Innocent Killer

Twitter

Kau tahu rupa neraka?

Pasti seperti yang kebanyakan orang bilang, nerakamu itu panas, membara, penuh kobaran api dan sarat derita.

Sayangnya, bukan itu neraka bagiku. Neraka adalah seperti yang ada di hadapanku saat ini. Rumah putih yang amat luas, dengan halaman yang tak kalah luas pula.

***

“Menu bekal makanmu selalu enak tiap hari, Jihan. Pasti mamamu sayang sekali padamu, ya?” ucap Re sembari berkali-kali melirik kotak bekalku.

Aku hanya tersenyum kecut mendengarnya. Terbayang sosok perempuan muda yang kesibukannya hanya bersolek, dengan mulut yang selalu siap menyemburkan bisa mematikan. Dia, istri Papa, adalah perempuan yang aku tak ingin memanggilnya dengan sebutan mama.

“Kenapa kau tak pernah bersemangat makan, Jihan?” tanya Re.

“Kalau kau mau, makan saja, Re,” ucapku sambil menyodorkan kotak makanku kepadanya.

“Kau pasti bercanda. Makanan seenak ini?” tanyanya masih dengan nada bingung.

“Habiskan saja, Re, aku tidak lapar.” Aku tersenyum tipis meyakinkan Re.

“Ah, terima kasih, Jihan.” Mata Re berbinar-binar.

Aku lega, sebab tak perlu membuang makanan atau mencari dalih untuk menjawab pertanyaannya tentang bekal yang tak habis. Karena jika kedua mata yang selalu siap menelanku di rumah itu melihat ada yang tersisa dari kotak bekalku, aku mesti lagi-lagi bersiap untuk disengat oleh bisa dari mulutnya. Atau yang paling sial, aku segera akan mendapat menu makanan 'tambahan' dari perempuan yang aku tak pernah mau untuk memanggilnya dengan sebutan Mama itu.

Pelajaran hari ini lumayan menyenangkan, aku tak banyak mengundang tanya guru karena memang tak ada sesuatu di tubuhku.

Bel pulang nyaring berbunyi, pertanda kebahagiaanku hari ini akan segera berakhir. Sebentar lagi pasti Pak Den akan mempersilakanku masuk mobil dan mengantarkanku ke neraka.

“Papa belum akan pulang hari ini, karena pertemuan belum selesai. Mungkin baru akan pulang pekan depan, Nona,” ucap Pak Den dengan sopan.

Aku tersenyum getir. Itu berarti aku harus bersiap-siap menjawab pertanyaan para guru besok tentang sesuatu di tubuhku.

“Terima kasih. Kita pulang sekarang, Pak Den.”

Pak Dena mengangguk takzim, membukakan pintu belakang Rolls Royce untukku, kemudian dia sendiri duduk di belakang kemudi. Kami pulang menuju neraka.

Nyaris semua temanku berkata bahwa neraka itu panas membara, penuh kobaran api. Tapi tidak bagiku. Wujud neraka adalah seperti yang ada di hadapanku saat ini. Rumah putih yang amat mewah dengan halaman yang tak kalah luas pula.

Sebuah bangunan bergaya kolonial dengan sedikit sentuhan Jawa. Halaman ditata sedemikian rupa, ada kolam air mancur di sisi kanan dan taman bunga di sekelilingnya. Rumput beledu terhampar menutup seluruh halaman kecuali jalan masuk yang diberi alas batu hitam mulus mengkilat.

Guru-guru bahkan mungkin Re akan ternganga bila tahu bahwa inilah nerakaku. Tapi memang inilah kenyataannya, rumah mewah yang menurut sebagian besar orang bisa membawa kebahagiaan, bagiku adalah sebaliknya.

“Kau sudah pulang, Jihan?” sepotong wajah perempuan yang aku tak ingin memanggilnya dengan sebutan Mama muncul dari balik pintu.

Aku masuk, langsung menuju kamar dalam bisu. Dia membuntutiku.

Kami memang hanya berdua di rumah super besar ini bila Papa pergi. Pak Den dan Nen Ija memiliki ruang tersendiri di bagian belakang rumah.

“Ini menu makan siangmu hari ini, Jihan, sambil aku periksa buku tugas dan Pr-mu,” ujar perempuan itu seraya menggenggam serentang hitam panjang mengkilat yang ujung perseginya terbuat dari besi utuh: ikat pinggang Papa.

Aku tersenyum. Sudah, aku sudah lebih dari hafal juga paham apa yang akan dilakukannya padaku. Dan itu berarti, sudah saatnya bagiku untuk mengajak Rosie, boneka mungilku, bermain.

Mata perempuan itu waspada. Dia sepertinya tahu maksudku, dan langsung menyambar Rosie yang sedang duduk santai di tempat tidurku.

“Jangan coba-coba mengalihkan perhatian dari menu makan siangmu hari ini. Kau harus menikmatinya, Jihan!” bentak perempuan yang aku tak mau menyebutnya Mama itu.

Aku diam, dan dia mulai melakukan rutinitas yang amat dinikmatinya itu.

Mulanya perlahan. Aku masih merasakan gesper besi menumbuk belikatku, juga masih mengenali rasa saat gesper itu menyentak ulu hatiku, namun setelahnya entah. Aku hanya merasakan terbang menuju awan-awan putih sejuk yang menaungiku dari teriknya sinar matahari. Di sana, Rosie telah menungguku, duduk di antara kapas-kapas yang bergumpal melayang. Sejauh mata memandang, yang kulihat hanya putih. Tidak menyilaukan, justru menyejukkan. Ah, apakah ini surga? Tapi, aku belum mati. Jadi tak mungkin ini surga.

Belum selesai kebahagiaanku mereguk kesejukan awan, ketika samar kudengar suara perempuan yang aku tak mau memanggilnya Mama melengking tajam.

“Jihan! Jihan…! Sadarlah...!!!” bentaknya.

Mataku terbuka, aku kembali ke kamar dan mendapati diri tengah berdiri mematung di depan perempuan yang aku tak ingin memanggilnya Mama itu.

“Jihan!” Wajah perempuan itu tampak gusar, “Segera ganti bajumu, aku sendiri yang akan mencucinya!” ucapnya tegas, sambil menutup pintu kamar dan berjalan menjauh.

Kulirik cermin, memantulkan bayangan dengan seragam putih biru yang ternoda oleh titik-titik merah yang merembes dari tubuhku. Tak ada lagi rasa, entah itu sakit maupun pedih. Karena aku sudah cukup paham juga hafal rasanya.

Perlahan kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Saat-saat seperti ini, aku butuh melepas penat juga lelah dengan merendam diri di air yang dingin. Sebab air, dengan semua sifat baiknya selalu mampu memadamkan api, yang setiap hari membakarku tanpa perlu tampak merah nyala membara, membuat apa yang kupunya sebagai pengenalan rasa sakit menghilang. Aku lupa cara bersedih.

Saat air mengalir menyusuri sela-sela rambutku, lalu turun membasuh wajah, dan terus turun hingga seluruh tubuh, seringkali aku seperti terbangun dari mimpi. Atau justru sedang melayang menuju mimpi? Aku tidak tahu pasti. Hanya ada semacam sesuatu yang bekerja di dalam kepalaku, seperti menemukan kembali apa saja yang menghilang.

Sepertinya aku tertidur saat tengah merendam tubuh di bawah air barusan. Ketika keluar dari kamar mandi, ternyata hari sudah menjelang senja.

Seragamku sudah tak ada, barangkali perempuan yang aku tak mau memanggilnya Mama itu sudah mencucinya. Ah, biarlah.

Cahaya senja masuk melalui jendela kamar, aku menikmatinya sambil duduk di bingkai jendela. Tak rela rasanya ketika lambat laun senja menghilang bersama matahari yang ditelan kelam malam.

Ah, sebentar lagi aku harus bersiap untuk makan malam. Entah menu apa yang akan disajikan untukku malam ini. Mau tak mau, suka tidak suka, aku harus terima. Aku tersenyum kecut.

Senyumku semakin kecut ketika menyadari bahwa telah tiga jam berlalu tapi tak ada panggilan untukku, ataupun ketukan di pintu.

Penasaran, aku keluar kamar. Rumah besar ini bisa dikatakan tak lebih menyedihkan dibanding kuburan, begitu sepi dan kosong. Mungkin kuburan masih lebih ramai ketika siang, namun tidak dengan rumah ini. Kulihat kamar perempuan yang aku tak mau memanggilnya Mama itu masih tertutup rapat.

Sepertinya ada yang tak biasa, tapi aku tak tahu apa. Perasaan itu datang hanya sekilas.

Kulihat lagi kamar itu. Ah, barangkali hanya perasaanku saja.

Aku kembali pada kamarku sendiri, tertidur lelap.

Esok harinya, suasana masih menyisa sunyi semalam. Sepi dan menyedihkan.

Aku berangkat sekolah seperti biasa. Pak Den telah siap dengan tangan di balik kemudi dan Nen Ija mengantarku hingga pintu depan. Tatapan Nen Ija, sebagaimana selalu, penuh welas asih namun tersembunyi dalam semak ketakutan. Hanya satu yang tidak biasa, perempuan yang aku tak mau memanggilnya Mama tak tampak mengantarku di muka pintu. Hingga aku bertolak dari pintu utama, kamarnya masih tertutup rapat.

Di sekolah, pelajaran berjalan seperti biasa, juga pertanyaan dari para guru tentang sesuatu yang menghiasi tubuhku. Aku menjawabnya juga dengan amat biasa, sebagaimana menyelesaikan pelajaran menghafal. Dan mereka sudah mengerti tentang itu.

Saat istirahat, Re telah bersiap duduk di dekatku. Aku tersenyum, kemudian menyodorkan kotak bekal makanku padanya. Dengan amat bersemangat dia membukanya, bersenang pada dugaan tentu menu makan yang lengkap menerbitkan selera seperti biasa.

Ia masih penuh senyum mulanya, hingga lama-kelamaan wajahnya berubah. Senyumnya hilang, berganti pucat pasi diikuti teriakan mengerikan, lalu tubuhnya melorot seperti tak punya tulang.

Kotak bekalku jatuh. Nasi, sayuran, dan batang lunak berwarna putih berserakan di sekitarnya, dua buah bola mata menggelinding kemudian. Aku hanya berdiri mematung.

***

“Tuan Surya, benarkah wanita ini adalah istri Saudara?” tanya laki-laki berseragam coklat.

“Benar.”

“Dimanakah Saudara berada kemarin?”

“Saya sedang ada pertemuan bisnis di luar kota.”

“Dan apakah Saudara tahu maksud dari interogasi ini?”

Papa mengangguk lesu.

“Boleh saya minta satu hal pada Bapak?” tanya Papa pada laki-laki berseragam coklat.

“Ya, silakan.”

“Tolong jauhkan anak saya dari interogasi ini. Bawa dia ke taman belakang, mungkin.”

Mereka berdua memandangku, Papa dengan penuh prihatin, sedangkan laki-laki berseragam itu dengan tatap selidik.

Laki-laki berseragam coklat membawaku ke taman belakang, untuk kemudian kembali menemui Papa sambil membawa serta tanya dalam benak. Tentang apakah semua ini?

Aku duduk di taman cukup lama, hingga senja mulai merekah. Saat itulah Papa menghampiriku. Dia mengelus kepalaku dengan penuh sayang.

“Papa harus pergi sementara waktu. Kau tetaplah di rumah, bersama Pak Den dan Nen Ija.” sepertinya masih ada lagi yang ingin disampaikan Papa, tapi tertahan, entah apa.

Aku hanya bisa memandang punggungnya yang semakin jauh, langkahnya gontai diapit rombongan lelaki berseragam coklat.

Pagi telah menjelang, koran langganan Papa  datang. Aku tak biasa baca koran, tapi ketika kulihat ada wajah Papa di sana, aku langsung duduk dan penasaran membacanya. Judul artikelnya amat mengerikan terasa, “Pembunuhan Sadis oleh Anggota Dewan yang Terhormat”.

Aku membaca dengan gemetar. Papa? Benarkah?

Dalam berita itu dijelaskan bahwa Papa dengan kejam telah membunuh istrinya menggunakan sebilah tongkat besi hingga kepalanya pecah dan matanya hilang.

Saat itulah muncul bayangan dalam benakku tentang tongkat besi, biji mata, dan kepala pecah. Sesosok gadis remaja memegang tongkat besi berdarah, di dekat kakinya terbaring perempuan dengan kepala pecah. Gadis itu menoleh padaku, aku seperti dihadapkan pada cermin besar. Aku sedang memandang aku.

Lamat-lamat kudengar lolongan binatang liar dari benakku.

Pak Den dan Nen Ija datang tergopoh sambil memanggil namaku, tapi aku telah berada di atas awan sejuk bersama Rosie.