meminta isterinya menjualkan 2 rumah milik mereka selanjutnya dana penjualannya diwakafkan. Ini membuat isteri serta anak-anaknya terkejut. Isterinya pasrah saja namun anak-anaknya yang sebenarnya sudah berusia dewasa, menikah, memiliki anak pada keberatan. Mereka meminta adik Khaleed berbicara pada kakaknya. Khaleed hanya bisa menangis mendengar argumen adiknya.

Akhirnya Khaleed meninggal dunia, rumah tetap dikuasai keluarga. Padahal belakangan saya tahu kalau tanah yang boleh diwakafkan hanya sepertiga saja karena keluarga yang ditinggalkan berhak atas warisan yang ada.