Zombi, Film, dan Kisah Pilu di Baliknya

iZombie: reddit.com

Siapa yang tidak suka dengan film atau buku fiksi bertema zombi? Banyak. Tetapi, siapa yang tidak kenal dengan jenis hiburan yang mayat hidup sebagai sorotan ini? Jarang sekali. Bahkan emak-emak fans berat Ular Nagini dari film India zaman dulu ketagihan membuka kanal video dan saluran televisi yang menayangkan beragam cerita berisi mayat hidup.

Apa yang kamu sukai dari fiksi bertema zombi?

Jawaban paling dekat adalah pada keunikan dan teror yang dihasilkan. Bayangkan ini. Pria yang kamu temui adalah manusia yang sudah mati, tapi hidup lagi? Terus tidak sampai di situ, dia malah dengan brutal memburumu; mengincar bagian terpenting dari tubuhmu, yaitu otak! Oh my God!

Mengerikan sekaligus menghibur. Sungguh alasan yang tidak kalah unik, tapi memang itulah yang para penikmat hiburan inginkan: melarikan diri dari rutinitas sehari-hari dengan menyaksikan sesuatu yang belum pernah mereka rasakan. Orang-orang larut ke dalam sisi lain dari dunianya, walaupun hanya berupa hasil imajinasi.

Soal kehadiran mayat hidup di dunia literasi, Linda Troost (The Undead Eighteenth Century) berpendapat bahwa zombi mulai dikenal sekitar tahu 1697. Akan tetapi, tokoh fiktif ini tidak digambarkan sebagai makhluk kanibal, melainkan sekadar sosok hantu. Hal ini sesuai dengan salah satu nama lain dari ‘zombi’ itu sendiri, yaitu ‘mvumbi’, yang dalam Bahasa Kongo diartikan sebagai hantu atau tubuh tanpa roh.

Sementara dalam Budaya Populer, perfilman khususnya, abad ke-19 adalah awal yang mendebarkan untuk penyuka media audio-visual. Buat para penggemar, kalian boleh mengintip film White Zombie (1932), Night of The Living Dead (1968), atau Dawn of the Dead dan Day of the Dead yang rilis sekitar 15 tahun setelahnya.

Lalu, dari mana ide untuk menjadikan mayat hidup sebagai elemen dalam sebuah fiksi? Tidak mutlak, namun kisah pilu di balik cerita rakyat seputar zombi mungkin adalah pemicu banyak penulis memilih ide ini.

Sekitar abad ke-17, cerita rakyat bertema zombi, atau mayat hidup, sudah menyebar di Haiti. Sebagian besar budaya Afrika Barat percaya bahwa para budak, yang semasa hidupnya dipaksa bekerja tanpa ampun di pertanian tebu, menuntut kebebasan bahkan setelah kematian dengan cara menjadi hantu.

Dengan kata lain, gambaran sosok zombi adalah cerminan dari kondisi kehidupan mereka selama menjadi budak yang tersiksa. Memilukan, bukan?

Ribuan karya lahir dari satu tokoh fiktif ini. Ide-ide baru terus muncul karena tuntutan untuk tampil beda maupun menyesuaikan kecenderungan selera penonton. Dari segi genre saja, ada banyak cerita zombi yang sudah memasukkan unsur komedi, percintaan, hingga kecanggihan teknologi masa depan (futuristic).

Brutal, romantis, tragis, berlapis baja, setengah robot, pemakan sayur-sayuran, atau heroik, kamu suka zombi yang seperti apa?