Apa yang Akan Kamu Lakukan Jika Terjadi Serangan Zombie?

Sumber Gambar: Pixabay.com

 

Pembahasan soal wabah zombie bukan lagi hal yang asing untuk didengar. Wabah yang menyerang dan menghancurkan dunia ini masih menjadi momok mengerikan bagi setiap umat manusia. Banyak yang menganggap zombie sebagai mayat hidup yang mengincar manusia untuk dimangsa dan dijadikan bagian dari kelompoknya. Jika dulu zombie dikenal dengan kelambanan geraknya, maka di zaman sekarang zombie telah berevolusi menjadi pelari yang tangguh.

Seperti yang terlihat dalam sekuel film Train to Busan, Peninsula, yang menggambarkan situasi setelah wabah zombie menyerang Korea Selatan empat tahun silam. Negara yang memiliki teknologi super canggih dan pertumbuhan ekonomi yang sangat maju akhirnya berubah bagaikan kawasan mati. Peninsula cenderung menyorot pada pemecahan masalah bagi manusia-manusia yang berhasil bertahan hidup dan terkungkung dalam satu kawasan berisi mayat hidup.

Zombie di Peninsula memang tidak terlalu seram dan tidak menjadi ancaman utama bagi manusia. Mereka sangat gampang untuk dikalahkan, bahkan ada yang menjadikan zombie sebagai peliharaan. Menjaga kestabilan emosi menjadi salah satu cara aman untuk bertahan, sebab seperti yang sudah banyak diketahui jika zombie sangat mudah membedakan aroma antara manusia dan sesamanya. Zombie dalam Peninsula bisa dikatakan sangat aktif, lebih cepat, lebih kuat dan reaktif terhadap suara dan cahaya. Hal itu menuntut siapa pun yang berada di sekitar zombie harus bersikap tenang dan bersiap melawan dengan mengerahkan segala kemampuan jika memang ingin bertahan.

Kisah tentang zombie dalam dunia perfilman memiliki penggemarnya sendiri tidak peduli bagaimana wujud keseraman kisah yang sedang ditayangkan. Kisah zombie memang memiliki daya tarik tersendiri. Namun, pernahkah kamu berpikir jika wabah zombie benar-benar muncul dan meluas dengan cepat?  Jika memang ada, sepertinya respons masyarakat tak ‘seheboh’ ketika film ‘mayat hidup’ ini tayang perdana. Tentu, karena jika memang benar adanya, kemungkinan yang terjadi ialah adanya serangan panik. Setiap orang pasti akan merasa tertekan dan ketakutan. Alih-alih ingin melihat bagaimana wujud zombie yang sebenarnya, manusia pasti akan memilih untuk mencari tempat persembunyian yang paling aman. Hal tersebut sudah menjadi respons alami bagi seseorang yang mengalami ketakutan. Akan tetapi, apakah bersembunyi di tempat ‘aman’ ini akan benar-benar menyelamatkan? Sebelum mengetahui jawabannya, kamu harus tahu dulu tentang hasil penelitian para ilmuwan ini.

Ya, para ilmuwan University of California ternyata menemukan parasit toxoplasmosa gondii, yang diketahui mampu menginfeksi dan mengendalikan otak tikus. Parasit tersebut dipercaya bisa memanipulasi perilaku hewan pengerat tersebut dan membuatnya tidak takut walaupun berada di sekitar kucing. Bahkan tikus yang terinfeksi toxoplasmosa gondii memiliki keberanian untuk mendekati kucing pemangsanya. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi daya tarik para ilmuwan untuk mengembangkan penemuannya itu dan menjadikan tikus sebagai percobaan karena dianggap memiliki kemiripan otak dengan manusia.

Manusia memang diyakini memiliki versi parasit yang tidak aktif pada otak, berbentuk kista yang tidak berbahaya. Akan tetapi, bagi beberapa orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, parasit tersebut bisa mengambil alih kinerja otak. Seperti yang terlihat pada pasien dengan kecenderungan bunuh diri.

Menurut Wendy Ingham yang ikut terlibat dalam penelitian penemuan parasit toxoplasmosa ini memberikan peringatan jika parasit tersebut akan sangat berbahaya jika sudah aktif dalam otak manusia. Salah seorang professor virology di University of Reading, Dr. Ben Neuman juga mengatakan bahwa dirinya percaya jika virus seperti rabies bisa berevolusi dan mengatur umat manusia.

Prof. Dr. Ben Neuman mengatakan jika ada parasit di luar sana yang hampir punya kemampuan memunculkan fenomena zombie dalam dunia nyata. Salah satu contoh yang Prof. Dr. Ben paparkan adalah kasus rabies yang mampu mengubah perilaku anjing. Penyakit tersebut nyatanya ditransmisikan melalui gigitan yang mengarah kepada kegilaan dan kejang-kejang.

Meskipun virus penyebab fenomena zombie ini dianggap ada, tetapi bukan berarti setiap wabah atau virus yang menyerang bisa dianggap sebagai wabah zombie, ya! Salah satunya mengenai virus corona yang mewabah di setiap negara dan menghabiskan jutaan korban. Pada kenyataannya corona bukanlah penyakit mematikan yang bisa mengubah manusia menjadi zombie. Beredarnya berita corona yang merupakan dampak dari serangan zombie merupakan salah satu berita bohong dan tak layak untuk dipercayai. Seperti yang sudah banyak diberitakan dalam televisi, kenyatannya setiap korban meninggal akibat virus corona semuanya berada dalam keadaan aman saat prosesi pemakaman bahkan pada hari-hari setelahnya. Hal tersebut membuktikan bahwa mayat korban tertular virus corona tidak mengalami ‘hidup’ kembali seperti yang terjadi pada zombie.

Sebagaimana klaim yang dilakukan oleh Pemerintah Negeri Jiran beberapa waktu lalu yang menyebutkan bahwa penyakit mematikan itu (corona) tidak akan menyebabkan korban bertindak seperti zombie. Kementerian Kesehatan Malaysia juga mengatakan: “Klaim orang yang terinfeksi virus ini akan berperilaku seperti zombie adalah tidak benar. Pasien dapat pulih.”

Jika saja wabah zombie memang ada, kemungkinan virus tersebut sudah masuk di Indonesia. Hal tersebut mengingat adanya virus corona yang sangat mudah menyebar meskipun protokol kesehatan telah diterapkan dengan ketat. Namun, tak usah terlalu panik karena para ilmuwan sendiri mengaku telah menemukan cara paling efektif untuk menghadapi zombie jika saja wabah tersebut memang ada seperti di film-film yang beredar.

Dalam salah satu tulisan di The Conversation, Profesor Mikroloi (Joanna Verran) dan Matthew Crossley dari Manchester, Inggris, menemukan cara-cara paling efektif untuk selamat dari serangan zombie yang dia sebut sebagai ‘zombieism’.

Dalam film, menurut Joanna dan Matthew, zombieism menyebar melalui kontak langsung beruba gigitan dari zombie. Seperti halnya rabies, zombieism sebenarnya menyebabkan orang yang terinfeksi menjadi liar dan menyerang individu yang tidak terinfeksi. Sehingga dari hal tersebut, Joanna dan Matthew memberikan dua langkah yang bisa dilakukan untuk menghentikannya.

Hal pertama adalah menemukan sumber infeksi zombieism. Poin ini sering dilewatkan pada film-film zombie yang telah tayang. Padahal, sumber infeksi merupakan hal yang menjadi pertimbangan utama. Sumber epidemik ini bisa ditemukan dengan mengkarantina salah satu korban infeksi walaupun pada akhirnya hal ini berisiko lebih besar. Namun demikian, langkah ini sangatlah baik dan dipercaya bisa menyelesaikan permasalahan lebih cepat. Jika sebagaian orang terkena serangan panik dan memilih bersembunyi di tempat aman, hal tersebut juga mungkin akan berakhir dengan hal yang lebih menyulitkan, sebab bila dibiarkan begitu saja epidemik akan berkembang dengan sendirinya. Dan hal itulah yang menjadikan masalah tidak akan selesai. Dan mungkin serangan zombie akan semakin meluas dan mencapai temat-tempat persembunyian yang dianggap aman. Karena itulah menurut Matthew dan Joanna, karantina salah satu korban infeksi menjadi salah satu langkah utama yang dapat dilakukan untuk menghadapi serangan zombie.

Matthew juga mengatakan jika selama karantina, kemungkinan para ilmuwan peneliti untuk menemukan vaksin penyembuh akan jadi lebih besar. Bukan hanya itu, sumber penyakit pun dapat ditemukan. Namun, jika melakukan karantina tidak berjalan dengan lancar, Joanna dan Matthew memiliki langkah yang lebih realistis, yaitu dengan meninggalkan dan menghancurkan lokasi terinfeksi.

Cara realistis ini memang harus diambil apabila ilmu pengetahuan tidak dapat membantu. Meskipun naluri akan mendorong rasa simpati agar tidak melakukannya, tetapi membunuh orang-orang yang terinfeksi dalam satu wilayah terdampak merupakan hal yang harus dilakukan setelah cara pertama gagal. Memang langkah ini seperti adegan dalam film, tapi menurut Matthew bisa saja jadi kenyataan. Sebab tidak ada yang menggaransi sumber epidemik masih ada atau sudah lenyap. Jika melakukan hal ini dapat membunuh seluruh zombie, maka ini dapat dikatakan sebagai cara yang paling tepat.

Menurut Joanna dan Matthew  jika zombieism ini benar-benar terjadi, tidak mungkin pencegahan dan perlawanannya sesuai seperti yang digambarkan dalam film. Maka dari itu, kedua langkah ini dapat dilakukan secara bergilir jika umat manusia memang benar-benar memperhatikan siklus penyebaran virus.

Jika memang ada wabah zombie di Indonesia, dua cara penyelamatan ini mungkin juga akan dilakukan oleh beberapa kelompok yang memiliki keberanian yang tinggi. Akan lebih baik lagi jika orang-orang yang memiliki kuasa dan kewajiban melindungi kalayak ramai turut melakukan tindakan cepat untuk mengatasinya. Untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar, melakukan tindakan penuh risiko memang harus dicoba. Jika tidak, mungkin saja semua manusia akan punah dalam kurun waktu yang cepat. Nah, mulai sekarang saat kamu menonton film zombie, coba bayangkan tindakan yang bisa kamu lakukan jika terjadi serangan zombie! Namun demikian, berharaplah agar wabah mengerikan ini tidak menyerang dunia, ya! Cukup dalam film saja zombieism melakukan penyerangan, dan tidak untuk dunia yang sesungguhnya.