Kosan Karlin

Fotofrom:wingtechno

"Kar, aku numpang menginap di kosanmu, ya? Ortuku lagi pulkam, aku takut sendirian di rumah," ujarku pada teman sebangkuku, Karlin.

"It's ok, asal nggak takut saja, kosanku tidak lebih aman dari rumahmu," jawab gadis cantik kucir dua itu, lebih seperti menggumam.

"What? Apa maksudnya, Kar?" Tanyaku kaget. 

"Maksud apa?"

"Kata-katamu tadi."

"Aku nggak bilang apa-apa."

"Terserah deh. Tapi aku jadi lho mau tidur di kosanmu. Lagian aku mau sekalian menemani kamu yang lagi patah hati."

Karlin tak menjawab lagi. Aku tak heran. Ia memang gadis pendiam, cuek, dan misterius. Aku mencoba paham itu walaupun baru dua bulan menjadi teman di sekolah baru.

Sayangnya, ia terlalu melankolis saat ditinggalkan Raka. Tak bisa secuek sifatnya. Beberapa hari ini kerjanya melamun sambil berkaca-kaca. 

Sekolahku dan Karlin yang memang berjadwal pulang sore, membuat kami baru sampai di kosan Karlin menjelang maghrib. Aku turun dari motor matic hitam Karlin. Lalu mengikuti langkahnya menuju pintu kosan dan masuk ke dalam. Dan aku dibuat ternganga. 

Whattt? Bagaimana mungkin? Seorang Karlin yang kuketahui berduit memilih kosan sedemikan rupa? 

Ini nggak banget. Kosannya kumuh, gelap, menjijikkan. Kamar kosnya lebih buruk. Tak berjendela besar. Hanya ada jendela kaca kecil yang posisinya agak tinggi. Sepertinya, Karlin butuh naik meja untuk membukanya. Atau memang ia tak pernah membukanya? 

Huh, pembuat rumah ini pasti seorang tak berselera bagus. Atau merupakan arsitek gagal. Model bangunannya pun sudah ketinggalan jaman. Sepertinya rumah ini dibangun berpuluh-puluh tahun lalu. 

Pukul sembilan malam, aku dan Karlin baru pulang mencari makan di warung depan kosan. Karlin tetap tak bersuara. Ia langsung masuk ke kamarnya. Aku membiarkannya. Aku berusaha mengerti jika ia benar-benar sedang tak enak hati. 

"Rin, kamu tidur di kamar samping aja ya?" kata Karlin. "Kasurku cuma cukup untuk sendirian."

"Emang, kamu sendirian ngekos di sini?" tanyaku. 

Karlin mengangguk. 

"Sebulan lalu, ada sih yang ngekos, tapi nggak tahan, baru seminggu sudah keluar."

"Kenapa?" selidikku.

"Udah deh, kita tidur aja sekarang. Kan kamu tahu aku sedang males ngomong banyak."

Aku mengangguk dan bergegas ke kamar samping. 

Ada dipan cukup besar di dalamnya. Kasurnya tipis bersprai putih. Di dekat jendela yang juga kecil ada mukena putih tergantung. Di satu sudut kamar, terdapat meja rias dengan jejeran bunga-bunga mawar palsu yang juga berwarna putih. Semua yang nampak di mataku memunculkan satu hal dalam pikiranku: horor.

Tiba-tiba aku merasa takut. Hal yang tidak-tidak lalu mampir ke kepalaku. Kalau saja tahu begini bentuk kosan Karlin, pasti aku tak mau menumpang di sini walau cuma semalam. Lebih baik aku menginap di rumah tetanggaku seperti biasa jika mama dan papa pulang kampung. Lagian, kukira kalau menginap di rumah Karlin, aku bisa tidur berdua dengannya. Rupanya tidak. Memang, gadis itu benar-benar aneh dan seperti tak butuh teman. 

Aku mencoba memejamkan mata namun tak juga berhasil. Sampai jam menunjukkan hampir tengah malam. Aku berguling kesana kemari mencari posisi paling nyaman. Lalu, aku memutuskan untuk memiringkan badan ke arah dinding demi menyempitkan ruang pandangan. Aku benar-benar tak berani menoleh-noleh lagi ke tempat lain. 

Saat itulah, aku merasa ada seseorang di belakangku. Dengan posisi aku membelakanginya. Dekat sekali seperti akan menempel ke badanku. Aku tahu dari dengus nafasnya yang terdengar menderu-deru jelas tepat di belakang leherku. Juga dari suara ranjang yang agak berdecit padahal aku tak begerak sama sekali. Siapa? Siapa dia? Bukankah tak ada siapa-siapa di kosan Karlin kecuali Karlin?

Lalu, dalam beberapa detik aku menoleh. Ketakutan memaksa otakku untuk melakukan itu. Namun, tak ada siapapun. 

Keringat mulai membasahi dahiku. Sedangkan bulu kuduk telah sejak tadi berdiri. Aku mencoba menenangkan diri dan berpikir positif. Namun, belum lengkap keberanianku terkumpul, aku tercekat saat melihat ke arah jendela. Mukena berwarna putih itu kini bergoyang-goyang dengan sebuah wajah muncul di bagian lubangnya. 

"Siapa? Siapa kamu??" Teriakku sedikit tertahan. 

Wajah dalam mukena itu tersenyum menyeringai dan menghilang dalam hitungan detik. 

Gila, ini tak waras. Kosan Karlin benar-benar berhantu. Atau hanya halusinasiku? 

Aku masih belum menyerah. Aku masih berharap jika yang barusan terjadi dan kulihat adalah mimpi. Walaupun, aku belum sedetikpun terlelap. Aku berusaha mensugesti pikiranku jika semuanya tak nyata. 

Aku menutupi tubuh dan wajahku dengan selimut. Mencoba menjemput kantuk. 

Saat belum juga usahaku menampakkan hasil, telingaku mendadak menangkap suara sayup-sayup. Namun, lama-lama terdengar jelas. Suara seorang wanita menangis dengan nada lirih memilukan. Rasa-rasanya, suara itu berasal dari bawah ranjang yang kutempati.

Sumpah, ini gila. Aku turun dari ranjang dan berlari sekuat tenaga. Masa bodo dengan tas, buku-buku dan baju yang tertinggal. Yang penting aku aman. Dan yang lebih penting lagi, sebuah pikiran bahwa kakiku akan ditarik saat tadi turun dari ranjang tak terjadi.

Aku telah berhasil keluar dari kosan horor Karlin dan terus berlari menuju rumahku yang sangat jauh. 

Keesokan harinya, di sekolah, lewat ekor mataku, aku tahu Karlin telah lebih dulu datang dan duduk di bangkunya di sudut kelas. Namun, aku tak berani lagi menatap wajahnya. Dan aku memutuskan untuk tak berteman dengannya lagi. Biarkan semua seolah menjadi layaknya sebuah kisah misteri.